ACT Salurkan 10.000 Ton Beras ke Palestina
JAKARTA – Keputusan sepihak Amerika Serikat (AS) terkait pemindahan ibukota Israel ke Yerusalem atau Al-Quds, telah memicu kembali krisis Israel-Palestina, selama lima dekade ini. Reaksi protes dan kecaman keras pun dilayangkan warga Palestina dan dunia termasuk Indonesia kepada AS.
Presiden Aksi Cepat Tanggap (ACT), Ahyudin, mengatakan, peristiwa di Palestina telah membangkitkan filantropi yang kuat dari rakyat Indonesia. Empati dan kepedulian bangsa Indonesia untuk Palestina kembali disalurkan oleh ACT.
“ACT akan menyalurkan bantuan berupa 10.000 ton beras untuk warga Palestina, dan segera dilayarkan melalui program Kapal Kemanusiaan,” kata Ahyudin, saat konferensi pers Kapal Kemanusian untuk Palestina, di kantor ACT, Menara 165, Jakarta, Rabu (10/1/2018).
Dengan bantuan kemanusiaan berupa beras ini, Ahyudin menegaskan, bahwa beras ini merupakan simbol kemakmuran Indonesia. Diharapkan dalam suhu politik gencaran kaum zionis, warga Palestina tidak kelaparan.
“Sepuluh ribu ton beras ini diambil langsung dari petani Indonesia, terbesarnya petani dari Pulau Jawa. Gabahnya kami beli dari petani dengan harga di atas harga pemerintah, yakni Rp11.000 per kilogram,” kata Ahyadin.
Dengan begitu, tambah dia, para petani juga terbantu dan kesejahteraannya meningkat. Bahkan, mereka merasa senang gabahnya dibeli untuk bantuan kemanusiaan ke Palestina.
Namun demikian, sebut dia, tidak hanya bantuan beras. Bantuan pangan lain, seperti gula dan tepung juga diangkut oleh Kapal Kemanusiaan ke Palestina.
Bantuan pangan menjadi prioritas pengiriman bantuan kemanusiaan untuk Palestina. Sebab, kata Ahyudin, pangan menjadi kebutuhan pokok yang sangat dibutuhkan dan mendesak oleh warga Palestina.
Pada kesempatan ini, Ahyudin menjelaskan, pasang surut tindakan represif sepihak Israel berupa tindakan represif langsung maupun melalui lobi zionisme, dari tahun ke tahun semakin memperburuk kondisi warga Palestina.
Kondisi memburuk itu, tidak hanya di Yerusalem Timur, tapi juga di Gaza. Selama berpuluh tahun, mereka hidup dalam serba keterbatasan.
Lebih lanjut, Ahyudin menyampaikan, populasi di Gaza saat ini berkisar 2 juta jiwa. Lebih dari 80 persen warganya hidup dalam kesulitan ekonomi, sosial dan pangan. Sejauh ini mereka hidup serba terbatas dan mengandalkan bantuan dari dunia luar.
Hingga kini, lebih dari 200 ribu keluarga di Gaza memerlukan bantuan kemanusiaan. Diperkirakan, volume 10 ribu ton bantuan pangan tersebut mampu memberi dukungan logistik bagi warga Palestina yang membutuhkan.
“Insyha Allah atas ridho Allah SWT, 10 ton beras ini akan dilayangkan pada 21 Februari 2018 dari pelabuhan Tanjung Perak Surabaya,” kata Ahyudin.
Kembali dia menegaskan, ada spirit kemerdekaan untuk Palestina di setiap kepal beras yang dikapalkan ke Palestina. “Setiap kepal beras membawa pesan dunia untuk kemerdekaan Palestina,” ujar Ahyudin.
Dalam penyaluran bantuan kemanusiaan 10 ton beras ini, kata dia, ACT akan menggandeng Samudera Indonesia. Jalur distribusi tengah dimatangkan bersama dengan beberapa inisiasi audiensi dengan Kedutaan Besar Mesir dan Palestina di Indonesia.
Bantuan ini diperkirakan akan masuk melalui Gaza, termasuk jalur tambahan melalui wilayah Tepi Barat dan Yerusalem.