LAMPUNG — Lahan luas berada di kaki Gunung Rajabasa, dengan sumber air yang lancar sepanjang tahun, dimanfaatkan oleh masyarakat Dusun Sendangsari, Desa Pasuruan, untuk usaha pertanian dan perikanan.
Salah satu warga, di antara sekian banyak warga yang memanfaatkan potensi alam memadai tersebut, Lilik Totowisojo (47), sejak 1995 menanam 400 batang tanaman kakao di lahan miliknya.
Dengan tanaman kakao sebanyak itu, mampu menghasilkan keuntungan cukup menjanjikan dengan harga jual kakao per kilogram pernah mencapai Rp30.000 per kilogram, sehingga dari hasil 100 kilogram kakao kering siap jual, dirinya bisa menghasilkan Rp3 juta.
Hasil panen kakao tersebut, katanya, diperoleh pada saat musim panen belum mencapai puncak, sementara pada saat puncak musim panen raya kakao bisa diperoleh hasil yang lebih banyak.
“Sebagian lahan yang saya miliki berkontur miring, sehingga cocok untuk budi daya tanaman kakao yang bisa dipanen setelah usia tiga tahun secara berkelanjutan dengan perawatan intensif,” terang Lilik Totowisojo, saat ditemui Cendana News tengah melakukan pemanenan kakao di lahan miliknya, Rabu (10/1/2018).

Laki-laki yang menekuni sektor usaha pertanian dengan menanam buncis dan cabai caplak tersebut, juga melirik usaha pembenihan ikan lele dengan potensi sumber air yang melimpah dan tidak tercemar.
Beberapa tahun setelah ratusan tanaman kakao miliknya mulai menghasilkan dan sebagian tanaman mulai meninggi, ia menyebut lahan budi daya kakao masih bisa dikembangkan untuk usaha sektor perikanan, salah satunya pembenihan ikan lele. Sehingga, konsep usaha miliknya disebut ‘mina kakao’.
Berbekal pengalaman memelihara ikan lele jenis dumbo, ia mulai mengembangkan pembenihan ikan jenis sangkuriang, phyton dan masamo yang banyak diminati oleh masyarakat untuk ikan konsumsi dan dikembangkan dalam usaha mina abadi miliknya.
Pada tahap awal, Lilik menyediakan 10 petak kolam terpal dengan beragam ukuran, di antaranya 2,5 meter x 6 meter, 2,5 meter x 5 meter serta ukuran 2,3 meter x 2 meter yang sebagian diletakkan di bawah areal penanaman kakao miliknya.
Sebagian petak kolam terpal tersebut juga diberi peneduh dengan menggunakan waring, terutama beberapa kolam ikan untuk benih ikan siap jual.
Usaha mendapatkan benih ikan lele jenis Masamo, Sangkuriang dan Phyton disebutnya diperoleh mempergunakan dua cara, yakni membeli dan menyewa indukan.
Khusus untuk indukan ikan lele jenis Masamo bersertifikat, ia mengaku membeli indukannya seharga Rp100 ribu sepasang dengan ciri khas tubuh putih, indukan lele Sangkuriang dengan ciri khas tubuh panjang diperoleh dengan sistem menyewa dari penangkar seharga Rp50 ribu perinduk dan jenis indukan lele Pyton dengan kepala seperti ular phyton dibeli dengan sistem kiloan seharga Rp20 ribu per kilogram sebanyak 20 ekor.
Semua indukan yang sudah bertelur dan menghasilkan benih ikan lele, jelasnya, sebagian dibeli oleh masyarakat yang membudidayakan lele konsumsi untuk pangsa pasar rumah tangga dan usaha kuliner pecel lele.
Memproduksi rata-rata benih 30.000 ekor hingga 100.000 ekor benih ikan lele, hingga awal 2018 dirinya sudah menyiapkan 90.000 ekor benih lele jenis Phyton, 30.000 ekor benih lele jenis Sangkuriang dan benih ikan lele Masamo 60.000 benih.
Harga benih dengan ukuran siap jual sebagai benih siap tebar di kolam budi daya berukuran 4 centimeter, 6 centimeter hingga 7 centimeter, dijualnya seharga Rp200 per ekor, sehingga dengan bibit sebanyak 1.000 ekor, pembeli cukup mengeluarkan uang Rp200.000 yang bisa dikembangkan dalam kolam terpal.
Penggunaan media kolam terpal disebutnya lebih efesien dibandingkan dengan kolam tanah dengan sistem penggalian.
Beromzet jutaan rupiah setiap bulan dari penjualan benih, ia juga berencana mengembangkan budi daya pembesaran ikan lele konsumsi dengan pangsa pasar yang semakin terbuka. Harga ikan lele per kilogram seharga Rp20.000 berisi 12 ekor, sangat menguntungkan.
“Konsep perkebunan, pertanian dan perikanan didukung sumber air yang lancar bisa ikut mendorong peningkatan ekonomi pedesaan di wilayah ini,” beber Lilik.
Selain pembudidaya kelompok, pembudidaya ikan perseorangan disebutnya ikut mendorong pertumbuhan usaha pembenihan ikan lele jenis phyton, sangkuriang dan masamo yang sudah bisa dipanen pada usia 2 bulan dan siap konsumsi tersebut.
Selain itu, usaha pembenihan memberi dampak positif bagi usaha kuliner pecel lele dan juga warung makan di sepanjang Jalan Lintas Sumatera.