YOGYAKARTA – Sejumlah siswa SD Negeri Imogiri, Bantul, Yogyakarta, terpaksa harus mengikuti proses belajar-mengajar di ruang perpustakaan sejak sekitar satu semester terakhir. Hal itu terjadi karena semua ruang kelas yang ada, sudah penuh, sehingga tidak mampu menampung seluruh siswa.
Tak hanya itu, sejumlah siswa pada rombongan belajar (rombel) lainnya, juga terpaksa menggunakan ruang kelas secara bergantian dengan siswa kelas lain, karena sekolah kekurangan ruang kelas.
“Kita memiliki 281 murid yang terbagi dalam 11 rombel. Padahal, kita hanya memiliki 10 ruang kelas. Itu pun salah satu ruang kelas sedang direnovasi. Sehingga kita kekurangan 2 ruang kelas,” ujar salah seorang guru SDN Imogiri, Marjilah, Kamis (25/1/2018).
Untuk mengatasi hal tersebut, pihak sekolah memutuskan menggelar proses belajar-mengajar bagi siswa kelas 2A di ruang perpustakaan. Sedangkan bagi siswa kelas 2B dilakukan secara bergantian dengan siswa kelas 1.
“Jadi, siswa kelas 2B masuk sekolah setelah siswa kelas 1 selesai menggunakan ruang kelas. Yakni, pukul 09.30 WIB. Karena masuk siang, mereka pun harus pulang lebih sore,” katanya.

Menurutnya, kurangnya jumlah ruang kelas itu berdampak pada tidak maksimalnya proses belajar-mengajar bagi siswa, khususnya kelas dua. Selain ruang perpustakaan yang digunakan cukup sempit, fungsi perpustakaan juga menjadi terganggu, karena digunakan sebagai ruang kelas.
“Keterbatasan tempat memang jadi masalah utama sekolah kami. Selain jumlah ruang kelas terbatas, sekolah kami juga tidak memiliki lapangan olahraga, atau ruang aula, sehingga jika olahraga kita harus ke lapangan kelurahan. Bahkan, karena tidak punya tempat, alat gamelan untuk karawitan dan drumband milik sekolah kita titipkan ke kelurahan. Saat main pun siswa juga harus ke sana,” katanya.
Kekurangan jumlah ruang kelas itu terjadi, karena jumlah murid yang masuk ke SDN Imogori melebihi kapasitas. Namun, pihak sekolah tidak bisa membatasi jumlah murid yang masuk, karena memang sekolah SD dilarang menolak siswa yang mendaftar.
“Kita sudah minta bantuan ke Dinas, dan dinas pun sudah memberikan bantuan dana DAK. Hanya saja dana itu baru cukup untuk membuat sebuah lantai dak atas, belum berupa ruang kelas baru. Sehingga belum bisa untuk memindahkan proses belajar-mengajar siswa dari perpustakaan, “katanya.
Para guru maupun siswa SDN Imogiri, sangat berharap agar seluruh ruang kelas yang ada dapat dibangun bertingkat, sehingga mencukupi untuk menggelar proses belajar-mengajar siswa. Termasuk dalam melakukan kegiatan ekstrakulikuler seperti menari, drumband atau karawitan.