Berkat Bertani Cabai, Sarwo Edi Raih Omzet Rp540 Juta
LAMPUNG — Keberadaan pertanian cabai keriting di Dusun Bandaragung Kelurahan Way Lubuk Kecamatan Kalianda Lampung Selatan ikut mendukung pasokan cabai bagi sejumlah pasar tradisional di Lampung.
Pada saat harga cabai mulai merangkak naik, keinginan untuk mengatasi kenaikan harga tersebut mendorong salah satu petani melakukan penanaman cabai merah secara berkelanjutan. Langkah ini ia lakukan untuk mengupayakan ketersediaan pasokan cabai keriting.
Sarwo Edi Santoso (38), demikian petani cabai menyebut namanya. Dia menanam cabai keriting dengan masa tanam secara berkelanjutan dengan usia berselang 25 hari sekali, sebagai upaya untuk memenuhi kebutuhan pasokan cabai keriting.
Jenis cabai keriting yang ditanam merupakan varietas TM 1,5 hektare dengan penanaman sebanyak 56.000 batang untuk satu hektare dan sebanyak 4.000 batang untuk setengah hektare.
“Cabai merupakan salah satu komoditas penyumbang inflasi sehingga saya sebagai petani cabai tetap melakukan penanaman secara berkelanjutan agar pasokan pasar tetap bisa saya penuhi dari lahan pertanian,” terang pemilik sarwo farm saat ditemui Cendana News di lahan pertanian cabai keriting miliknya, Kamis (11/1/2018).
Budidaya cabai keriting yang sudah dilakukannya sejak 2008, hingga saat ini ia menanam lahan seluas satu hektare tersebut mampu menghasilkan sekitar 20 hingga 22 ton cabai keriting.
Dia memasok cabai keriting ke sejumlah pasar di antaranya pasar wilayah provinsi Lampung, Jambi, Bengkulu dan Sumatera Barat . Setiap minggu, Sarwo mampu mengirim sebanyak dua ton.
Tak heran ia mampu meraih omzet sebesar Rp540 juta lebih dengan rata rata harga Rp27.000 per kilogram. Pemanenan diakuinya bisa dilakukan hingga lebih dari sepuluh kali dengan produksi berbeda.
Sistem penanaman cabai keriting tersebut diakuinya mempergunakan sistem mulsa plastik dalam satu hektar membutuhkan sekitar dua belas gulung mulsa plastik dan ribuan batang ajir terbuat dari bambu.
Proses pengairan dengan sistem penggunaan proses pengairan tetes mempergunakan selang yang disalurkan dari bak penampungan mempergunakan pengairan dari bak berkapasitas 30 kubik air yang disalurkan melalui ratusan pipa.
“Sebagian besar penanganan pertanian mempergunakan minimal bahan kimia sehingga panen cabai yang kita tanam benar benar minim bahan kimia,” beber Sarwo Edi Santoso.
Penggunaan limbah peternakan tersebut diakuinya dengan penggunaan urine sapi bekerjasama dengan peternak yang ada di wilayah tersebut. Ia bahkan membeli urine ternak kambing dari salah satu peternakan di Kecamatan Palas yang dipergunakan sebagai pupuk cair.
Penggunaan bahan organik tersebut diakuinya ikut meminimalisir biaya operasional untuk budidaya tanaman cabai.
Selain memasok cabai keriting yang saat ini harga di level petani Rp27.000, ia sudah mulai memasuki pasar ritel modern. Saat ini ia menyebut sudah melakukan pemasokan ke salah satu pasar ritel modern yang ada di Lampung.
Sarwo menggunakan merek dagang Sarwo Fruit and vegetable. Produknya sudah dikirim ke ritel modern di Jakarta terutama saat jelang bulan Ramadhan.
Dalam menjalankan usahanya, Sarwo dibantu sebanyak 20 orang tenaga perawatan. Sementara untuk proses pemanenan bisa membutuhkan sekitar 70 orang.
Sarwo Edi menyebut untuk mendapatkan hasil kualitas pertanian cabai yang baik dirinya sudah memperoleh Good Agriculture Practise (GAP) Budidaya cabe pada pengembangan klaster di Kabupaten Lampung Selatan.
Selain itu ia menyebut sebagai petan,i dirinya juga mendirikan pusat pelatihan pertanian dan perdesaan swadaya (P4S) Dahlia dalam upaya pelatihan kerwirausahaan agribisnis.
