Kabupaten Sikka Kekurangan 16.615 Ton Padi
MAUMERE –— Kabupaten Sikka masih kekurangan produksi padi baik padi sawah maupun padi ladang atau lahan kering yang biasa disebut padi Gogo sebanyak 16.615 ton untuk kebutuhan konsumsi penduduknya tahun 2017 sebanyak 345.645 orang.
“Kalau hanya padi maka kita masih mengalami kekurangan, tapi kalau produksi bahan makanan yang mengandung karbohidrat dan protein maka kita mengalami kelebihan,” sebut Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Sikka Ir. Hendrikus Blasius Sali, Senin (15/1/2018).
Dikatakan Hengky sapaannya, jumlah produksi hingga Desember 2017 yakni, padi sawah 15.850 ton, padi ladang 10.736 ton, jagung 57.500 ton, ubi kayu 52.809 ton, ubi jalar 8.828 ton dan sorgum 109 ton.
“Bahan makanan karbohidrat ini berdasarkan analisa situasi pangan sampai dengan angka ramalan II Agustus 2017 malah kelebihan 6.300 ton sedangkan untuk sumber protein kelebihan 2.513 ton,” jelasnya.
Sementara untuk musim tanam tahun 2017 dan 2018 kata Hengky, target produksi Oktober sampai Maret dan April sampai September sendiri untuk padi Gogo sebesar 8.631 ton dan padi sawah 5.128 ton sehingga total target produksi sebanyak 13.759 ton.
“Luas lahan fungsional 2017 sebesar 2.669 hektar dan kerusakan padi sebesar 954,2 hektar dari bulan Januari -April 2017. Sementara Desember 2016-Februari 2017 seluas 867,7 hektar dari realisasi tanam Oktober 2016-Maret 2017 seluas 10.085 hektar,” terangnya.
Sementara itu Hasanudin salah seorang pedagang beras yang ditemui Cendana News Senin (15/1/2017) di Pasar Alok mengakui bahwa beras yang beredar di Pasar Alok yang merupakan pasar terbesar di Kabupaten Sikka dan beberapa pasar lainnya di Kota Maumere masih didatangkan dari luar daerah.
“Beras yang dijual di pasar memang paling banyak didatangkan dari Sulawesi Selatan dan juga dari Surabaya sebab produski beras di Kabupaten Sikka juga masih belum mencukupi,” ujarnya.
Selain itu kata Hasanudin, harga beras yang dibeli dari petani di Sikka harganya rata-rata 10 ribu rupiah sehingga pedagang lebih memilih membeli beras yang didatangkan dari luar daerah. Harga belinya pun bisa lebih murah dan banyak dibeli masyarakat.
“Paling-paling hanya satu dua pedagang saja yang membeli beras lokal dan biasanya didatangkan dari Kecamatan Magepanda. Tapi itu juga tidak banyak sebab harga jualnya bisa 11 ribu rupiah sekilogramnya,” ungkapnya.
Banyak masyarakat Sikka sebut Hasanudin, lebih memilih membeli beras dari luar daerah yang harganya lebih murah seribu rupiah sekilogramnya. Kualitas beras dari luar daerah pun bagus dan bersih.
