Petani Terong di Kulonprogo Gagal Panen
YOGYAKARTA – Bulan Desember hingga Januari dikenal sebagai puncak musim hujan. Meski mulai dilewati, namun dampak puncak musim hujan hingga kini masih dirasakan para petani, khususnya petani sayur.
Tingginya curah hujan pada bulan Desember kemarin, mengakibatkan banyak tanaman sayuran milik petani rusak akibat terserang hama penyakit. Seperti dialami petani di pesisir selatan Yogyakarta, Kemino, di Desa Karangwuni, Wates, Kulonprogo.
Tanaman terong di lahan seluas kurang lebih 500 meter persegi miliknya mengalami gagal panen akibat terserang hama penyakit. Curah hujan yang tinggi juga membuat pertumbuhan tanaman melambat hingga menjadikan buah terong tidak tumbuh.
“Akibat hujan tiada henti, banyak tanaman saya terserang penyakit bule. Semacam jamur yang membuat batang dan daun menguning. Akibatnya pertumbuhan melambat dan buah tidak tumbuh,” katanya.
Kemino mengaku menanam terong sejak sekitar bulan Oktober lalu, dan baru tumbuh buah pada awal Januari, saat intensitas hujan mulai menurun. Pertumbuhan buah terong pun terlihat minim dan tidak maksimal atau kerdil.
“Ini termasuk gagal panen. Karena sudah tiga bulan lebih saya belum bisa panen. Sampai saat ini baru bisa panen beberapa kilo saja. Padahal, biasanya dengan lahan yang sama, saya bisa dapat hasil panen hingga 100 kilogram,” katanya.
Karena hasil yang didapat kurang maksimal, Kemino pun tidak dapat menjual hasil panen dari lahan kebun terongnya. Ia terpaksa hanya mengkonsumsi sendiri terong tersebut untuk persediaan makanan keluarga.
Ia harus lebih kecewa lagi, mengingat harga jual terong di tingkat petani saat ini cukup tinggi, mencapai Rp4.500 per kilogramnya, naik dari harga sebelumnya, Rp2500-3000 per kilogram.
“Baru kali ini saya mengalami gagal penen seperti saat ini. Biasanya, meski hujan turun dengan intensitas tinggi, tanaman tetap bisa tumbuh, karena berada di lahan pasir, sehingga minimal masih tetep untung,” katanya.