Sasak Maiq, dari Usaha Rumahan hingga Beromzet Ratusan Juta
LOMBOK BARAT – Produk dihasilkan bisa merambah pasaran secara luas, dengan keuntungan didapatkan menjanjikan, tentu menjadi harapan dan impian setiap pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM). Tidak kecuali bagi pelaku UMKM di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB).
Tapi, untuk bisa mencapainya, selain membutuhkan proses panjang dan promosi kencang, dari sisi kemasan dan kualitas produk juga tentu menjadi kekuatan utama supaya produk yang ditawarkan bisa banyak dilirik dan tembus pangsa pasar yang lebih luas.
Langkah itulah yang dilakukan Baiq Siti Suryani, Direktur Sasak Maiq Lombok, Dusun Penyanget, Desa Senteluk, Kabupaten Lombok Barat, yang menghasilkan aneka produk olahan dan camilan berbahan dasar padi, jagung dan rumput laut (pijar).

“Sasak Maiq awalnya hanya industri usaha rumahan kecil-kecilan, dengan cara pengolahan tradisional, tapi setelah mendapatkan pelatihan dan pembinaan dan inovasi, akhirnya secara perlahan bisa berkembang seperti sekarang” kata Suryani kepada Cendana News, Selasa (23/1/2018).
Dikatakan, selain cara pembuatan masih dilakukan tradisional, tanpa ditopang pengetahuan, dari sisi pemasaran juga terbatas, sehingga baik kualitas produk dihasilkan, pemasaran dan keuntungan didapatkan juga jauh dari harapan.
Sebagai usahan rumahan, kata Suryani, dengan segala keterbatasan, keuntungan didapatkan dalam satu bulan antara Rp500 ribu sampai Rp1 juta, sekarang setelah berinovasi dan berkembang, dalam satu bulan keuntungan didapatkan mencapai Rp100 juta.
“Dulu buat kerupuk juga pakai borak, setelah mendapatkan pelatihan, baru saya ketahui borak berbahaya dan sekarang tidak dipakai lagi”, katanya.
Salah satu produk unggulan Sasaq Maiq yang paling terkenal dan telah merambah pasaran, terutama pasar modern dalam dan luar daerah adalah produk olahan tortila berbahan dasar rumput laut dan jagung, sehingga ada tortila rasa rumput laut dan jagung.
Menurut Suryani, kalau berkunjung dan memasuki pasar modern, termasuk toko oleh-oleh produk olahan Sasak Maiq pasti akan ditemukan. Selain tortila, produk olahan lain dihasilkan juga kopi rumput laut, rengginang, stick rumput laut, terasi, abon dan rengginang rumput laut.
Di samping itu, salah satu keunggulan produk olahan dihasilkan Sasak Maiq seperti tortila dan stick rumput laut, semuanya tidak memakai bahan pewarna, misalkan stik, supaya warnanya merah, menggunakan cabai merah.
“Jadi, selain kemasan, kualitas produk benar-benar kita jaga untuk menjaga kepercayaan pelanggan, makanya dalam proses pengolahan pun benar-benar dilakukan pengawasan”, katanya.
Lebih lanjut, ia menambahkan, khusus produk olahan tortila, dalam sehari bisa menghabiskan 500 kilogram, setelah digoreng 700 kilogram, sementara stick bisa mencapai 50 kilogram dan dijual mentah maupun siap saji dengan bervariasi, mulai Rp15.000 sampai Rp20.000 per bungkus.
Sukarman, penanggung jawab Sasak Maiq yang juga suami Baiq Siti Suryani, mengatakan, sebagai salah satu daerah tujuan wisata, pengembangan produk UMKM, khususnya produk olahan memiliki prospek menjanjikan, karena banyak kunjungan wisatawan.
Terkait pemasaran, dirinya tidak memungkiri keinginan bisa tembus pasar luar negeri, karena dalam beberapa kesempatan produk olahan Sasak Maiq pernah juga ikut pameran di luar negeri seperti Inggris, tapi untuk saat ini dirinya bersama istri ingin fokus melakukan pemasaran di lokal dulu.
“Pemasarannya fokus lokal dan nasional saja dulu, karena di samping masih menjanjikan, kita juga bertujuan membuat produk unggulan daerah NTB bisa lebih terkenal”, katanya.
Untuk menghasilkan produk olahan dalam jumlah besar, Sasak Maiq mempekerjakan warga sekitar 19 orang sebagai karyawan, dari buta huruf sampai sarjana.