Investor Harapkan Kemudahan Administrasi Investasi di Indonesia
JAKARTA — Sekertaris Jenderal Asosiasi Investasi Saudi Arabia di Indonesia, Hasan Bugis mengatakan, para investor asal Saudi Arabia merencanakan berinvestasi ke Indonesia, utamanya di sektor properti. Namun para investor ini membutuhkan cara dan kemudahan berinvestasi di Indonesia tanpa dipersulit.
Menurut Hasan, investor Arab Saudi sangat layak berinvestasi di Indonesia dalam pembangunan pengembangan properti. “Ke depan investor Arab Saudi, investasi di Indonesia itu sangat penting bagi perekonomian Indonesia Indonesia akan berkembang real estatenya, sehingga investasi dapat dirasakan oleh kedua negara,” kata Hasan pada acara The Fist Saudi Investor Forum (SAIF) 2018 di Hotel Rizt Carlton, Mega Kuningan, Jakarta, Senin (15/1/2018).
Namun demikian, Hasan mengaku pihaknya belum bisa memastikan berapa besaran investasi yang akan disalurkan untuk pembangunan properti di Indonesia. Hal ini menurut dia, karena masing-masing investor belum didata akan berapa menginvestasikan modalnya di Indonesia.
“Investor Arab Saudi cukup banyak. Ini pertemuan awal dan akan berlanjut sehingga bisa dikerja samakan dari berbagai sisi. Yang pasti, para investor meminta kemudahan cara berivestasinya jangan dipersulit dengan berbagai aturan,” tegas Hasan.
Pada kesempatan ini, Ketua Komite Tetap Timur Tengah Kamar Dagang Industri Indonesia (KADIN), Mohamad Bawazeer mengatakan, sebenarnya titik berat Indonesia dengan Arab Saudi saat Presiden Joko Widodo (Jokowi) berkunjung ke Arab Saudi pada 2015. Dan kemudian tahun 2017, Raja Salma membalas kunjungan ke Indonesia.
Sejak itulah, sebut Bawazeer, tercatat sudah siap untuk ditindaklanjuti kepada pihak swasta maupun pemerintah dalam hal kerja sama kedua negara tersebut. Kemudian Kadin melakukan pertemuan para investor sesi pertama real estate ini bekerja sama dengan Arab Saudi.
Bawazeer menyebutkan, meskipun pertumbuhan investasi di Indonesia kecil, tapi ekspor mengalami peningkatan 4 persen, pada 2015 lalu. Dan yang patuti kita syukuri tahun lalu, ekspor naik 1 persen. Tapi memang 5 persen hubungan balance minus oile and gas masih tetap impor dari Arab Saudi.
”Bagi kami terus terang forum ini sesuatu cara terbaik. Tidak perlu lagi semacam forum makro, tapi langsung saja lakukan idel kesepakatan kerja sama,” kata Bawazeer.
Dalam forum ini, lanjut dia, Kadin mengundang 100 pengusaha Indonesia, dan pihaknya akan berjembati dengan para investor Saudi Arabia. Sehingga diharapkan ada tindakan yang nyata peluang investasi cukup baik dari pertemuan ini.
Seperti halnya, kata dia, kecenderungan investasi bergeser ke pariwisata luar biasa. ”Kita pahami ini tourisme ada investasi hotel berprinsip syariah,” ujarnya.
Hanya saja kata Bawazeer, terkadang kesulitan mendapatkan lokasi yang luas karena masih ketergantungan dari pemerintah daerah (Pemda) dalam soal administrasi.
“Jangan sampai terjadi di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), gara-gara administrasi kerja samanya jadi kandas. Jadi harus dipermudah cara berinvestasinya,” pungkas Bawazeer.