Hujan Tinggi Sebabkan Hasil Panen Sayuran dan Buah Turun Drastis

LAMPUNG — Puluhan petani buah melon, cabai caplak dan tomat rampai di Dusun Pegantungan, Desa Bakauheni, harus menerima kenyataan pahit. Curah hujan yang cukup tinggi menyebabkan hasil panen mereka merosot tajam.

Suminah (50), petani buah melon dengan luas lahan satu hektare, mengaku mengalami kemerosotan hasil dibandingkan masa tanam sebelumnya saat kondisi musim kemarau.

Penanam buah melon pada lahan bekas tambak beberapa tahun silam tersebut mengungkapkan, dengan bibit sebanyak 14 bungkus dirinya yang menanam bersama sang anak hanya mampu memanen 8 ton buah melon. Padahal, berdasarkan pengalaman proses penanaman pada musim tanam sebelumnya, bisa panen maksimal 12 ton dengan dua kali proses pemanenan.

“Imbas curah hujan yang tinggi memang sangat besar, karena buah memiliki kadar air yang berlimpah mengakibatkan busuk pada bagian dalam,” terang Suminah, Selasa (16/1/2018)

Suminah juga menyebut, hasil maksimal panen buah melon putih pada panen sebelumnya diperoleh karena pascapanen tahap kedua dirinya masih bisa memanen 2 ton buah melon setelah pada panen tahap pertama sudah memanen 10 ton.

Harga buah melon di level petani mencapai Rp8.000, membuat omzet budi daya melon pada masa panen 2017 diakuinya mencapai Rp96 juta.

Berbeda dengan masa tanam bulan November yang bisa dipanen pada bulan Januari ini, hasil yang diperoleh hanya 8 ton, sehingga omzet menurun drastis, meski harga jualnya lebih tinggi dari sebelumnya, Rp9.000, dan hasil penjualan mencapai Rp72 juta.

“Kalau cuaca kemarau, pada hasil panen kedua masih bisa disortir dan terjual lumayan bisa berjumlah sebanyak dua ton, namun saat ini sama sekali tak bisa dijual, bahkan panen tahap pertama pun sudah merosot,” beber Suminah.

Saat musim kemarau, ajir atau tiang penopang masih kokoh berdiri pascaproses pemanenan, kini sebagian ajir yang dipakai untuk penanaman melon membuat sebagian tanaman roboh. Sebagian tanaman yang roboh sekaligus tidak bisa dipanen, membuat lahan pertanian miliknya dipenuhi buah melon busuk yang berada di atas mulsa plastik pada guludan lahan budi daya melon.

Selain produksi buah melon yang merosot, Suminah yang menanam tomat rampai di sela tanaman melon mengak hasil panen buah tomat rampai miliknya juga merosot.

Jika sebelumnya penanaman dengan sistem tumpangsari bisa memanen sekitar 100 kilogram tomat rampai, kini akibat curah hujan tinggi panen hanya 40 kilogram.

Harga tomat rampai yang dominan dijual kepada pedagang keliling, pedagang pasar dan pemilik usaha kuliner pecel lele dan pecel ayam tersebut saat masa panen sebelumnya seharga Rp10.000, sehingga ia bisa memperoleh Rp1 juta dari budi daya tomat rampai di sela sela tanaman melon miliknya.

Namun, dengan kondisi buah yang rusak, tomat yang sebagian rontok akibat membusuk, ia hanya bisa memanen sekitar 40 kilogram tomat. Meski harganya mencapai Rp12.000, dirinya hanya mendapatkan uang Rp480.000 sekali panen.

Selain tomat dan melon, pada sebagian lahan tersisa yang ditanami cabai caplak, ia menyebutkan pada masa panen musim kemarau dirinya masih bisa memanen sekitar 20 kilogram  cabai caplak dari ratusan batang yang ditanam.

Cabai caplak yang dijual sebesar Rp30.000 per kilogram pada masa panen sebelumnya memberinya hasil Rp600.000, namun dengan kerontokan akibat buah yang membusuk panen sebanyak 10 kilogram dengan harga cabai caplak Rp32.000 dirinya hanya memperoleh uang sebesar Rp320 ribu.

Sebagian buah tomat, cabai caplak yang masih terdapat di lahan miliknya tersebut bahkan dibiarkan membusuk tanpa dipanen. Rencananya semua tanaman melon, cabai caplak dan tomat rampai yang mengalami kemerosotan produksi tersebut akan dirombak dan proses penanaman berikutnya akan dilakukan menunggu kondisi cuaca membaik, sehingga tidak merusak tanaman terutama komoditas pertanian buah dan sayur.

Lihat juga...