Harga Cabai Naik, Belum Beri Keuntungan Petani

LAMPUNG – Naiknya harga cabai besar di sejumlah pasar tradisional dengan harga mencapai Rp35.000 hingga Rp45.000 per kilogram ikut diimbangi dengan masa panen sejumlah lahan pertanian cabai di Desa Ruguk, Desa Sumur, di Kecamatan Ketapang Kabupaten Lampung Selatan yang mulai melakukan masa panen ke sepuluh atau masa panen ranting.

Wayan (30) salah satu petani cabai besar di Dusun Setiadarma Desa Sumur menyebut melakukan pemanenan cabai besar dengan hasil sekitar 50 kilogram hingga 100 kilogram sekali proses pemetikan.

Masa pemetikan kesepuluh dengan jumlah 10 ribu batang tersebut diakuinya bersamaan dengan tingginya harga cabai pada bulan Januari. Meski hasil produksi sudah menurun sementara masa panen pada batang sudah terjadi pada pertengahan bulan Desember.

“Petani cabai besar seperti kami memang kerap mendengar harga cabai besar naik di pasaran. Namun harga di level petani masih belum maksimal bahkan harganya pernah di angka Rp28 ribu per kilogram maksimal di angka Rp35 ribu per kilogram,” terang Wayan, salah satu petani cabai besar di Dusun Setia Darma Desa Sumur Kecamatan Ketapang, saat ditemui Cendana News tengah melakukan proses pemanenan cabai pada masa panen ranting, Kamis (4/1/2018).

Pada masa panen pertama, disebut Wayan, tanaman cabai yang ditanam pada bulan September dengan masa panen pertama pada bulan November, harga cabai yang dipanen hanya berkisar Rp27.000 per kilogram. Sistemnya agen penjual cabai datang langsung ke kebun dan terkadang langsung dijual ke pasar.

Wayan, memanen cabai merah yang ditanamnya pada lahan tadah hujan di Desa Sumur Kecamatan Ketapang [Foto: Henk Widi]
Saat memasuki masa panen ketujuh dengan luas tanaman seperempat hektar dengan menghabiskan empat gulung mulsa plastik tersebut, harga cabai besar yang ditanamnya hanya berkisar Rp35.000.

Pada masa panen bulan Desember hingga Januari, disebutnya didominasi musim hujan sehingga berimbas munculnya penyakit pada tanaman cabai di antaranya hama trip yang membuat daun keriting. Imbasnya buah cabai menjadi mengkerut.

Pengaruh dari penyakit tersebut diakuinya kerap membuat pembeli dari agen menawar dengan harga rendah sehingga sistem sortir atau pemilahan harus dilakukan sebelum dijual ke pasaran.

“Imbas dari hujan dan penyakit pasokan cabai besar memang berkurang di pasar, namun saat ini belum memberi dampak yang bagus bagi petani dengan meningkatnya harga,” beber Wayan.

Niluh, salah satu keluarga Wayan yang ikut memanen cabai mengaku, harga maksimal cabai besar yang dijual di level petani bahkan hanya mencapai Rp35.000 per kilogram. Ia menyebut, selain ke agen penjual cabai serta dijual ke pasar, sejumlah pedagang sayuran keliling disebutnya kerap membeli dengan jumlah hingga 10 kilogram. Untuk dijual ke masyarakat bersama sayuran dengan proses penjualan sudah dalam kondisi dalam bungkus plastik.

Masa panen dengan hasil sekitar 1 ton selama satu kali masa tanam, Niluh menyebut, dengan kisaran harga rata-rata Rp30 ribu hasil sebesar Rp30 juta diperoleh oleh penanam cabai. Meski harga di sejumlah pasar tradisional naik hingga Rp45 ribu disebutnya sejumlah petani cabai di wilayah Desa Sumur dan Ruguk yang berjumlah puluhan orang dan luasan lahan puluhan hektar masih tetap berharap harga di level petani bisa lebih tinggi.

Sebagai antisipasi mengalami kerugian, sebagian petani cabai di wilayah Desa Sumur bahkan melakukan proses penanaman beberapa jenis tanaman lain, di antaranya tanaman sayuran jenis tomat, bawang merah, jagung manis dan kacang panjang yang bisa dipergunakan sebagai sumber penghasilan petani di wilayah tersebut.

Niluh menyebut, kawasan lahan pertanian di Desa Sumur yang sebagian merupakan lahan pertanian mengandalkan tadah hujan membuat sebagian petani seperti Niluh dan keluarganya memilih menanam tanaman hortikultura yang minim kebutuhan air.

Sebagian petani cabai besar bahkan membuat sumur bor sebagai sumber pengairan dengan tidak adanya saluran irigasi di wilayah tersebut. Sebagian petani berharap pemerintah melalui Dinas Pertanian untuk membuat saluran irigasi permanen sehingga petani bisa mengairi lahan pertanian tanpa menggunakan sumur bor.

Lihat juga...