Sego Gurih, Kuliner Tradisional Jogja yang Sarat Makna
YOGYAKARTA — Sego gurih atau nasi gurih merupakan salah satu kuliner khas Yogyakarta. Makanan yang sarat nilai filosofi dan tradisi ini banyak ditemukan saat perayaan Sekaten, dalam rangka memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad atau Maulud Nabi.
Bersamaan dengan digelarnya Sekaten, akan banyak penjual dadakan nasi gurih bermunculan di sekitar Masjid Gede Kauman. Di tempat inilah sepasang gamelan kuno Kanjeng Kyai Gunturmadu dan Kanjeng Kyai Nagawilaga dilantunkan hingga berakhirnya perayaan Garebeg yang ditandai keluarnya sejumlah Gunungan.
Salah seorang warga Kauman, Yogyakarta yang sudah berjualan selama puluhan tahun, secara turun temurun, Surat (50) menuturkan, sego gurih merupakan makanan yang khusus dibuat saat perayaan Sekaten.
“Cara membuat sego gurih ini seperti membuat nasi biasanya. Hanya ditambah bumbu rempah-rempah agar memiliki rasa gurih. Yakni kerambil (kelapa parut), daun salam, daun pandan, garam dan bawang merah,” ujarnya.

Selain nasi, sego gurih biasanya juga dihidangkan dengan aneka macam pelengkap seperti lalapan dan lauk-pauk. Mulai dari irisan kubis, acar, tempe keripik yang dipotong kecil-kecil, srondeng atau parutan kelapa yang digoreng, irisan telur dadar, kacang goreng, dele goreng, suiran ayam goreng, sambal goreng kerecek, peyek hingga kerupuk.
“Biasanya nasi disajikan tidak terlalu banyak. Itu karena lauk pauknya sudah beraneka macam,” katanya.
Selain memiliki rasa yang khas, nasi gurih juga dipercaya sebagian masyarakat sebagai menu makanan wajib yang harus dinikmati setiap perayaan sekaten. Pasalnya memakan sego gurih dipercaya akan mendatangkan berkah tersendiri bagi penyantapnya.
“Sego Gurih ini kan memiliki makna sebagai simbol keberkahan dan kemakmuran. Karena itu dengan memakan Sego Gurih sebagai wujud rasa syukur, nikmat seseorang akan semakin ditambah oleh Tuhan Yang Maha Esa,” katanya.
Salah satu mitos yang masih dipercaya masyarakat khususnya Yogyakarta dan sekitarnya hingga saat ini, dengan memakan sego gurih sembari mendengarkan lantunan gamelan Sekaten, akan menjadikan seseorang bisa awet muda.
“Kalau soal itu tergantung kepercayaan setiap orang masing-masing,” tutup Surat.