Begini Komitmen Posdaya Hidayah Memberdayakan Masyarakat Nelayan

PADANG — Jejak Pemberdayaan Yayasan Damandiri — Posdaya Sejahtera yang berada di Kelurahan Gates Nan XX, Kecamatan Lubuk Begalung, Kota Padang, Sumatera Barat (Sumbar), merupakan kawasan yang sebagian besar penduduknya berprofesi sebagai nelayan, karena daerah tersebut berada dekat dari laut dan Teluk Bayur.

Keberadaan Posdaya melalui pinjaman modal usaha Tabur Puja, seakan menjadi sandaran bagi para nelayan setempat. Di Kelurahan Gates Nan XX jenis nelayannya tidak hanya merupakan nelayan bagan, tetapi juga cukup banyak nelayan tradisional.

Ketua Posdaya Sejahtera Latifah mengakui, penikmat pinjaman Tabur Puja di Posdaya cukup banyak dari para nelayan, selain dari usaha berdagang dan usaha cafe di lokasi wisata. Saat ini terdapat sekira 150 orang yang menikmati pinjaman lunak Tabur Puja tersebut.

“Ya di sini kebanyakan nelayan, jadi yang meminjam langsung itu para bapak. Pinjaman yang diajukan mereka itu untuk kebutuhan pembelian alat tangkap nelayan, seperti jaring, pancingan, dan kebutuhan perbaikan kapal nelayan,” katanya, Jumat (26/1/2018).

Ia menyebutkan, mengingat yang meminjam ialah masyarakat yang berprofesi sebagai nelayan, soal pembayaran macet memang terkadang pernah terjadi. Itu pun dikarenakan faktor cuaca yang membuat para nelayan urung melaut, sehingga tidak memiliki uang untuk membayar kredit pinjaman.

Kondisi itu diakui Latifah tidak menjadi permalasahan bagi Posdaya Sejahtera, karena hadir untuk membantu masyarakat. Jadi situasi dan kondisi masyarakat perlu dipahami, sehingga tidak ada istilah paksaan ataupun pakai rentenir untuk meminta masyarakat yang meminjam Tabur Puja membayar kredit.

“Hal itu terjadi ketika cuaca buruk saja, tapi kalau lagi melaut dan hasil tangkapan banyak, cukup sering para nelayan membayar kredit secara dobel, sehingga pelunasan pinjaman bisa lebih cepat,” ucapnya.

Latifah juga menyampaikan, pernah menerima keluhan dari para nelayan yang mendapatkan pinjaman dari Tabur Puja, terkait adanya aturan dari Kementerian Kelautan Perikanan terhadap nelayan bagan, sehingga membuat para nelayan tidak bisa melaut. Kondisi yang demikian, juga membuat situasi para nelayan semakin memburuk, karena tidak lagi memiliki penghasilan.

“Saya dapat cerita itu dulu. Tapi sekarang para nelayan sudah melaut lagi. Namun, kondisi itu sempat membuat kami di Posdaya berpikir juga. Hal semacam apa yang bisa membantu para nelayan tersebut, sehingga tetap memiliki usaha yang bisa menghasilkan uang, tanpa harus melaut. Tapi ternyata melaut adalah usaha satu-satunya yang harus dijalani, dan sulit untuk mengarahkan ke usaha lain,” jelasnya.

Berada di kawasan pantai, yang penduduknya sebagian besar tergantung dari melaut, membuat Posdaya Sejahtera harus memiliki komitmen bahwa Tabur Puja bukanlah menjadi hal yang memberatkan secara ekonomi bagi para nelayan ataupun penikmat Tabur Puja lainnya. Tapi, Tabur Puja hadir untuk memberikan solusi dengan modal yang bisa membantu masyarakat atau nelayan, agar tetap bisa mengais rezeki di lautan lepas, untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

Edi Junaidi, seorang nelayan tradisional di kawasan tersebut menceritakan, nasib seorang nelayan sangat tergantung dengan kondisi alam. Jika cuaca buruk seperti hujan dan badai, maka terpaksa berdiam diri di dalam rumah, bersama keluarga. Hal yang paling dikhawatirkan, jika cuaca buruk berlangsung lama, sehingga tidak ada sumber pemasukan untuk kebutuhan belanja keluarga.

“Nasib nelayan itu, kadang-kadang dapat ikan, kadang-kadang tidak. Jika pun ada dapat ikan, terkadang hanya sedikit bahkan tidak bisa membayarkan kebutuhan untuk melaut. Tapi, inilah mata pencarian satu-satunya untuk keluarga saya,” ucapnya.

Ia menyebutkan, jika cuaca bersahabat, rata-rata setiap pulang melaut, ia bisa mendapatkan penghasilan Rp400.000. Jumlah penghasilan itu, dikatakannya cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga sehari-hari. Namun, aktivitas nelayan tradisional itu, tidak bisa rutin dilakukan. Selain tergantung cuaca, juga tergantung musim ikan. Apabila dihitung dan dirata-rata penghasilan per bulan mencapai Rp4 juta.

“Kami para nelayan sangat mengetahui, kapan musim ikan itu ada, dan kapan tidak ada. Jadi meski cuaca bagus, jika tidak musim ikan, para nelayan pun bakalan tidak melaut, dan lebih memilih untuk memancing sebagai kebutuhan untuk dimasak di rumah,” katanya.

Ia juga mensyukuri, dengan adanya perbaikan dan penambahan peralatan melaut berkat pinjaman Tabur Puja, sedikit-banyak telah mempengaruhi jumlah tangkap ikan. “Yang saya lihat di Tabur Puja ini, bukan soal jumlah pinjaman, tapi soal kepercayaan yang diberikan kepada masyarakat,” tegasnya.

Nelayan tradisional di Kota Padang kembali ke tepian di saat petang setelah seharian menangkap ikan di laut/Foto: M. Noli Hendra
Lihat juga...