Wabup Flotim: Muatan Lokal Membentuk Karakter Siswa
LARANTUKA – Wakil Bupati (Wabup) Flores Timur (Flotim), mengatakan ada tiga kegiatan ekstrakurikuler yang harus dilakukan di sekolah-sekolah di Flotim, agar bisa membentuk mental, kreativitas serta akhlak dan karakter siswa ke arah yang baik.
“Sesuai Perda Nomor 8 Tahun 2013 tentang Penyelenggaraan Pendidikan di Kabupaten Flores Timur, salah satu pasalnya tentang muatan lokal di mana sekolah diberikan kewenangan untuk melakukan kegiatan pembelajaran berisi muatan lokal,” ungkap Agustinus Payong Boli, SH., Wakil Bupati Flotim, Kamis (25/1/2018).

Dikatakan, Agus, sapaannya, tiga muatan lokal (mulok) sesuai perda tersebut, pertama, Kelamaholotan, yakni berupa busana, bahasa, ajaran-ajaran leluhur, situs-situs adat dan lainnya. Kedua, berisi kewirausahawan dan ketiga tentang karakter kepemimpinan.
Menurutnya, sekolah juga perlu mempersiapkan calon-calon pemimpin di masa depan sedini mungkin. Sekolah diberikan kewenangan seluas-luasnya sesuai kondisi wilayah mereka, sehingga sekolah tidak menunggu dari pemerintah kabupaten atau pusat, tapi menggali sendiri mulok yang pas untuk diterapkan di sekolah masing-masing.
“Ini sangat penting, karena Kita mau mencetak generasi-generasi muda ke depan yang berwawasan Kelamaholotan sebagai jati diri, yang bisa berwirausaha untuk meningkatkan ekonomi dan tentunya berkarakter baik,” tegasnya.
Memang, kata Agus, sudah banyak diterapkan di sekolah namun ada juga sekolah yang belum karena kepala sekolahnya kurang kreatif. Pemda Flotim menginginkan kepala-kepala sekolah yang ada di Flotim tidak saja menjabat, tapi memimpin sehingga bisa melakukan inovasi.
“Guru-guru di Flotim perlu meningkatkan kompetensinya. Salah satu caranya dengan membuat tulisan-tulisan ilmiah. Untuk menghasilkan sebuah tulisan ilmiah, tentunya para guru juga harus membaca sehingga tentu dapat meningkatkan ilmu pengetahuan mereka,” tuturnya.
Maksimus Masan Kian, Guru di SMPN 1 Lewolema Flotim, mengatakan, memang muatan lokal penting untuk diterapkan di sekolah. Sebab, di tengah era globalisasi ini nilai-nilai luhur terkait adat-isitiadat yang diwariskan leluhur mulai luntur.
Asosiasi Guru Penulis Nasional (Agupena) cabang Flotim, kata Maksi, sapaannya, terus menggali nilai-nilai Kelamaholotan untuk bisa diterapkan di sekolah. Anak-anak didik pun di sekolahnya diajarkan menulis dan membaca dengan menyediakan majalah dinding di sekolah.
“Kami terus memacu anak-anak didik kami untuk bisa menghasilkan karya tulis yang bagus serta pesan yang ingin disampaikan. Karakter anak didik pun dibentuk lewat berbagai penerapan disiplin dan sopan santun sesuai nilai-nilai ketimuran kita,” ungkapnya.