Komisi IX Minta Kepala Daerah tak Sembunyikan Kasus Difteri
PADANG — Ketua Komisi IX DPR RI, Dede Yusuf, meminta kepada kepala daerah untuk tidak menyimpan persoalan kasus difteri, yang bertujuan untuk sesuatu kepentingan mengingat memasuki tahun politik.
“Saya ada melakukan kunjungan kerja di suatu daerah di Indonesia terkait kasus difteri. Dari laporan kepala daerahnya menyatakan masyarakatnya tidak ada terkena difteri. Tapi, setelah kami cek ke rumah sakit, ternyata ada pasien yang dinyatakan suspect difteri,” ucapnya, ketika melakukan kunjungan kerja spesifik tentang difteri, ke Padang, Sumatera Barat, Kamis (18/1/2018).
Komisi IX DPR RI, menduga penyebab kepala daerah enggan menyampaikan kondisi difteri di daerahnya karena ingin kembali mencalonkan diri menjadi kepala daerah pada Pilkada 2018.
“Kepala daerah yang saya maksud itu bahkan incumbent, makanya persoalan difteri dinilai akan membuat kepercayaan masyarakat terhadap dirinya menurun, sehingga memilih untuk menyembunyikannya,” katanya.
Untuk itu, Dede berharap, kepada setiap kepala daerah untuk tidak menyembunyikan kasus difteri di setiap daerah. Karena, akibat dari pola pikir untuk kepentingan pribadi maju kembali pada pencalonan pilkada itu, malah masyarakat yang menjadi korbannya.
Dede menyebutkan, kepala daerah yang berpikir untuk menyembunyikan kasus difteri itu, akan berdampak buruk kepada DAK (Dana Alokasi Khusus), yang dapat menurun.
“Saya berharap, Sumbar tidak seperti itu, kalau kasus difteri sudah memakan korban, berarti sudah KLB (kasus luar biasa), dan tidak bisa dibantah lagi”, kata Dede.
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sumbar, Merry Yuliesday, mengatakan sepanjang 2017 kasus difteri di Sumbar ada satu orang anak yang meninggal dunia, yang berada di Kabupaten Pasaman Barat.
“Memang sudah ada yang meninggal dunia, tapi di Sumbar belum KLB difteri. Karena untuk KLB itu kasusnya terjadi kenaikan kasus hingga tiga kali lipat, sementara di Sumbar kenaikan kasus difteri hanya sedikit saja jika dilihat pada 2016,” ujarnya.
Merry menegaskan, saat ini Dinkes Sumbar telah memiliki sebuah rencana untuk lebih menggenjot sosialisasi tentang difteri dan meningkatkan kesadaran masyarakat, agar mau melakukan imunisasi.
Hal ini dikatakannya merupakan komitmen Dinkes Sumbar untuk menekan kasus difteri pada 2018 ini. Apalagi, penyebab munculnya kasus difteri di Sumbar, merupakan anak-anak yang tidak rutin melakukan imunisasi atau bahkan tidak pernah sama sekali melakukan imunisasi.
“Jadi, anak-anak yang terkena kasus difteri itu rata-rata anak-anak yang memiliki jejak yang ternyata tidak terlibat imunisasi. Jika pun ada, itu tidak rutin,” sebutnya.
Menurutnya, salah satu upaya yang bisa dilakukan untuk mengantisipasi penyebaran virus difteri itu, ialah para keluarga perlu mengajak anak-anaknya secara rutin dan teratur melakukan imunisasi.