Jusuf Kalla: Hasil Penelitian Harus Mengandung Tiga Hal

MALANG — Sebuah penemuan seharusnya tidak hanya berhenti untuk sekedar dipamerkan, tetapi juga harus bisa dijual, agar bisa bermanfaat.

Hal tersebut disampaikan Wakil Presiden, Jusuf Kalla, saat menghadiri Seminar Nasional ‘Hilarisasi Teknologi dan Start-up Bisnis’ sekaligus Peresmian Jusuf Kalla (JK) Innovation and Entrepreneurship Centre di Gedung Widya Loka, Universitas Brawijaya (UB), Senin (4/12/2017).

Jusuf Kalla menyampaikan, saat ini pemerintah telah banyak membentuk lembaga untuk memudahkan para inovator mendapatkan permodalan termasuk Kredit Usaha Rakyat (KUR), Bank Syariah dan ventura. Namun, tentunya dibutuhkan sinergi bersama antara pemerintah, perguruan tinggi dan pihak industri, sehingga anak-anak muda yang kreatif bisa berkarya dengan nyaman.

Rektor UB, Mohammad Bisri. -Foto: Agus Nurchaliq

“Karena semua inovator itu tidak mengenal jam kerja. Kadang-kadang ide bisa datang kapan saja, bahkan tengah malam. Kalau sudah begitu, mereka ya harus segera mengerjakannya, meskipun tengah malam”, katanya.

Lebih lanjut, JK meminta agar perguruan tinggi tidak memamerkan produk yang sama setiap tahunnya, tapi harus ada produk yang baru sehingga ada dorongan bagi anak-anak muda untuk terus-menerus menciptakan inovasi produk yang baru.

“Intinya, suatu penelitian atau penemuan bisa bermanfaat, bila bisa dijual dan diimplementasikan oleh masyarakat,” ucapnya.

Selain itu, sambungnya, seharusnya sebuah penemuan atau inovasi harus bisa dijual. “Karena saya melihat banyak sekali penemuan-penemuan yang dihasilkan di perguruan tinggi, tapi hanya sedikit yang bisa dijadikan usaha. Semua penemuan harus mengandung tiga hal, yakni lebih baik, lebih cepat dan lebih murah,” tuturnya.

JK juga meminta, agar perguruan tinggi, pemerintah daerah dan juga pengusaha industri berusaha bersama-sama meneliti dan menciptakan inovasi yang bermanfaat, baik di bidang farmasi, teknologi pertanian maupun IT, sehingga bisa memiliki nilai jual.

“Karena inti dari penemuan itu adalah dapat terjual. Kalau penemuan hanya untuk penemuan saja, saya kira itu hanya akan berakhir di museum, karena hanya bisa diciptakan, tapi tidak bisa berjalan, sehingga tidak dapat memberikan dampak yang banyak bagi masyarakat” ungkapnya.

Sementara itu, Rektor UB, Mochamma Bisri, mengatakan, bahwa seharusnya Research and Development perusahaan industri masuk ke perguruan tinggi. Sehingga perguruan tinggi melakukan penelitian berdasarkan permintaan, bukan karena kemauan sendiri.

“Karena kalau kita buat penelitian sendiri ternyata nanti tidak ada yang berminat. Sehingga kita melakukan penelitian itu berbasis pada kebutuhan stakeholder,” ucapnya.

Untuk itu, lanjutnya, perguruan tinggi harus bisa terhubung dengan pabrik yang bisa memproduksi massal. Tetapi menurut Bisri, perguruan tinggi tidak bisa berdiri sendiri, tapi juga harus ada dukungan dan dorongan dari pemerintah daerah.

“Karena sebuah perusahaan atau industri ada di bawah pemerintah daerah, bukan di bawah perguruan tinggi, sehingga pemerintah daerah harus bisa menghubungkan perguruan tinggi dengan pihak industri, pungkasnya.

Lihat juga...