Sri Mulyani: Pajak Kontributor Utama Penerimaan Negara
MALANG – Berbagai capaian positif di tahun 2017 yang lalu di bidang perekonomian diharapkan bisa terus dilanjutkan sekaligus ditingkatkan pada tahun 2018.
Harapan tersebut disampaikan Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati, ketika menyampaikan orasi ilmiah dalam acara Rapat Terbuka Senat Universitas Brawijaya (UB) di gedung Samantha Krida UB, Jumat (5/1/2018).
Menurut Sri Mulyani, capaian positif perekonomian 2017 tersebut tidak terlepas dari capaian pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang baik.
“Kami sangat bangga karena realisasi APBN 2017 menunjukkan pencapaian yang baik dari sisi pendapatan maupun belanja,” ujarnya.
Ia menyebutkan, defisit APBN di tabun 2017 sebesar 2,57 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Angka ini jauh lebih kecil dari UU APBN 2017 yang 2,92 persen dari PDB. Selain itu, rasio hutang pemerintah juga tetap berada di bawah 30 persen dari PDB.
Lebih lanjut, Sri Mulyani mengatakan, bahwasanya penerimaan negara di tahun 2017 mencapai Rp1.655, 8 triliun atau 95, 4 persen dari target. Perolehan pendapatan negara tersebut paling banyak diperoleh dari pajak.
“Perpajakan merupakan kontributor utama dari penerimaan negara yaitu Rp1. 339,8 triliun atau 81% dari total penerimaan negara,” terangnya.
Begitu pula dengan penerimaan pajak non migas. Jika tanpa memperhitungkan uang tebusan dari tax amnesti, mencapai pertumbuhan 12,1% dari tahun 2017.
Kemudian, realisasi penerimaan PPN mencapai 100, 6 persen dari target penerimaan. Bea cukai, bea masuk, Pabean, cukai dan bea keluar mencapai 101,105 dan 149 persen dari target yang ditetapkan APBN 2017.
Menurut Sri Mulyani, capaian-capaian yang sangat baik tersebut didukung oleh berbagai faktor di antaranya perbaikan dari cara kerja, dan pulihnya kinerja ekspor impor Indonesia juga turut membantu serta membaiknya harga komoditas di pasaran internasional. Serta efektivitas program direktorat jenderal bea dan cukai di dalam menertibkan importir dan cukai yang beresiko tinggi yang mulai dilaksanakan pada bulan Juli 2017.
“Kebetulan untuk di Malang ini ada dua Kanwil yakni kanwil direktorat bea cukai II dan kanwil direktorat jenderal pajak III yang dua-duanya memecahkan rekor penerimaan negara di atas 100 persen, ” sebutnya.
Sementara itu, penerimaan negara bukan pajak mencapai 118,5 persen dari target yang ditetapkan atau mengalami pertumbuhan 17,7 persen.
Hal ini disebabkan membaiknya harga komoditas di pasar internasional serta membaiknya kinerja Badan Usaha Milik Negara (BUMN) juga menyumbangkan penerimaan negara bukan pajak.
“Saat ini kita telah memasuki tahun 2018, berbagai raihan positif di tahun 2017 akan dilanjutkan dengan kerja keras pemerintah agar di tahun 2018, momentum perbaikan ekonomi dan kinerja APBN dapat lebih baik lagi,” ungkapnya.
Program pembangunan juga tetap akan difokuskan pada peningkatan kesejahteraan dan pengurangan kemiskinan yang diharapkan dapat dilakukan dengan lebih efektif.
Sementara itu, usai menyampaikan orasi ilmiahnya, Sri Mulyani berkesempatan untuk meresmikan Rumah Ramah Difabel UB. Dimana di tempat tersebut Universitas Brawijaya menyediakan berbagai fasilitas untuk mempermudah kegiatan bagi mahasiswa difabel.
