Tersesat Kata-kata, Terjebak Judul Berita

OLEH REZHA NATA SUHANDI

Demokrasi seharusnya memberikan ruang pada keterbukaan informasi. Keterbukaan informasi menjadi suatu hal yang fundamental pada penerapan nilai demokrasi. Pada hakekatnya, demokrasi yang memuja kebebasan untuk berpendapat, seharusnya memiliki keselarasan pada penerimaan informasi melalui media publik secara umum.

Namun ada gejala yang menjadi tabir gelap dalam ruang informasi publik di Indonesia. Yakni, penyesatan judul berita yang terkadang tak sesuai dengan konten atau isinya.

Dalam dunia digital kita mengenal clickbait yakni sebuah istilah untuk konten web yang hanya bertujuan mendapatkan viewer atau pembaca, tanpa mempedulikan kualitas dan akurasi konten yang disajikan. Biasanya penganut clickbait bergantung pada judul yang sensasional dan memprovokasi atau cuplikan gambar yang mendorong orang untuk melakukan click atau memilih konten tersebut untuk dilihat.

Clickbait dilakukan untuk mengejar keuntungan dari tayangan dan iklan. Jadi semakin banyak viewer yang mengunjungi halaman tersebut melalui proses klik atau memilih, maka semakin banyak pula keuntungan yang diperoleh oleh si pemilik halaman atau web. Atas hal tersebut, banyak pemilik halaman web yang berlomba-lomba menyajikan judul berita sensasional tetapi ketika kita membaca, sebenarnya antara isi dan judul kurang memiliki korelasi atau bahkan tidak berhubungan sama sekali.

Hal tersebut tidak lepas dari masuknya kapitalisme modal dalam penerapan nilai demokrasi. Mengejar keuntungan sebanyak mungkin dengan mengorbankan kualitas juga kebenaran adalah ciri terselubung dari kapitalisme. Tidak bisa tidak, kita harus mengakui, manusia Indonesia sudah tergiring untuk menjadi kapitalis pengejar keuntungan. Mereka yang menjadi muara informasi sudah sepatutnya bertanggung jawab dalam hal tersebut.

Judul berita seringkali menjebak kita pada sebuah paradigma atau pandangan sempit mengenai suatu hal yang seolah menjadi konten pembahasan pada suatu berita. Karena judul yang sensasional dan provokatif, biasanya orang dengan gampang menjadikan judul berita sebagai sebuah framing terhadap kejadian secara keseluruhan. Sehingga suatu kejadian yang dinarasikan dengan luas pada konten berita, bisa jadi, paradigma atau kerangka berpikirnya sudah tertangkap ketika membaca judul berita.

Hal tersebut juga nyatanya menjadi biang keladi kekacauan informasi pada era demokrasi. Keterbukaan informasi yang menjadi prinsip dasar demokrasi menjadi api pemicu dari sumbu-sumbu pendek para pembaca yang malas membaca. Ketika mereka menemui sebuah artikel berita dengan judul provokatif berkaitan dengan hal yang menyinggung secara prinsipil misalnya, tak ada keraguan mereka juga ikut membagikan berita tersebut, lalu kemudian menjadi viral di media sosial.

Padahal kualitas dan kebenaran informasi atau bacaan dari artikel tersebut belum tentu dapat dipertanggungjawabkan. Itu akibat dari framing melalui judul berita.

Kita juga sebenarnya tidak bisa sepenuhnya menyalahkan para pembuat judul berita dan pemilik halaman web yang mengejar keuntungan melalui judul-judul berita sensasional. Malah seharusnya sebagai pembaca, kita melakukan otokritik terhadap karakter dan sifat kita dalam membaca. Orang Indonesia terkenal malas membaca.

Bahkan badan dunia yang membidangi masalah pendidikan, UNESCO mengklaim jika minat baca orang Indonesia hanya 0,001%. Artinya dari 1000 orang, hanya 1 orang Indonesia yang suka membaca. Riset berbeda yang dilakukan oleh Central Connecticut State University pada Maret 2016 juga memiliki penilaian yang tidak kalah menyedihkan, bahwa Indonesia menduduki peringkat 2 terbawah dari 61 negara atau peringkat ke-60 berdasarkan minat baca warganya.

Maka tak heran demokrasi di negeri ini menjadi begitu kacau dan seperti tidak memiliki tatanan. Dalam era demokrasi, kualitas informasi itu merupakan hal yang penting, bukan kuantitas. Maka kecerdasan nalar dari penganut demokrasi harus dikedepankan. Jika kita mengejar kuantitas dibanding dengan kualitas, maka apa bedanya kita dengan tokoh fasisme seperti Hitler yang mengatakan, “Buatlah kebohongan, sederhanakan, tetap mengatakannya, dan akhirnya mereka akan percaya”.

Rezha Nata Suhandi, peneliti muda di Sang Gerilya Institute

 

Lihat juga...