MAUMERE – Menanam bakau yang sering dilakukan oleh segenap elemen masyarakat dan pemerintah kabupaten Sikka, baik melalui dinas perikanan maupun dinas lingkungan hidup, hendaknya jangan sekedar seremonial belaka.
“Selama ini, setelah bakau ditanam banyak yang rusak dan tidak tumbuh, karena tidak ada pengontrolan lagi. Lebih baik dananya diberikan kepada warga yang bermukim di pesisir pantai untuk menanam dan merawatnya,” sebut Adrianus Sari, Sekertaris Kelompok Cinta Alam Nuwa Teu, Rabu (10/1/2017).

Adrianus, kepada Cendana News menyesalkan banyak bakau yang ditanam di pesisir pantai utara kabupaten Sikka, hampir semuanya tidak tumbuh dan mati terseret gelombang. Pantai utara gelombangnya besar, khususnya saat musim barat bulan Januari sampai Februari.
“Bakau yang ditanam Dinas Lingkungan Hidup dan BPBD Sikka bulan Desember 2017 lalu di Desa Kolisia sekitar 300 anakan hampir semuanya mati, sebab tidak ada petugas yang mengontrolnya,” sesalnya.
Seharusnya, anakan bakau yang ditanam harus diikat pada kayu atau batang bamboo, agar saat diterjang gelombang anakan bakau tidak terseret ombak. Kalau bakaunya mati seharusnya segera diganti agar niat untuk menghijaukan pesisir pantai bisa terlaksana.
“Selama ini orang tanam bakau dan pohon hanya sekedar gagah-gagahan saja biar dikatakan mencintai lingkungan. Percuma saja kalau setelah tanam pohon tersebut tidak tumbuh,” ungkapnya.
Antonius Nong, Ketua Kelompok Cinta Alam kepada Cendana News menyebutkan, pihaknya yang selama ini menghijaukan beberapa pesisir pantai utara di desa Kolisia, Kecamatan Magepanda sering tidak diajak untuk menjaga agar bakau yang ditanam tetap tumbuh.
Dikatakan Antonius, pihaknya sudah mengajukan permohonan kepada Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Sikka, agar bisa dibantu dana untuk penanaman bakau di pesisir pantai utara Sikka, khususnya di Desa Kolisia dan sekitarnya.
“Dulu pesisir pantai utara, khususnya di Kecamatan Magepanda selalu rimbun oleh hutan bakau, namun bakau tersebut ditebang oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab. Pemerintah harus tindak tegas bila ada oknum yang menebang bakau,” pintanya.
Antoniius pun mencontohkan, beberapa pohon bakau di Desa Kolisia dekat areal pembibitan bakau milik kelompoknya ada beberapa yang ditebang orang saat malam hari. Biasanya mereka menggunakannya untuk tiang rumah, sehingga kami sering mengontrol hutan bakau setiap pagi dan sore.
“Anggota kelompok kami setiap hari terpaksa mengontrol hutan bakau agar jangan ditebang orang. Banyak yang mencari bakau jenis Santigi yang katanya harga jualnya mahal,” tuturnya.