JAKARTA – PT Angkasa Pura II (AP II) resmi mengelola jasa kebandarudaraan di Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) atau Bandara Kertajati, Majalengka. Pengelolaan tersebut sudah dituangkan dalam perjanjian kerjasama antara AP II, Pemprov Jawa Barat dan Manajemen PT Bandar Udara Internasional Jawa Barat.
Direktur Utama PT Angkasa Pura II Muhammad Awaluddin mengatakan, perjanjian kerjasama di tandatangani oleh Dirut AP II PT Angkasa Pura II (Persero) Muhammad Awaluddin, Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan dan Direktur Utama PT Bandar Udara Internasional Jawa Barat Virda Dimas Ekaputra. Turut hadir dan mensaksikan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Bappenas Bambang PS Brodjonegoro dan Ketua DPRD Provinsi Jawa Barat Ineu Purwadewi Sundari.
Perjanjian kerjasama pengelolaan bandara tersebut bagian dari tindak lanjut framework commitment dan nota kesepahaman yang telah ditandatangani bersama antara PT AP II dengan PT BIJB pada Juli 2017 silam. Perjanjian kerjasama tersebut menempatkan PT AP II sebagai operator atau pengelola Bandara Internasional Jawa Barat.
“Nota kesepahamannya, untuk melaksanakan kerjasama operasi (KSO) Penyelenggaraan Jasa Kebandarudaraan, termasuk pengoperasian dan pemeliharaan terhadap bandara selama jangka waktu perjanjian,” jelas Awaluddin, Senin (22/1/2018).
AP II disebutnya, akan mengoperasikan seluruh aset sisi darat dari BIJB termasuk terkait dengan Pelayanan Jasa Kebandarudaraan dan Pelayanan Jasa Terkait Bandara. “Intinya secara keseluruhan operasional BIJB akan dilaksanakan oleh AP II dan kami yakin kehadiran kami dapat berkontribusi meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional dan daerah setempat,” jelasnya.
Kerja sama operasi ini akan berlaku selama 17 tahun, di mana PT AP II akan mengelola BIJB sampai dengan 2035 dengan kepemilikan saham korporasi antara 25 persen sampai 49 persen.
Usai penandatangan perjanjian kerjasama, PT AP II bersama dengan PT BIJB dan Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan akan membentuk tim kesiapan operasi dan transfer bandara. Tim akan bertugas untuk mengatur persiapan pra-operasi bandara guna memastikan kesiapan operasional bandara, termasuk melakukan inventarisasi aset dan due diligence yang diperlukan.
PT AP II akan fokus pada tiga hal yaitu percepatan penyelesaian konstruksi proyek, percepatan operasi bandara untuk mendukung Penerbangan Angkutan Haji pada Juni 2018 dan penambahan perpanjangan landas pacu dari 2.500 meter x 60 m menjadi 3.000 meter x 60 meter.
Dalam pengoperasian tahap awal, BIJB memiliki terminal berkapasitas lima juta penumpang per tahun. Rencananya kapasitas tersebut akan dikembangkan hingga kapasitas maksimalnya dapat melayani 18 juta penumpang per tahun.
“Nantinya di BIJB ini juga akan kami implementasikan dan tingkatkan soft infrastructure seperti bandara AP II lainnya dalam memberikan pelayanan kepada penumpang dalam program Smart Airport untuk meningkatkan pengalaman konsumen melalui aplikasi mobile dan mengefisiensikan kegiatan operasional bandara dengan membangun infrastruktur digital di BIJB. Salah satunya adalah dengan penggunaan aplikasi mobile Indonesia Airport dan juga aplikasi operasional iPerform,” pungkas Awaluddin. (Ant)