Pojok Baca, Cara SMPN 1 Kalianda Tumbuhkan Minat Baca Siswa
LAMPUNG — Banyak cara yang bisa dilakukan sekolah untuk menumbuhkan minat baca siswanya. Kelas VIII-8, SMPN 1 Kalianda Kabupaten Lampung Selatan membuat perpustakaan kelas atau perpustakaan mini.
Perpustakaan ini diletakkan di pojok menjadi pojok baca untuk para siswa di sela sela aktivitas belajar di kelas.
Menurut Woro Sulistyaningrum selaku wali kelas VIII-8 sekaligus guru Bimbingan Konseling upaya meningkatkan minat baca kepada siswa didukung oleh relawan literasi motor pustaka.
Salah satu tujuan membuat perpustakaan mini di kelas disebutnya dilakukan untuk mengurangi kegiatan siswa yang lebih menyukai gawai untuk bermain game online dibandingkan membaca buku. Salah satu cara para siswa diberi kesempatan meminjam buku dan diwajibkan membuat resume atau sinopsis dalam buku khusus.
“Kegiatan yang kami gagas berangkat dari keprihatinan saya sebagai wali kelas sekaligus guru konseling dengan menurunnya hasil nilai siswa pada semester ganjil, sehingga kita buat formula yang pas untuk meningkatkan minat baca siswa,” ujar Woro, Kamis (11/1/2018)
Kelas yang memiliki 34 murid ini sengaja dipilih sebagai percontohan hasil inisiatif dari wali kelas. Jumlah siswa SMPN 1 Kalianda saat ini sekitar 1.017 siswa. Mereka terbagi dalam 30 kelas dari kelas VII, VII dan IX.
Diharapkan kelas kelas lain juga akan menerapkan pembuatan perpustakaan mini di setiap kelas.
Woro menyebut upaya menumbuhkan minat baca dilakukan dengan melibatkan para siswa. Keterlibatan relawan literasi bisa menjadi semangat positif bagi siswa.
Saat ini terdapat satu rak buku dan selanjutnya akan ditambah dengan beberapa rak buku dan dukungan buku bacaan sekitar ratusan buku dari seorang relawan motor pustaka, Sugeng Hariyono yang datang ke sekolah membawa ratusan buku.
“Saya mengapresiasi peran aktif para siswa dan wali murid yang mendukung kegiatan positif membuat perpustakaan atau pojok baca di kelas,” terang Woro.
Terkait kegiatan siswa kelas VIII.8 tersebut relawan pustaka bergerak motor pustaka, Sugeng Hariyono menyebut membaca-menulis atau kegiatan literasi merupakan salah satu aktivitas penting dalam hidup terutama generasi muda.
Sebagian besar proses pendidikan bergantung pada kemampuan dan kesadaran literasi. Budaya literasi yang tertanam dalam diri peserta didik mempengaruhi tingkat keberhasilan baik di sekolah maupun dalam kehidupan bermasyarakat.
Melihat persoalan bangsa yang sedemikian krusial dalam hal kesadaran literasi dibutuhkan kerjasama banyak pihak untuk mengatasinya. Paling penting adalah adanya tindakan nyata yang bukan sekedar wacana semata.
Lanjut Sugeng dibutuhkan intervensi secara sistemik, masif, dan berkelanjutan untuk menumbuhkan budaya literasi masyarakat. Pendekatan yang dianggap paling efektif adalah penyadaran literasi sejak dini dengan melibatkan dunia pendidikan.
”Hal ini karena tidak dipungkiri hampir seluruh anak berstatus sebagai pelajar dan melalui proses pendidikan, sebuah program yang sistematik bisa masuk dengan efektif,” tutur Sugeng.
Ia mulai menawarkan aksi nyata perbaikan budaya literasi melalui sebuah program yang disebut gerakan literasi sekolah. Laki laki yang bekerja sebagai penambal ban itu menyebut gerakan literasi sekolah merupakan sebuah gerakan penyadaran literasi yang dimulai dari lembaga pendidikan.
Gerakan literasi sekolah mengajak semua pihak mulai dari sekolah, guru, siswa, pemerintah daerah sebagai pembuat kebijakan, yayasan penyelenggara pendidikan, sebagai pembuat kebijakan, pengelola perpustakaan, sebagai pusat kegiatan baca-tulis.
Selain itu ia mengharapkan keterlibatan perusahaan, sebagai penyumbang buku melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) perusahaan, serta media massa sebagai saluran informasi masyarakat.
Gerakan literasi sekolah merupakan sebuah program intervensi pembudayaan literasi yang tepat, mudah dilaksanakan, dilakukan secara sistemik, komprehensif, merata pada semua komponen sekolah, berkelanjutan, dan dikelola secara profesional oleh lembaga yang kredibel.
