Pelayanan Kesehatan di Daerah Tertinggal Memprihatinkan
PADANG — Pelayanan kesehatan di daerah tertinggal, terluar, terjauh (3T) yang terdapat di sejumlah daerah di Sumatera Barat (Sumbar) terlihat memprihatinkan.
Jauhnya akses antara rumah penduduk serta tidak mengimbanginya jumlah penduduk dengan keberadaan rumah sakit atau Puskesmas (Pusat Kesehatan Masyarakat).
Di Sumbar, daerah 3T itu, yakni Kabupaten Kepulauan Mentawai, Pasaman Barat, dan Solok Selatan. Dari tiga kabupaten itu, hal yang dinilai cukup memprihatinkan layanan kesehatannya, yaitu Kabupaten Kepulauan Mentawai.

Wakil Gubernur Sumbar, Nasrul Abit, mengatakan dari hasil kunjungan kerjanya ke Mentawai kemarin, cukup banyak masyarakat di Mentawai yang mengaku membutuhkan penambahan fasilitas kesehatan seperti rumah sakit.
Mengingat Mentawai merupakan sebuah daerah kepulauan satu-satunya yang ada di Sumbar, sangat tidak memungkinkan melakukan rujuk ke Padang, bila ada pasien yang perlu mendapatkan pengobatan.
“Di Mentawai ada satu RSUD Tuapejat, yang berada di Sipora Utara, Kabupaten Kepulauan Mentawai. Itu adanya di pulau Sipora, padahal Mentawai memiliki beberapa pulau. Jadi, jika ada pasien yang perlu dirujuk dari Puskesmas ke RSUD Taupejat, perlu menyebarang lautan dulu, dan memakan waktu yang cukup lama,” ujarnya, Jumat (19/1/2018).
Menurutnya, untuk memudahkan masyarakat mendapatkan layanan kesehatan, perlu ada minimal di pulau utama yang berpenghuni, yaitu Pulau Siberut, Pulau Sipora, Pulau Pagai Utara dan Pulau Pagai Selatan yang mayoritas dihuni oleh masyarakat Mentawai.
Untuk membangun rumah sakit di Mentawai itu, Nasrul berharap adanya perhatian pemerintah pusat, karena daerah tersebut merupakan daerah 3T yang ada di Sumbar.
Ia menyebutkan, selain fasilitas rumah sakit, tambahan tenaga kesehatan juga sangat dibutuhkan, karena saat ini untuk tenaga kesehatan masih tergolong sangat minim, seperti kebutuhan dokter spesialis.
“Jika semua mengandalkan APBD, tidak akan cukup. Maka, perlunya dukungan dari pemerintah pusat dalam hal mengalokasikan dana untuk kesehatan di daerah 3T,” katanya.
Tidak hanya di Mentawai, Narsul juga menyebutkan kondisi serupa terjadi di daerah 3T lainnya, yakni Pasaman Barat dan Solok Selatan. Dua kabupaten itu meski berada di satu daratan di Sumbar, namun persoalan akses jalan dan infrastruktur lainnya juga perlu menjadi perhatian bersama.
“Di sana, untuk pergi berobat saja sepeti ke Puskesmas, perlu menempuh perjalanan yang cukup jauh, sebab memiliki daerah yang cukup luas. Luasnya bukan karena padat penduduk, melainkan luasnya lahan perkebunan masyarakat,” ucapnya.
Masing-masing kabupaten dan kota di Sumbar memang memiliki RSUD (Rumah Sakit Umum Daerah). Tapi, pelayanan kesehatan itu masih saja dikeluhkan masyarakat, karena tidak mampu melayani kesehatan dari RSUD itu. Ujung-ujungnya pasien dari daerah harus dirujuk ke Padang, yakni RSUP. M. Djamil.
Sementara itu, Direktur Utama RSUP Dr. M. Djamil Yusirwan Yusuf, mengakui pasien yang dirawat di RSUP. M. Djamil Padang terbilang cukup padat. Hal ini karena cukup banyak pasien yang dirujuk dari berbagai daerah di Sumbar dan bahkan dari provinsi tetangga seperti Provinsi Jambi.
Ia menyebutkan, untuk menampung pasien yang datang dari berbagai daerah dan berbagai jenis penyakit itu, pembangunan di RSUP. M. Djamil Padang terus dilakukan. Pembangunan dilakukan untuk meningkatkan daya tampung pasien, agar bisa memberikan layanan kesehatan yang optimal.