46 SMP di Balikpapan Terapkan Sekolah Lima Hari

BALIKPAPAN – Sebanyak 46 Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Kota Balikpapan mulai menerapkan sekolah lima hari, setelah masa liburan sekolah tahun 2018. 46 SMP itu terdiri 22 SMP Negeri dan 24 SMP swasta.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Balikpapan, Muhaimin mengatakan, dengan diterapkannya lima hari sekolah ini maka pada hari Sabtu siswa sudah dapat menikmati libur. Sehingga dalam satu minggu terdapat dua hari libur sekolah.

“Dua hari waktu libur itu harapannya dimanfaatkan bersama keluarga dan beradaptasi di lingkungan sekitar. Sehingga mereka atau siswa ini memiliki waktu yang panjang dalam sosialisasi di lingkungan rumah,” terangnya Kamis (4/1/2018).

Dia menjelaskan, lima hari sekolah ini siswa akan dimaksimalkan dalam kegiatan belajar hingga sore karena waktunya dipadatkan agar di hari Sabtu dan Minggu sudah dapat libur.

“Di sisi lain siswa belajar hari Senin sampai Jumat itu mulai hingga sore hari. Nah sisanya mereka berinteraksi bersama orang tua dan keluarga di rumah ataupun lingkungan sekitar,” sebut Muhaimin.

Kendati demikian, penerapan sekolah lima hari ini belum dapat diterapkan di SMP 21 karena pelajar yang bersekolah harus menggunakan transportasi perahu kelotok.

“Tidak dimungkinkan mereka para pelajar SMP 21 diterapkan hal yang sama. Karena waktu naik kelotok juga sudah memakan waktu. Kelotoknya juga sistem sewa menggunakan dana BOS,” pungkasnya.

Selain itu, Muhaimin menjelaskan, pada tahun ajaran 2018-2019 akan ada perubahan dalam sistem Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) khususnya untuk zonasi yang bakal dimaksimalkan dalam penerapannya.

“Kita masih tunggu petunjuk teknis dari Permendikbud Nomor 17 Tahun 2017. Tahun lalu itu BL (Bina Lingkungan) masih menggunakan sistem seleksi nilai, kalau nanti sudah tidak, pokoknya yang terdekat harus diterima,” sebutnya.

Hal itu dilakukan karena apabila siswa BL tidak diterima, maka sangat berdampak mengingat lokasi tempat tinggal dan sekolah sangat dekat.

“Kita juga harus pelan-pelan menghilangkan stigma sekolah unggulan. Kita tunggu juknis dulu,” tambah Muhaimin.

Pelajar SMP 21 menggunakan perahu kelotok saat menuju sekolah. Foto: Ferry Cahyanti
Lihat juga...