Ada 41 Penderita Baru HIV/AIDS di Lebak

Ilustrasi - Dok: CDN

LEBAK – Kasus Human Immuno Deficiency Virus (HIV) dan Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS) baru ditemukan di Lebak Banten. Dari catatan Dinas Kesehatan setempat, ditemukan sebanyak 41 penderita baru di 2017.

Kepala Bidang Pencegahan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan Dinas Kesehatan Kabupaten Lebak dr Firman Rahmatullah di Lebak mengatakan, penyebaran penyakit HIV/AIDS perlu dilakukan pencegahan secara komprehensif. Usahanya dilakukan dengan melibatkan berbagai elemen masyarakat, pemerintah daerah, termasuk media.

“Penyebaran HIV/AIDS mengancam generasi bangsa dari sisi kualitas kehidupan mereka yang terpapar menjadi tidak produktif. Sebab, jika positif menderita HIV/AIDS bisa menimbulkan kematian karena hingga kini belum ditemukan obatnya,” tandasnya.

Pemerintah daerah disebutnya, terus berupaya melakukan pencegahan agar penyakit menular tersebut tidak menyebar ke warga lainnya. Pencegahan dilakukan dengan mengoptimalkan sosialisasi ke sekolah-sekolah, perguruan tinggi hingga organisasi kemasyarakatan. “Kami menerima laporan kasus baru yang ditemukan positif HIV/AIDS tercatat 41 orang dan mereka kebanyakan usia produktif,” ujarnya.

Menurut Firman, jumlah penderita HIV/AIDS dari tahun ke tahun terus meningkat. Jika diakumulasikan jumlahnya terhitung antara 2006 hingga 2017 mencapai sebanyak 150 orang dimana 96 orang diantaranya sudah meninggal dunia.

Sebagian besar penderita teridentifikasi ibu rumah tangga yang tertular dari suaminya yang terlebih dahulu positif HIV/AIDS. Penyebaran penderita HIV/AIDS karena ditularkan melalui jarum suntik, narkoba, dan hubungan seks bebas.

Selain itu, terjadi transfusi darah dari penderita yang positif terkena virus HIV/AIDS kepada orang yang negatif. Begitu juga bayi yang menyusui dari ibunya yang positif penyakit HIV/AIDS. “Kami minta peran serta tokoh agama, keluarga dan masyarakat bisa mencegah penyebaran penyakit yang mematikan itu,” ujarnya.

Kepala Bagian Humas RSUD Adjidarmo Rangkasbitung Budi Kuswandi mengatakan semua penderita HIV/AIDS mendapat pengobatan Anti Retro Viral (ARV) yang diberikan gratis melalui bantuan pemerintah. Terapi tersebut dilakukan secara terus-menerus agar efektif. Pengobatan terapi ART tidak dapat menyembuhkan HIV, namun dapat mempertahankan hidup penderita menjadi lebih lama.

Sebelumnya, obat ART sulit ditemukan dan harganya sangat mahal. Namun, saat ini pengobatan ART digratiskan oleh pemerintah melalui rumah sakit rujukan ARV. “Saya kira melalui pengobatan gratis itu tentu dapat meningkatkan kualitas penderita agar bisa bertahan hidup,” katanya.

Di 2018 RSUD Adjidarmo memprogramkan seluruh ibu hamil untuk dicek HIV/AIDS dan Hepatitis. “Kami minta penderita juga harus tepat waktu dalam mengkonsumsi obat ARV,” pungkasnya. (Ant)

Lihat juga...