Tukang Kayu Dukung Gerakan Kampung Literasi
LAMPUNG – Keberadaan panglong atau tempat penggergajian kayu dengan jumlah sekitar 20 orang sekaligus tukang kayu di Desa Pasuruan Kecamatan Penengahan, memberi ide bagi Sugeng Hariyono (33) untuk memanfaatkan limbah sisa gergajian (sebitan) untuk pembuatan rak buku.
Ia menyebut, awalnya hanya membawa contoh satu unit rak buku berukuran 30 x 25 sentimeter dengan bahan sengon ke panglong milik Budi di dekat rumahnya.
Beruntung niat untuk menciptakan kampung literasi dengan konsep satu rumah satu perpustakaan dengan bahan kayu sebagai rak buku mendapat dukungan dari panglong kayu tanpa harus membayar dalam pembuatan rak buku dengan biaya sekitar Rp30.000 per buah.

“Awalnya saya hanya berniat meminta tolong untuk dibuatkan rak buku dan akan saya bagikan ke sejumlah delapan dusun di Desa Pasuruan sehingga setiap rumah memiliki rak buku agar anak-anak bisa membaca. Namun justru didukung sejumlah tukang kayu,” terang Sugeng Hariyono selaku penggagas kampung literasi Desa Pasuruan, saat ditemui Cendana News, Kamis (25/1/2018).
Sebanyak 100 rak buku disebutnya dibuat oleh panglong milik Budi dan beberapa tukang kayu di desa tersebut di antaranya di Dusun Jatibening, Dusun Jatisari dan beberapa dusun yang rata-rata memiliki lebih dari satu tukang kayu.

Sugeng Hariyono menyebut, berdasarkan data Desa Pasuruan dengan jumlah sebanyak 1.500 kepala keluarga ia mengaku masih memiliki target menyediakan rak buku bagi seluruh warga di desa tersebut.
Kebutuhan buku didukung penyediaan buku sebanyak 4.000 buku, sebagian merupakan bantuan dari beberapa donatur untuk dirinya sebagai penggagas Motor Pustaka.
Bantuan dari tukang kayu dalam membuat rak buku juga dilakukan oleh Syarifudin yang ikut membantu Sugeng dalam membuat sejumlah rak buku terbuat dari kayu mahoni dan medang yang sebagian merupakan limbah gergajian. Biasanya hanya dipergunakan sebagai kayu bakar.

“Setiap tukang kayu di masing-masing dusun menyediakan rak buku untuk dusunnya sehingga saya tinggal menyediakan buku yang berganti setiap pekan di setiap rumah,” beber Sugeng Hariyono.
Kampung literasi sekaligus didukung dengan keberadaan perpustakaan desa yang diberi nama Midang Belajar dengan arti belajar dan bermain. Perpustakaan yang disediakan dengan ratusan buku sekaligus dilengkapi dengan komputer tersebut, menjadi salah satu rujukan bagi anak-anak di desa tersebut untuk membaca buku seiring dengan makin maraknya anak-anak yang lebih memilih gawai dibanding membaca buku.
Selain menyediakan buku, konsep kampung literasi juga menghidupkan sejumlah permainan tradisional anak-anak yang benilai edukasi di antaranya congklak, egrang, das-dasan, gobak sodor dan permainan lain yang melatih fisik. Serta bernilai pelajaran sehingga anak-anak di desa tersebut tidak kecanduan gawai.
Kegiatan tersebut menjadi salah satu cara menjauhkan anak-anak dari kebiasaan bermain gawai sehingga anak-anak enggan bersosialisasi dengan rekan-rekan sebaya.
Sugeng Hariyono menyebut, sebagai sebuah percontohan ia berharap, kampung literasi di Desa Pasuruan bisa dicontoh oleh desa-desa lain dengan penyediaan buku bacaan yang disediakan di setiap rumah.
Selain menggencarkan gerakan literasi di desa-desa Sugeng juga mulai menggencarkan gerakan literasi sekolah pasca memperoleh bantuan armada motor perpustakaan keliling dari Perpustakaan Nasional. Bantuan motor tersebut mampu menjangkau sejumlah sekolah di tempat terpencil sehingga siswa mendapat buku bacaan bermutu.
