Cuaca Buruk Membuat Penghasilan Pencari Kerang Legundi Menurun

Editor: Irvan Syafari

LAMPUNG — Cuaca buruk dengan terjadinya gelombang tinggi dan angin kencang yang masih menerjang wilayah pesisir Lampung Timur, berimbas pada proses pencarian kerang bulu dan budi daya kerang hijau, yang dilakukan oleh nelayan Desa Legundi Kecamatan Ketapang Kabupaten Lampung Selatan.

Handayani (45), salah satu pengepul kerang bulu menyebut sebulan sebelumnya saat kondisi cuaca membaik penghasilan masyarakat nelayan pencari kerang bulu cukup menjanjikan. Namun dampak gelombang tinggi membuat hasil pencarian kerang bulu menurun.

Menurut dia dalam sehari pencari kerang di Pantai Agro, Desa Legundi berjumlah sekitar 15 hingga 20 orang. Namun dengan gelombang tinggi yang masih menerjang hanya sejumlah nelayan yang masih bertahan mencari kerang bulu.

Permintaan yang tinggi akan makanan laut (seafood) jenis kerang pada sejumlah usaha kuliner diakuinya, menjadi sumber penghasilan para pencari kerang di wilayah tersebut.

“Para pencari kerang bulu yang masih bertahan rata rata warga yang tinggal di sekitar desa Legundi sementara pada kondisi laut tenang dari beberapa desa lain ikut mencari kerang untuk dikonsumsi sendiri atau dijual ke pengepul,” terang Handayani kepada Cendana News, Senin (5/2/2018)

Sejak dua pekan terakhir Handayani menyebut hanya mampu mengumpulkan kerang dari warga pencari kerang dengan jumlah sebanyak 50 hingga 100 kilogram kerang bulu, kerang kampak dan kerang putih.

Jenis kerang tersebut saat kondisi cuaca normal dengan pencari kerang bisa mencapai puluhan orang bisa dikumpulkan sebanyak 200 hingga 300 kilogram bahkan pada saat puncak musim kerang bulu muncul pasokan untuk pengepul kerang bulu bisa mencapai satu ton untuk dijual kembali dalam kondisi sudah terkupas.

Kerang bulu mempunyai habitat di di pasir berlumpur di dekat Pulau Suling. Kawasan itu mempunyai penghalang alami dari gelombang laut pesisir Timur. Untuk mencarinya, Handayani menggunakan serok dan keranjang berpelampung disertai tonggak.

Saat kondisi air laut surut dengan ketinggian air laut hanya mencapai sepinggang orang dewasa, pencari kerang bisa berjumlah lebih dari 30 orang dengan rata rata per orang dalam sehari bisa mengumpulkan sebanyak 50 kilogram.

Para pencari kerang bulu disebutnya dalam satu keranjang bisa mengumpulkan sekitar 20 hingga 30 kilogram kerang pada pencarian sejak siang selanjutnya dipinggirkan untuk ditampung ke pengepul setelah itu proses pencarian dilanjutkan hingga sore hari. Keberadaan para pengepul diakuinya sebagian merupakan pemasok kerang bulu yang akan dijual ke pasar ikan serta pesanan rumah makan penyedia menu makanan laut salah satunya kerang.

“Keuntungan lokasi yang dekat dengan jalan nasional banyak masyarakat bisa langsung bertransaksi langsung membeli kerang bulu yang dipinggirkan sehingga masih dalam kondisi segar,”beber Handayani.

Selain pelanggan tetap sejumlah rumah makan kerang bulu pada masa puncak perkembangan sekitar bulan Maret hingga Juni disebutnya kerap ditampung pengepul besar dengan penjualan kerang dalam kondisi sudah tidak bercangkang. Harga jual kerang di pencari kerang yang dibeli Rp5.000 perkilogram di tingkat pengepul dibeli dengan harga Rp8.000 dan saat kondisi sudah dikupas melalui perebusan bisa dijual dengan harga Rp12.000 hingga Rp15.000 perkilogram.

Ahmad (39),salah satu pencari kerang bulu menyebut gelombang tinggi bahkan membuat sejumlah pencari kerang sempat berhenti mencari kerang selama hampir sepekan dan mulai kembali ke laut sejak beberapa hari terakhir meski hasil perolehan kerang belum maksimal.  Pada pekan ini, dalam sehari dirinya hanya maksimal memperoleh sekitar 40 kilogram kerang dengan harga jual Rp5000 per kilogram. Dari jerih payahnya,  dia bisa memperoleh uang sebesar Rp200.000 per hari.

Selain mencari kerang bulu,kerang putih sebagian warga Legundi seperti Ahmad juga memanfaatkan pesisir Pantai Agro sebagai lokasi budidaya kerang hijau dengan memanfaatkan ban kendaraan roda dua dan roda empat bekas sebagai tempat budi daya kerang hijau. Meski demikian gelombang tinggi dan cuaca kencang membuat sejumlah tonggak budidaya tercabut dan terseret arus.

“Masa panen sebetulnya selama tujuh bulan sekali namun ada beberapa yang sudah bisa dipanen dan sekaligus memperbaiki tonggak yang hanyut saya juga memanen kerang hijau meski jumlah tak banyak,” beber Ahmad.

Selain menggantungkan hasil pencarian kerang bulu yang dicari dari proses penyerokan menggunakan alat khusus dan budidaya kerang hijau sebagian nelayan di Desa Legundi disebut Ahmad juga mengembangkan budidaya rumput laut jenis spinosum atau rumput laut alam yang menjadi sumber penghasilan bagi nelayan di wilayah tersebut.

Gunawan (39) warga Ketapang yang ingin menikmati olahan kerang bulu dan kerang hijau mengaku kerang hijau yang di pasar bisa dibeli dengan harga mencapai Rp15.000 per kilogram diakuinya bisa dibeli dengan harga Rp8.000 per kilogram selain itu dirinya juga bisa membeli jenis kerang bulu yang akan diolah menjadi kerang hijau saus tiram dan sebagian cukup direbus untuk dinikmati bersama saos kecap.

Kerang bulu hasil proses pencarian nelayan pantai agro Desa Legundi -Foto: Henk Widi.
Lihat juga...