Budidaya Jangkrik, Heri Berpenghasilan Rp15 Juta Per Bulan

YOGYAKARTA – Berawal dari pengangguran, seorang warga Dusun Jogahan, Temon Wetan, Temon, Kulonprogo, berhasil membudidayakan jangkrik dengan omzet mencapai jutaan rupiah per bulan.

Adalah Heri Santoso (39) lelaki yang memulai bisnis jangkrik sebagai komoditas makanan tambahan bagi para pecinta burung berkicau itu.

Berawal dari coba-coba, kini Heri telah mampu memproduksi jangkrik siap jual lebih dari 600 kilogram setiap bulan. Dengan harga jual Rp25 ribu per kilonya, ia pun mampu mendapat penghasilan hingga Rp15 juta per bulan.

“Awalnya dulu saya nganggur, bingung mau usaha apa. Lalu ada teman yang ajak budidaya jangkrik. Melihat potensi yang ada, saya pun coba-coba pelihara. Ternyata berhasil,” katanya.

Jangkrik yang dibudiayakan Heri sendiri adalah jenis bering. Meski dari sisi produksi lebih rendah dibanding jangkrik jenis genggong, Heri mengaku, memilih membudidayakan jenis ini karena dinilai lebih menguntungkan.

“Kalau jenis genggong itu dari 1 kilogram telur bisa jadi 2 kuintal jangkrik siap jual. Tapi perawatannya susah dan pakannya mahal. Sedang untuk jenis bering, 1 kilogram telur hanya bisa jadi 1 kuintal. Tapi peliharanya mudah dan irit pakan, jadi lebih untung,” katanya.

Heri sendiri membudidayakan jangkrik khusus untuk pembesaran. Selain tidak membutuhkan waktu lama, pembesaran dipilih karena lebih mudah dari sisi perawatan dan cakupan pemasaran juga lebih luas.

“Jadi saya hanya ambil telur jangkrik dari teman. Satu kilo telur Rp250 ribu. Telur itu lalu saya tetaskan hingga menjadi jangkrik untuk kemudian saya jual,” jelasnya.

Dalam pembudidayaan jangkrik itu, Heri hampir seluruhnya memanfaatkan barang tak terpakai di sekitarnya. Mulai dari kandang yang dibuat sendiri dari tripleks dan bambu hingga media tempat jangkrik dari daun pisang kering yang banyak terdapat di desanya.

“Dari telur sampai panen atau siap jual, hanya butuh waktu 30 hari. Jangkrik yang sudah remaja harus segera dijual sebelum tumbuh bulu, karena jika sudah tumbuh bulu tidak laku,” tuturnya.

Untuk makanan jangkrik, Heri biasa memberikan makanan ternak buatan pabrik dengan kebutuhan 1 sak per 1 kilogram bibit hingga panen. Selain itu ia juga memberikan makanan tambahan berupa daun widuri atau rempesan sawi kobis sebanyak 5 kilo per hari untuk seluruh jangkriknya.

“Satu kandang standar ukuran 2,40 x 1,20 meter bisa muat untuk 1 kilo telur. Saya sendiri memproduksi 5-6 kilo telur dengan hasil 5-6 kuintal jangkrik siap jual. Tapi saya bagi dalam 6 sift. Jadi setiap minggu bisa panen 2 kali,” paparnya.

Salah satu syarat perawatan yang harus dilakukan disampaikan Heri adalah penyemprotan rutin setiap hari dua kali agar media tumbuh sedikit lembab. Selain itu kandang juga harus berada di tempat teduh, sehingga tidak terkena hujan.

“Untuk angin atau cahaya tidak terlalu berpengaruh. Yang perlu diperhatikan justru adalah hama seperti semut, kadal, atau tikus. Biasanya kaki kandang dikasih oli dan rutin dicek saja,” katanya.

Untuk pemasaran, Heri mengaku, biasa menyetor jangkrik hingga Klaten dan Magelang. Dalam satu minggu permintaan jangkrik untuk pakan burung berkicau sendiri mencapai 6 kuintal. Ia mengaku, belum mampu mencukupi kebutuhan tersebut, dan harus bekerjasama dengan teman kelompoknya.

“Untuk bibit telur di kelompok saya sudah ada, sehingga tidak jadi masalah. Kendala mungkin lebih pada harga yang kadang jatuh sampai Rp17 ribu per kilo. Selain juga kondisi cuaca hujan sehingga membuat kita susah mencari media berupa daun pisang kering,” pungkasnya.

Jangkrik hasil budidaya dengan media daun pisang kering. Foto: Jatmika H Kusmargana
Lihat juga...