Microbubble Generator Dinilai Mampu Tingkatan Produksi Ikan
YOGYAKARTA — Sistem budidaya ikan dengan memanfaatkan teknologi microbubble generator dinilai jauh lebih efektif dan menguntungkan. Selain mampu meningkatkan hasil produksi, teknologi ini juga mampu mempersingkat waktu panen serta mengurangi konsumsi pakan.
Dari hasil ubi coba di Kelompok Mina Ngremboko, Desa Bokesan, Sindumartani, Ngemplak, Widodomartani, Sleman, Yogyakarta, budidaya ikan nila dengan sistim microbubble diketahui mampu meningkatkan hasil produksi hingga 46 persen. Waktu panen yang biasanya empat bulan, juga dapat dipersingkat menjadi tiga bulan saja.
“Dengan sistem microbubble ini, kapasitas tebar juga meningkat hingga lima kali lipat. Jika dengan cara tradisional kolam ukuran 10×10 meter persegi hanya bisa diisi 1.000 bibit, maka dengan sistim ini bisa diisi hingga kepadatan 5.000 bibit. Selain itu ikan juga minim terserang penyakit,” ujar Ketua Kelompok Mina Ngremboko, Saptono, saat acara panen ikan nila sistim microbubble generator, Sabtu (20/1/2018).

Mulai dikembangkan sejak enam tahun silam, sistem ini sendiri sudah diujicobakan sejak tiga tahun terakhir. Peneliti Universitas Gadjah Mada, Prof Rustadi, selaku pendamping mengatakan, prinsip kerja sistem microbubble generator ini ialah upaya meningkatkan kadar oksigen dalam air.
Selain itu juga menekan kandungan kadar amoniak, yang berdampak buruk bagi perkembangan ikan. Caranya adalah dengan menciptakan gelembung udara dalam bentuk sangat kecil atau micro di dalam kolam ikan.
“Jika malam hari kadar oksigen air akan rendah, sementara kadar amoniak sangat tinggi. Semakin tinggi kepadatan, kadar oksigen akan semakin rendah dan kadar amoniak semakin tinggi. Sehingga berpengaruh pada pertumbuhan dan kesehatan ikan,” katanya.
Namun dengan microbubble generator ini ikan akan mendapatkan tingkat kesegaran tinggi. Karena adanya microbubble yang lebih lama terangkat ke atas, ikan akan lebih banyak punya kesempatan menghirup oksigen lebih tinggi, tambahnya.
Dari sisi biaya pembuatan, alat berupa microbubble generator yang dikembangkan UGM ini dikatakan jauh lebih murah dibanding buatan luar negri dengan perbedaan harga mencapai 40 persen. Satu unit alat microbubble generator, dengan harga sekitar Rp1,5juta sendiri dikatakan mampu digunakan untuk kapasitas kolam seluas 70 meter persegi.

Ketua Umum Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Jenderal TNI (Purn.)
Dr. Moeldoko, yang turut hadir dalam acara penen tersebut menilai sistim budidaya dengan teknologi microbubble generator merupakan pilihan terbaik bagi petani.
Ia berharap teknologi ini dapat disosialisasikan secara masif ke masyarakat khususnya petani ikan sehingga akan mampu meningkatkan hasil produksi.
“HKTI akan bantu mensosialisasikan penggunaan teknologi ini. Dengan begitu petani akan mendapatkan hasil dan keuntungan berlipat. Sehingga akan semakin banyak masyarakat terjun ke perikanan baik itu air tawar atau air payau,” katanya.
Salah satu kendala sampai saat ini, terkait pemanfaatan teknologi ini, mungkin hanyalah soal ketersediaan jaringan listrik. Dimana teknologi ini sangat bergantung pada aliran listrik di setiap kolam budidaya.
“Kendalanya belum semua kolam bisa teraliri listrik,” pungkas Saptono.