Pembuat Gula Semut di Kulonprogo Masih Tergantung Pengepul
YOGYAKARTA – Kecamatan Kokap, Kulonprogo, terkenal dengan produk unggulan Gula Semut atau gula yang berasal dari nira pohon kelapa. Ratusan warga di kawasan pegunungan Menoreh ini menggantungkan hidupnya dari hasil produksi gula semut tersebut.
Salah satunya Suparsih (42), warga Dusun Tejogan, RT 41 RW 11, Hargorejo, Kokap, Kulonprogo. Sejak tujuh tahun terakhir ini, ia menekuni usaha pembuatan gula semut. Berawal dari ikut orang lain, kemudian memulai usaha sendiri.
Dibantu tiga orang tenaga, ia memproduksi gula semut dari bahan baku gula batok/gula merah. Ia sengaja tidak memproduksi gula semut sejak bahan baku masih berupa nira, karena dinilai membutuhkan waktu yang lebih lama.

“Saya biasa ambil gula batok dari pengepul, kemudian mengolahnya jadi gula semut. Gula semut yang sudah jadi sebagian saya pasarkan sendiri, sementara sebagian lainnya diambil pengepul untuk dijual lagi ke pabrik dan dipasaran ke luar negeri,” katanya, Selasa (16/1/2018).
Dalam sehari, Suparsih mengaku bisa memproduksi sekitar 90 kilogram gula semut. Gula semut itu dihasilkan dari bahan baku sekitar 100 kilogram gula batok/gula merah. Satu kilogram gula merah dibelinya seharga Rp16 ribu. Sedangkan 1 kilogram gula semut dijual seharga Rp20-22 ribu.
“Saat sedang musim hujan seperti ini, harga gula batok biasanya naik. Bisa sampai Rp16-17 ribu. Padahal, biasanya hanya sekitar Rp10 ribu,” katanya.
Untuk membuat gula semut dari bahan gula batok, tidak membutuhkan waktu lama. Gula merah hanya tinggal dihancurkan dengan cara direbus, hingga mengental dan mengkristal. Setelah itu, adonan dihancurkan dan diayak hingga menjadi serbuk halus.
“Dalam seminggu, biasanya saya setor ke pengepul hingga 3 kali untuk dijual ke pabrik. Harga ditentukan oleh pengepul. Gula semut juga harus diolah secara organik, tidak boleh dicampur gula pasir atau bahan kimia, karena akan dikirim ke luar negeri. Jika tidak, maka barang bisa ditolak,” bebernya.
Dibanding menjual secara mendiri ke pasar lokal, jumlah serapan gula semut dari pabrik pengolahan melalui pengepul memang jauh lebih besar. Hal itu dikarenakan konsumsi gula semut yang memiliki kadar gula lebih rendah, lebih banyak dikirim ke luar negeri.
“Jika dijual sendiri ke pasar lokal, sebenarnya harganya lebih tinggi. Sayangnya, agak susah dan jumlahnya masih sedikit, karena masyarakat Indonesia lebih memilih mengkonsumsi gula pasir yang harganya jauh lebih murah,” katanya.
Sementara untuk menjual langsung ke pasar luar negeri, para pembuat gula semut kesulitan mengurus izin dan sertifikasi produk. Selain harus memiliki 500 petani pembuat gula semut, biaya mendapatkan sertifikat juga sangat mahal, mencapai Rp150 juta.
Dengan keuntungan sekitar Rp100 ribu per hari atau Rp3 juta per bulan, para pembuat gula semut di Kokap mayoritas masih menggunakan alat tradisional untuk memproses gula merah. Yakni, menggunakan wajan, tungku kayu bakar serta penggiling manual menggunakan tenaga manusia.
“Saat musim hujan, kualitas nira biasanya kurang baik. Sehingga saat gula batok diolah jadi gula semut, hasilnya juga kurang baik. Sedangkan saat musim kemaru jumlah nira biasanya berkurang, sehingga harga gula batok akan naik,” katanya.
Naiknya harga bahan baku gula merah dikatakan sangat berpengaruh pada keuntungan para pembuat gula semut. Pasalnya, mereka tidak bisa menaikkan harga jual, karena harga ditentukan oleh pengepul dan pabrik.
“Padahal, kita masih harus membayar tenaga, yakni Rp1.000 per kilo. Serta membeli kayu bakar Rp400 ribu per rit kecil,” katanya.
Karena itu, para pembuat gula semut skala rumah tangga sepertinya, hanya bisa berharap, agar harga jual gula semut maupun bahan baku dapat sabil dan tidak terombang-ambing seperti saat ini.