Bumdes Desa Klaten Maksimalkan Potensi Pertanian dan Perkebunan

LAMPUNG — Potensi alam pedesaan yang dimiliki oleh Desa Klaten Kecamatan Penengahan dimanfaatkan oleh desa setempat untuk membuat badan usaha milik desa (Bumdes) yang akan memberi keuntungan bagi masyarakat desa.

Suyanto (44), selaku pengurus dan penerima manfaat Bumdes ternak sapi Desa Klaten menyebut pada tahap awal pengurus badan usaha milik desa menawarkan kepada masyarakat yang bersedia untuk memelihara ternak sapi. Mereka yang berminat mendapat sebanyak delapan ekor sapi enam diantaranya sapi betina dan dua sapi jantan.

Awalnya sebanyak 50 anggota Bumdes yang merupakan peternak sudah ditawarkan untuk pemeliharaan ternak sapi sistem bergulir tersebut, meski akhirnya banyak yang menolak untuk tahap pertama.

Pertimbangan kepemilikan lahan yang memadai untuk beternak sapi disebutnya membuat pengurus meminta Suyanto yang juga kepala dusun untuk memelihara sebanyak tiga ekor sapi betina indukan dan satu ekor sapi jantan.

“Ada dua kelompok peternak sapi tahap pertama dengan jumlah dibudidayakan sebanyak tiga ekor sapi betina dan satu ekor sapi jantan agar bisa berkembangbiak dan digulirkan melalui sistem perjanjian bagi hasil anak serta memberi keuntungan bagi Bumdes,” tutur Suyanto salah satu peternak yang mengembangkan ternak sapi milik Bumdes ternak Desa Klaten saat ditemui Cendana News di kandang sapi miliknya, Senin (15/1/2018)

Sebanyak empat ekor sapi disebut Suyanto dikembangkan oleh kelompok pertama warga di Dusun IV memelihara sebanyak empat ekor sapi sementara di Dusun VII memelihara sapi sebanyak empat ekor sehingga aset awal Bumdes berjumlah delapan ekor.

Selain aset berupa indukan sapi dan sapi jantan aset berupa kandang serta instalasi bio gas sekaligus diberikan sebagai fasilitas penerima manfaat untuk pengembangan ternak sapi milik Bumdes ternak milik Desa Klaten tersebut.

Pada tahun kedua untuk ungkapnya dengan sistem kawin suntik atau insemenasi buatan sebanyak tiga ekor sapi yang dipelihara olehnya mulai beranak.

Suyanto menyebut sapi betina yang dipelihara tersebut beranak seluruhnya betina pada Juli, Agustus dan Desember 2017 yang selanjutnya akan digulirkan ke peternak lain setelah sapi tersebut dewasa. Anakan sapi berusia sekitar sepuluh bulan disebutnya baru bisa dipisah dari indukan dan bisa dipelihara peternak lain.

Mempergunakan kandang berukuran panjang 5 meter dan lebar 3,5 meter pembuatan kandang tersebut mempergunakan sistem kandang terintegrasi dengan biogas dan juga tempat penyimpanan pakan berupa jerami, dedak serta sumber pakan rumput hijauan.

Sistem bagi hasil anak sesuai perjanjian awal yang ditetapkan Bumdes anakan ternak sapi saat lahir pertama mutlak menjadi milik Bumdes baru anakan kedua akan dibagi dua bagi pemelihara dan setengahnya hak Bumdes.

“Bagi peternak yang tidak memiliki ternak tentu sangat menguntungkan karena sistem bergulir membuat peternak bisa memperoleh benih ternak sapi dari Bumdes,” beber Suyanto.

Selain memperoleh manfaat sistem bagi hasil anak sapi dengan keberadaan Bumdes ternak tersebut Suyanto memperoleh keuntungan berupa instalasi biogas berupa bahan bakar gas dan penerangan. Secara ekonomi ia mengaku mendapatkan keuntungan dalam penghematan pengeluaran uang untuk membayar listrik dan bahan bakar gas.

Berkat sistem kawin suntik diakuinya anggota Bumdes ternak sapi dengan jumlah 50 orang diharapkan bisa memelihara sapi dengan usia sembilan bulan sudah menghasilkan satu ekor sapi dengan sistem inseminasi buatan.

Selain lebih cepat dalam memperoleh bibit sapi ia menyebut potensi lahan perkebunan dan pertanian disebutnya sangat mendukung dalam pengembangan ternak sapi.

“Keberadaan bumdes ternak sangat tepat karena selama ini limbah jerami dan tebon jagung yang dijadikan sebagai pakan tambahan,” papar Suyanto.

Suyanto menyebut dengan adanya potensi tersebut meskipun saat ini memasuki masa tanam padi.  Dengan stok jerami yang sudah tersedia untuk jangka waktu enam bulan kedepan sehingga peternak sapi tidak mengalami kesulitan untuk pakan.

Penggunaan pakan tambahan berupa jenjet jagung dan dedak hasil penggilingan padi menggunakan tetes tebu, membuat dirinya cukup mencari pakan tambahan berupa rumput hijauan dari sejumlah lahan perkebunan kelapa sawit serta pertanian jagung.

Lihat juga...