Petani Kalianda Aplikasikan Sistem Pertanian Digital

LAMPUNG – Penyediaan bibit berkualitas menjadi salah satu kunci keberhasilan usaha pertanian khususnya dalam bidang sayuran dan buah untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan sayuran dan buah segar.

Kondisi tersebut mendorong Sarwo Edi Santoso (38) salah satu petani di Dusun Bandaragung Kelurahan Way Lubuk Kecamatan Kalianda Lampung Selatan menerapkan sistem pertanian digital berbasis aplikasi android. Sistem tersebut diakuinya membuat bibit yang dihasilkan memiliki tingkat pertumbuhan, ketahanan penyakit dan hasil produksi yang memuaskan.

Sebagai mantan karyawan dari salah satu perusahaan kendaraan roda dua, Sarwo yang banting setir menekuni usaha pertanian tersebut menyebut, awalnya menyediakan bibit dengan sistem penggunaan polybag plastik dalam green house yang diberinya nama Green House Sarwo Farm.

Setelah hampir sepuluh tahun menjadi petani, dirinya mulai berpikir untuk menciptakan pola pembibitan modern berbasis aplikasi. Meski ide tersebut sulit terwujud akibat ketebatasan modal.

“Saya membuat green house sederhana dengan luasan sekitar dua puluh meter berbahan bambu, plastik, dan waring dengan sistem semai awal menggunakan polybag. Lalu menggunakan cocopeat untuk penyediaan bibit pada lahan pertanian saya,” terang Sarwo Edi Santoso, salah satu petani penanam berbagai jenis tanaman sayur dan buah di Dusun Bandaragung Kelurahan Way Lubuk Kecamatan Kalianda, saat ditemui Cendana News, belum lama ini.

Beruntung, ia menyebut, pada penghujung tahun 2017 hingga awal 2018, dirinya mendapatkan bantuan dari Habibi Garden yang merupakan alat yang menjadi solusi pertanian dan perkebunan modern Indonesia. Melalui teknologi digital yang merupakan kerja sama dengan pihak ketiga, dirinya bisa memberi nutrisi tanaman pada saat proses pembenihan hingga tanaman dipindah ke lahan berdasarkan kondisi tanah yang diambil.

Proses perawatan benih di green house dibantu dengan penggunaan sistem digital [Foto: Henk Widi]
Ia menyebut, sistem pertanian digital melalui aplikasi Habibi Garden merupakan kerja sama dengan Irsan Rajimin dan Dian Prasetyo bersama tim yang menciptakan aplikasi sistem pertanian digital tersebut.

Ia menyebut, awalnya sempat menolak sistem tersebut diaplikasikan pada pola pertanian miliknya, karena biaya yang sangat mahal untuk penyediaan sarana dan prasarana mulai dari green house lengkap dengan peralatan penyiraman air, nutrisi tanaman, lampu sinar ultra violet hingga perangkat lunak (software) yang nilainya mencapai ratusan juta.

“Semangat dari para penggagas Habibi Garden termasuk dukungan dari pihak ketiga bahkan oleh Dinas Pertanian dan Hortikultura Provinsi Lampung, membuat penerapan sistem pertanian digital tersebut juga dipercayakan pada saya,” beber Sarwo Edi.

Ia menyebut, sistem pertanian digital diterapkan pertama kali di Lampung dan menjadi yang kedua di Indonesia setelah diterapkan di Garut Jawa Barat. Keterbatasan biaya yang dimiliki  membuat ia menerima bantuan Corporate Social Responsibility (CSR) dari salah satu perusahaan operator telekomunikasi seluler di Indonesia selaku penyedia jaringan, Habibi Garden, Eragano, dan Gogo Farm yang memiliki kepedulian akan kemajuan petani di Indonesia.

Penerapan digitalisasi pertanian tersebut, menurut Sarwo Edi, menjadi tujuan dalam penyediaan bibit berkualitas dengan konsep solusi pintar bidang pertanian (Smart Agriculture Solution), sistem pengairan otomatis (Automatic Irrigation System), persemaian modern (Modern Nursery) dan akses pasar digital (Digital Market Acces).

Sistem tersebut diakui Sarwo Edi merupakan penerapan teknologi dalam pertanian berkelanjutan mulai dari pembenihan hingga pasca panen.

Cara Kerja Sistem Pertanian Digital

Sistem pertanian digital pada Sarwo Farm diakuinya diterapkan tahap awal pada tanaman cabai keriting dan tomat, mulai dari pembenihan pada green house yang dipantau melalui aplikasi pada telepon pintar yang merupakan aplikasi buatan Habibi Garden. Melalui telepon pintar tersebut, aplikasi yang terkoneksi dengan green house dalam sensor-sensor khusus terhubung dengan fasilitas penyiram air, penyiram nutrisi, dan lampu pertumbuhan.

Penggunaan pupuk dan pestisida alami dari limbah ternak dan tanaman organik [Foto: Henk Widi]
Dibantu sang isteri, Nurhayati (37) yang merupakan ketua Kelompok Wanita Tani (KWT) Dahlia, sistem tersebut dijalankan menggunakan sarana telepon pintar dengan dukungan internet dari perusahaan penyedia telekomunikasi seluler sehingga proses pemantauan green house yang dilengkapi dengan circuit closed television (CCTV) bisa dipantau bahkan kalaupun Sarwo dan sang isteri pergi ke luar negeri.

Ia menyebut, aplikasi dalam telepon pintar tersebut sudah dibekali alat pendeteksi cuaca (Habibi Cloud), alat pengontrol yang terkoneksi ke jaringan internet, dan disalurkan melalui sensor-sensor yang menginformasikan kondisi benih tanaman dan tanaman yang sudah dipindah ke lahan di antaranya tingkat kelembaban, intensitas cahaya, dan kondisi nutrisi tanaman serta kebutuhan air.

“Uniknya, pemberitahuan kebutuhan tanaman sangat riil, seperti tanaman tersebut berkomunikasi dengan manusia, semisal panas sekali cuaca ini sirami aku dong! Atau aku lapar tolong beri aku makan yang semua otomatis diberitahu melalui SMS,” terang Sarwo Edi.

Pengaplikasian pada benih cabai dan tomat disebutnya membuat nutrisi benih tanaman tersebut lebih baik. Bahkan dengan sistem penyinaran pertumbuhan benih yang umumnya disemai dan siap dipindah usia 25 hari. Berkat persemaian digital tersebut bisa ditanam meski baru berusia 15 hari. Benih yang disemai dalam media serbuk serabut kelapa (cocopeat) mampu diproduksi dalam green house  mencapai 22.000 benih.

Green House yang dikelola oleh Sarwo Farm penyedia benih tanaman sayur dan buah dikelola dengan sistem digital [Foto: Henk Widi]
Penyediaan benih untuk lahan seluas 4,5 hektar juga untuk memenuhi kebutuhan petani buah dan sayuran di wilayah tersebut yang kerap terkendala dalam penyediaan bibit berkualitas.

Ia menyebut, keberhasilan dalam usaha pertanian sayuran dan buah tak lepas dari bibit berkualitas sehingga penggunaan pertanian digital tersebut menjadi salah satu solusi. Melalui sistem digital tersebut benih yang dijual diakuinya per batang Rp350 atau per seribu batang seharga Rp350.000 bagi pengguna benih.

Benih yang sudah ditanam pada lahan, menurut Sarwo Edi, memiliki pola pertumbuhan yang baik dengan sistem penggunaan irigasi tetes dan obat-obatan organik dari kompos limbah pertanian dan urine ternak sapi serta kambing.

Pada lahan seluas satu hektar berdasarkan pengalaman cabai keriting yang bisa dipanen mencapai 20 ton hingga 22 ton. Aplikasi Habibi Garden diakuinya juga diterapkan di lahan melalui alat khusus dengan sensor bertenaga surya untuk mengetahui kelembaban, kebutuhan nutrisi serta kebutuhan tanaman lain yang terpantau melalui aplikasi.

Berkat kegigihannya sebagai penanam sayuran dan buah Pemerintah Provinsi Lampung melalui Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura juga telah memberikan surat keterangan registrasi terhadap usaha tanaman sayuran miliknya yang telah memenuhi persyaratan pedoman budidaya buah dan sayur yang baik berdasarkan PERMENTAN Nomor : 48/Permentan/OT.140/2009 dengan nomor registrasi nasional: GAP.01-18.01.535-II.016 untuk tanaman cabai merah. Sementara untuk tanaman usaha tanaman sayur miliknya juga memperoleh nomor registrasi nasional: GAP.01-18.01.664-II.060.

Selain mengembangkan pertanian digital berbasis aplikasi, Sarwo Edi menyebut, tidak pelit untuk menularkan ilmu sehingga ia kerap menggelar pelatihan dan menjadi pembicara dalam upaya peningkatan produktivitas sayuran dan buah.

Jenis tanaman yang telah dikembangkan diantara nya melon tanpa biji, melon apolo, selada, kol serta sayuran lain. Dirinya siap merambah bisnis bunga dengan adanya green house yang lebih memadai.

Benih tanaman cabai mempergunakan media semai cocopeat dipantau dengan sistem digital [Foto: Henk Widi]
Lihat juga...