Pesan Humanisme dalam Lukisan Geneviève Couteau
JAKARTA – Tak terpikir sebelumnya, Jean Couteau akan memamerkan lukisan karya Geneviève Couteau, ibunya. Tapi, seiring berjalannya waktu, apalagi Jean melakoni profesinya sebagai penulis dan sering juga menulis seni rupa, pada akhirnya memamerkan lukisan karya pelukis terkemuka di Paris yang meraih piagam bergengsi Prix Lafont Noir et Blanc (1952).
Pameran yang berlangsung dari tanggal 25 Januari sampai 14 Februari 2018 itu menyampaikan pesan tentang humanisme. Pameran ini juga menjadi sarana untuk memperkenalkan karya-karya Geneviève Couteau yang datang ke Asia pada 1960-an, sekaligus menjadi diskursus konstruksi sejarah seni rupa Asia, khususnya Bali.

“Ini adalah pameran lukisan dari karya Geneviève Couteau, ibu saya kira-kira 40 tahun yang lalu, pada waktu dia datang ke Indonesia,“ tutur Jean Couteau kepada Cendana News, di Pameran ‘Lukisan Geneviève Couteau: The Orient and Beyond’, di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta Pusat, beberapa waktu yang lalu.
Lebih lanjut, kurator dan kritikus seni rupa tersohor asal Perancis itu menerangkan, bahwa sebelum ke Indonesia, dia datang ke Laos pada 1968. Waktu itu masih perang di sana. “Sebelumnya, dia memang sudah singgah ke Bali,“ terang penulis berbagai hal yang berkaitan dengan kesenian, sosial dan budaya.
Menurut Jean Couteau, baru pada 1975 ia bersama ibunya datang ke Ubud, Bali. “Dia bikin sketsa. Ia biasa lakukan itu kalau pergi bikin sketsa. Dia suka bikin sketsa, tapi tidak dipamerkan. Kemudian dia banyak membuat lukisan di Bali,“ kenangnya.
Yang dipamerkan lukisan yang dibuat di seputar Bali dan Laos. “Ada potret, ada figurasi magis, ada dunia imajinaner dalam bentuk pastel,“ ungkapnya.
Kalau lukisan biksu adalah lukisan saat Geneviève Couteau di Laos atas undangan Pangeran Souphanna Phouma. “Dia masuk ke kerajaannya dan banyak membuat lukisan di sana,“ paparnya.
Geneviève Couteau membuat lukisan lama. Alirannya tahun 1970-an yang disebut kritikus seni rupa, aliran realisme magis. “Kita bisa lihat dari sudut teknis amat canggih sebenarnya, dari garis maupun pelapisan warna, bukan spontanitas yang sering didapat pelukis sekarang ini,“ bebernya.
Lukisan Geneviève Couteau banyak yang tersimpan dari para kolektor di Perancis dan ada juga yang dipegang oleh keluarga. “Lukisannya tidak terlalu dikomersilkan, tapi selektif sekali. Dia pelukis profesional,“ katanya.
Ketika ditanya, Geneviève Couteau, ibunya adalah pelukis profesional. Lalu, bagaimana dengan Anda, apakah menuruni banyak lukisnya? Dengan tenang, Jean Couteau menjawab, “Justru saya tidak bisa masuk ke workshop lukisan ibu saya, karena tidak diizinkan ibu saya sewaktu kecil. Jadi, saya tidak jadi pelukis, tapi penulis seni rupa”.
Tak terpikir sebelumnya, Jean Couteau memamerkan lukisan ibunya yang menjadi sarana untuk memperkenalkan karya-karyanya yang datang ke Asia pada akhir 1960-an, sekaligus menjadi diskursus mengenai konstruksi sejarah seni rupa Asia, khususnya Bali.
“Saya sebagai penulis seni rupa, kenapa tidak memamerkan lukisan ibu saya? Jadi, inilah juga yang jadi salah satu alasan untuk memamerkan lukisan karya ibu saya,” tegasnya.
Pameran lukisan Geneviève Couteau mendapat sambutan baik dari masyarakat. Apalagi, sebelumnya ada simposium bertajuk ‘Pasca Orientalisme dan Masalah Apropiasi Budaya’ yang menghadirkan kalangan budayawan, seniman, dan akademisi Indonesia, yaitu budayawan Anak Agung Rai, Prof. Dr. Bambang Sugiharto, seniman Eddy Soetriyono, sutradara Garin Nugroho, budayawan Goenawan Mohammad, Prof. I Gede Arya Sugiharta, sastrawan Radhar Panca Dahana, budayawan Taufik Rahzen, dan seniman Wayan Kun Adnyana, dengan moderator sastrawan Nirwan Dewanto.
“Simposium tersebut digelar sebagai pelengkap dari pameran lukisan ini,“ tandasnya.