Kemenag Seleksi Beasiswa Doktor ke Prancis

JAKARTA – Kementerian Agama tahun ini akan membuka seleksi bagi dosen dan calon dosen Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) untuk pendidikan doktor. Ditargetkan program beasiswa S3 pada perguruan tinggi di Prancis bisa diikuti setidaknya 30 orang peserta.

“Diusahakan setidaknya ada 30 dosen atau calon dosen di bidang sains dan teknologi pada PTKI,” kata Direktur Pendidikan Tinggi Islam (Diktis) Kementerian Agama Arskal Salim di Jakarta, Senin (22/1/2018).

Bagi calon penerima beasiswa akan mendapatkan kursus Bahasa Prancis selama tiga hingga empat bulan di Indonesia. Hal tersebut untuk memudahkan proses adaptasi saat melangsungkan studi di salah satu negara Uni Eropa itu.

Arskal mengatakan, pihaknya baru saja menggelar rapat dengan Kedutaan Besar Prancis mengenai rencana kegiatan tersebut. Pertemuan itu salah satunya membahas soal kerja sama dua negara dalam bidang pendidikan. Selain kesepahaman soal beasiswa pendidikan, Kementerian Agama beserta Kedutaan Besar Perancis bersepakat juga akan melakukan penelitian kolaboratif bidang sains dan teknologi (saintek) pada 2018.

Menurut Arskal, penelitian kolaboratif itu akan memberikan kesempatan kepada para dosen PTKI yang mengajukan proposal penelitian di bidang sains dan teknologi. Proposal yang masuk akan diseleksi oleh tim peninjau yang terdiri atas perwakilan Diktis dan Kedutaan Besar Perancis.

Proses seleksi dilakukan untuk memastikan penelitian yang akan dibiayai tepat sasaran dan tepat guna. Arskal menilai bidang sains dan teknologi di PTKI masih perlu didorong agar memiliki keunggulan dan karakternya yang khas. Integrasi keilmuan di lingkungan PTKI untuk bidang sains dan teknologi perlu dipadukan dengan sejumlah program yang tepat.

Kepala Subdit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Kementerian Agama Suwendi berharap, kolaborasi dengan Kedutaan Besar Prancis tersebut nantinya dapat menjangkau pada penguatan jurnal internasional. “Kami ingin jurnal yang terindeks secara internasional itu juga ada di Indonesia. Diharapkan Mora.Ref dapat menjadi indeks jurnal keagamaan, setidaknya untuk kawasan Asia Tenggara,” pungkasnya. (Ant)

Lihat juga...