Dosen Universitas Brawijaya Ini Kembangkan Varietas Jagung Ungu
MALANG – Tidak banyak orang yang mengetahui, selain berwana kuning ternyata jagung juga ada yang memiliki warna ungu.
Dia adalah Dr. Arifin Noor Sugiharto, seorang dosen dan pemulia tanaman Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya (UB) yang berhasil menciptakan sekaligus mengembangkan jagung berwarna ungu total di Indonesia.
Arifin menceritakan sudah sejak tahun 2007 dirinya mulai fokus meneliti tanaman jagung untuk bisa menghasilkan varietas-varietas jagung yang unggul. Dengan menggabungkan cara conventional breeding dengan unconventional breeding, berbagai jenis jagung berhasil ia ciptakan dan beberapa di antaranya sudah ada yang dipasarkan.
“Di sini kami memakai metode conventional breeding dengan melakukan persilangan untuk menguji. Sedangkan untuk mempercepat prosesnya digunakan unconventional breeding dalam hal seleksi,” ujarnya.

Menurutnya, kalau dulu untuk menggunakan secara cepat dibutuhkan waktu 14-15 kali musim tanam atau sekitar tujuh tahun lebih, saat ini dengan menggunakan beberapa teknik hasilnya sudah bisa diketahui dalam kurun waktu dua tahun.
Lebih lanjut dijelaskan Arifin, asal jagung ungu sebenarnya dari negara Amerika selatan Meksiko. Tapi karena gen-gen itu susah didapatkan sehingga ia mencoba untuk mengisolasi dan mengumpulkan sedikit demi sedikit sehingga ditemukan jenis jagung ungu. Selain itu juga ada jenis jagung ketan yang berasal dari China.
“Semua jenis jagung itu kita padukan sehingga terciptalah jenis jagung ungu manis, jagung ungu ketan manis,” terangnya.
Arifin menyampaikan bahwasannya jagung ungu mengandung antosianin yang tinggi sehingga sangat baik untuk diet dan bagi yang mempunyai masalah kesehatan. Untuk jagung ketan sendiri juga baik untuk orang yang mempunyai masalah dengan pencernaan dan juga diabetes.
“Kami juga ada benih jagung manis yang sudah dipasarkan dengan kerjasama perusahaan benih. Selain produktivitasnya yang lebih tinggi, jagung manis Brawijaya sweet juga lebih tahan terhadap penyakit. Dengan usia panen 72-78 hari tergantung ketinggian tempatnya,” ujarnya.
Dengan keberhasilan menciptakan berbagai jenis benih, ia berharap bisa membantu petani untuk lebih memiliki pilihan jenis benih yang berkualitas dengan harga terjangkau.
“Harapan ke depan kami ingin petani bisa lebih berdaulat dalam arti tidak hanya punya satu pilihan benih yang didikte oleh suatu perusahaan besar yang menguasi benih. Walaupun pelan-pelan kami ingin petani bisa mendapatkan keuntungan lebih dari produksi benih yang dikembangkan oleh Universitas Brawijaya. Karena benih yang kami hasilkan memang lebih berkualitas dan lebih terjangkau sehingga margin keuntungan petani bisa lebih tinggi,” pungkasnya.