Gandeng US-CPSC, Kemendag Tingkatkan Kualitas SDM
JAKARTA – Kementerian Perdagangan (Kemendag) menggandeng Komisi Keamanan Produk Amerika Serikat (US-CPSC) dalam upaya peningkatan sumber daya manusia (SDM). Kerjasama juga dilakukan untuk kebutuhan pertukaran informasi.
Langkah kerja sama tersebut merupakan tindak lanjut penandatanganan MoU tentang keamanan produk antara Direktorat Jenderal Perlindungan Konsumen dan Tertib Niaga (PKTN) Kemendag dan US-CPSC di Jakarta pada 15 Desember 2017 lalu. Kerjasama tersebut akan berlangsung hingga 2019 mendatang.
“Kunjungan ini merupakan bentuk komitmen Kemendag dalam meningkatkan keamanan produk serta perlindungan terhadap konsumen, sehingga diharapkan produk-produk yang beredar di pasar Indonesia terjamin mutunya. Selain itu, produk-produk Indonesia juga diharapkan dapat memenuhi ketentuan mutu di pasar AS,” kata Direktur Jenderal PKTN Syahrul Mamma, Selasa (13/2/2018).
Kerja sama tersebut bertujuan untuk mengurangi risiko cidera dan kematian akibat penggunaan atau konsumsi produk oleh konsumen, baik di Indonesia maupun di AS. US-CPSC merupakan badan federal AS yang bertugas melindungi masyarakat dari risiko cidera dan kematian yang tidak diinginkan akibat mengonsumsi suatu produk.
Dalam pertemuan kali ini, Delegasi Kemendag dan US-CPSC membahas berbagai mekanisme pengawasan yang berlaku di AS, termasuk tata cara pengawasan pasar dan impor. Kedua pihak juga mengunjungi lapangan untuk melihat pelaksanaan pengawasan di tingkat ritel dan mengunjungi pusat uji produk AS yaitu National Product Testing and Evaluation Center.
Selain bertemu dengan US-CPSC, dalam kunjungan kali ini Delegasi Kemendag juga menghadiri pertemuan dengan Asosiasi Distributor dan Peritel Alas Kaki AS (Footwear Distributors and Retailers of America/FDRA). FDRA mewakili 80 persen total penjualan sepatu di AS dan beranggotakan lebih dari 130 perusahaan yang memasarkan 250 merek sepatu.
“AS merupakan pasar penting bagi ekspor alas kaki Indonesia dengan nilai sebesar 1,22 miliar dolar AS atau sekitar 7,5 persen dari total ekspor nonmigas Indonesia pada Januari-November 2017,” kata Syahrul.
Atase Perdagangan untuk Washington DC Reza Pahlevi Chairul menambahkan, ekspor alas kaki Indonesia ke AS masih berpotensi untuk terus tumbuh. Indonesia menempati urutan ketiga negara asal importasi sepatu ke pasar AS, dengan porsi empat persen dari total 2,5 miliar pasang sepatu yang diimpor setiap tahun.
“Masih terdapat potensi peningkatan ekspor produk sepatu Indonesia ke pasar AS. Harga, inovasi, dan desain menjadi faktor kunci pasar sepatu AS,” ungkap Reza.
Perusahaan sepatu AS, menurut Reza, melakukan offshore sumber sepatunya ke negara-negara dengan upah buruh yang kompetitif, termasuk ke Indonesia. Dengan peluang tersebut, pihaknya akan terus menjajaki kerja sama dengan FDRA terkait dengan produksi sepatu yang berkualitas melalui desain, pemasaran, dan distribusi di pasar AS.
Dalam pertemuan dengan FDRA ini, kedua pihak membahas berbagai hal mulai dari produk sepatu Indonesia sampai penerapan standar dan persyaratan teknis yang berlaku di AS. Pembahasan bertujuan untuk menggali informasi yang dapat membantu mengembangkan kualitas produk alas kaki Indonesia, sehingga dapat memenuhi persyaratan ekspor, khususnya ke AS.
FDRA menggambarkan, peraturan untuk mengimpor sepatu anak lebih ketat dari sepatu dewasa. Terutama untuk pemantauan kandungan logam berat dan ftalat pada sepatu anak. Untuk persyaratan ini, Pemerintah AS secara rutin melakukan pengawasan dan penarikan terhadap produk yang tidak memenuhi persyaratan.
Berdasar data US Department of Commerce, total ekspor nonmigas Indonesia ke AS pada periode Januari-November 2017 tercatat 17,8 miliar dolar AS atau meningkat lima persen dibandingkan periode yang sama di 2016. Produk utama ekspor Indonesia meliputi pakaian, pakaian bahan rajutan, karet alam, ikan dan produk perikanan, alas kaki, serta CPO dan turunannya. Secara global, AS menempati peringkat kedua pasar tujuan ekspor terbesar Indonesia. (Ant)