Loka, Sang Pecinta Bunga dari Gunung Rajabasa
LAMPUNG — Memiliki lahan seluas tiga perempat hektare yang dikelola bersama orangtua dengan lahan yang berada di lokasi beriklim sejuk di lereng Gunung Rajabasa membuat Loka Kusumawati (32), warga Kelurahan Kedaton Kecamatan Kalianda Kabupaten Lampung Selatan melirik usaha hortikultura.
Loka yang memiliki dasar pendidikan bidang pertanian tersebut mengaku tertarik mengembangkan usaha hortikultura atau budidaya tanaman kebun di lahan miliknya.
Ia menyebut dalam pengembangan tahap awal dirinya justru mengembangkan budidaya tanaman bunga dengan konsep tanaman bunga (florikultura) dan berbentuk taman atau lansekap dengan sebutan INKRA Garden. INKRA disebutnya merujuk pada sebutan akronim Intai Krakatau yang lokasinya sangat cocok untuk melihat Gunung Krakatau.
Pada pengembangan tahap awal pada lokasi INKRA Garden dirinya menanam sekitar 25 jenis bunga diantaranya serut, zinnia, adenium, lavender, bunga kertas, adas adasan, miana, bunga insulin, mahkota dewa serta berbagai jenis bunga lain.
“Berbagai jenis tanaman bunga didatangkan dari lokal Lampung sebagian dari pedagang bunga yang berasal dari wilayah luar Lampung untuk saya kembangkan dan bisa dijual dalam bentuk bunga segar atau bunga potong sebagian untuk pembibitan,” terang Loka saat ditemui Cendana News baru baru ini.
Memiliki dasar ilmu pertanian membuat Loka mengaku terus mengembangkan usaha tanaman bunga (florikultura), tanaman sayuran (olerikultura), tanaman obat obatan (biofarmaka) dan taman yang bisa sekaligus menjadi lokasi wisata bagi pecinta wisata berkonsep alam.
Beberapa jenis bunga dan sayuran yang dikembangkan disebutnya semula ditanam dalam polibag dan diperbanyak mempergunakan tekhnik semai biji di antaranya bunga zinnia, tanaman cabai keriting dan juga tomat.
Selain memiliki sisi estetika pada beberapa jenis bunga yang ditanam di antaranya binahong, bunga ungu, adas,mahkota dewa serta bunga lain disebutnya memiliki kandungan obat tradisional yang sebagian sudah terbukti khasiatnya.
Proses klasifikasi dan zonasi tanaman sayuran,bunga dan buah diakui oleh Loka terus dikembangkan termasuk pemberian nama taman berdasarkan jenisnya.
“Saya sengaja membuat taman yang memang memiliki fungsi sebagai tanaman konsumsi,obat obatan dan memiliki sisi bisnis wisata yang lain dari sekedar menanam bunga dan sayuran,” terang Loka.
Loka menyebut wilayah Desa Hargopancuran diakuinya sudah dikenal sebagai klaster penyediaan bibit timun hibrida kemitraan dengan perusahaan produsen bibit, kemitraan dengan perusahaan produsen rokok dalam budidaya cengkih. Dirinya mengambil peluang usaha sektor hortikultura dengan jenis bunga dominan dibudidayakan.
Pada lahan yang kini ditanami berbagai jenis bunga tersebut ia bahkan masih memanfaatkan lahan untuk budidaya tanaman kacang tanah sehingga bagi pengunjung yang datang kebun yang dimilikinya bisa menjadi lokasi wisata agro,edukasi dan rekreasi.
Lahan yang ditanami berbagai jenis sayuran dan bunga tersebut diakuinya dikembangkan dengan teknik organik tanpa penggunaan bahan kimia. Penggunaan cara organik ini untuk semakin menarik jenis serangga pecinta bunga di antaranya kelanceng, kupu kupu, kumbang dan lebah madu.
“Dalam waktu dekat saya tengah berencana membudidayakan lebah madu dan lebah kelanceng karena potensi bunga yang saya miliki akan terus bertambah termasuk membuat taman kupu kupu,” papar Loka.
Kebun hortikultura yang berkonsep taman bunga akan menjadi lokasi wisata petik sayuran cabai, tomat, kangkung, bayam dan stroberi yang disebutnya cocok tumbuh di wilayah lereng Gunung Rajabasa tersebut.
Sebagian lokasi penanaman kacang tanah akan dijadikan lokasi penanaman berbagai jenis tanaman cabai hias dan cabai konsumsi sehingga jumlah tanaman akan semakin bertambah jenisnya.
