Bank Sampah di Bali Hasilkan Produk Daur Ulang Kualitas Ekspor
DENPASAR – Pemerintah Kota Denpasar, Bali, gencar melakukan kebersihan, termasuk dalam penanganan sampah organik dan anorganik milik industri, maupun warga masyarakat dengan memanfaatkan bank sampah.
Pendiri bank sampah Garuda Wastu Lestari (GWL) Denpasar, Ni Wayan Riawati, mengatakan, dengan keberadaan bank sampah, maka sampah-sampah rumah tangga dan industri akan bisa dilayani dan diproses menjadi pupuk dan plastiknya dikumpulkan untuk daur ulang.
Ia mengatakan, sampah anorganik tidak bisa terurai secara alami, tetapi perlu tindakan manusia untuk mengolahnya, yaitu dengan mendaur ulang sampah tersebut, salah satunya adalah sampah plastik atau dikenal dengan limbah plastik.
Menurut dia, bank sampah selain sebagai penyelamat lingkungan juga ada konsep menabung. Di bank sampah para nasabah menyetor sampah, terutama sampah plastik, dan akan mendapatkan uang sesuai dengan nilai sampah yang mereka tukarkan.
“Sampah akan ditimbang dan ditaksir nilainya sesuai harga di pasaran atau pengepul, kemudian nilai uang itu yang akan dimasukan ke rekening nasabah,” ujarnya, Rabu (7/2/2018).
Riawati juga menjelaskan, komoditasi pada bank itu bukan uang, melainkan sampah. Ada pun produk sampah dari rumah tangga bisa dimanfaatkan untuk ditabungkan ke bank sampah setelah selesai dipilah. Di mana bank sampah sudah memiliki kriteria sampah yang bernilai, di antaranya kertas, botol dan kantong plastik, bungkus mie instan dan minuman, serta besi.
Selain itu, kata dia, sampah plastik yang telah ditabung di bank sampah diolah kembali menjadi sebuah kerajinan yang bernilai ekonomi dan bermanfaat, serta sudah bisa diekspor ke luar negeri seperti kerajinan daur ulang dari bahan baku sampah yang dihasilkan nasabah bank sampah GWL Denpasar yang diminati warga Swis.
“Produk bank sampah itu bukan berarti tidak bernilai, karena kami menciptakan kerajinan dan berkualitas tinggi, sehingga pemakainya tidak merasa minder atau malu. Buktinya, warga Switzerland (Swis) menyukai,” ujarnya.
Ia menjelaskan, perajin bahan daur ulang ini memanfaatkan plastik kemasan kopi dan beraneka minuman tuang, yang mengandung aluminium foil. Barang-barang yang diproduksi antara lain tempat pensil, tas dan trendy bag untuk ibu-ibu jika hendak berbelanja di pasar.
Harga untuk barang kerajinan daur ulang ini sangat bervariasi, mulai dari Rp20 ribu hingga ratusan ribu rupiah. Harga ini tergantung jenis barang kerajinan.\
“Harga produk yang kami tawarkan bermacam-macam, kalau tempat pensil berkisaran Rp20 ribu hingga Rp35 ribu, travel bag, harganya mencapai Rp700 ribu, karena banyak memerlukan bahan dan lamanya waktu pengerjaan,” katanya. (Ant)