Beternak Bebek Memberikan Penghasilan Tambahan Petani Lamsel
LAMPUNG — Hamparan lahan persawahan dengan luas ribuan hektare di Kecamatan Palas, Sragi dan Penengahan menjadi lokasi ideal bagi penggembalaan ternak bebek. Persawahan ini menyediakan sumber pakan alami seperti keong mas. Ternak bebek menjadi sumber penghasilan sampingan bagi petani.
Dermawan (40), salah satu warga Pringsewu mengaku sudah beternak bebek sejak 18 tahun silam melalui pemeliharaan anakan bebek sejak umur 0 bulan hingga 6 bulan.
Bebek yang diternak dengan sistem penggembalaan harus dipilih dari indukan bebek berkualitas serta berasal dari penetas telur terpercaya untuk menghasilkan bebek yang bisa memproduksi telur. Menurutnya seekor bebek betina usia 5 bulan sudah bisa memproduksi telur satu butir per hari.
Dermawan memiliki sekitar 300 ekor bebek siap bertelur dengan produksi per hari mencapai 200 hingga 250 butir, berkat bibit berkualitas dari salah satu penetas telur bebek di Desa Bandanhurip, Kecamatan Palas, Kabupaten Lampung Selatan.
“Saya selalu membeli bibit bebek yang bagus dengan harapan bisa menghasilkan telur bebek yang banyak dan kebetulan pemilik mesin penetasan bebek juga peternak bebek sehingga mengetahui kualitas bebek yang berkualitas,” ujar Dermawan kepada Cendana News di Desa Bandanhurip, Kecamatan Palas, Senin (4/12/2017)
Musim penggembalaan ternak bebek dilakukan pada November dengan prediksi masa pengolahan lahan sawah akan dilakukan pada Januari. Dermawan mengaku memiliki satu bulan untuk menggembalakan ternak di hamparan sawah Kecamatan Palas sembari menambah jumlah bebek sebanyak 200 ekor. Sehingga bebek miliknya genap menjadi 500 ekor. Bebek-bebek ini dibeli dari penyedia bibit bebek dengan menggunakan mesin penetas.
Selain para penggembala bebek yang merupakan peternak luar wilayah Lampung Selatan, pemilik usaha penetasan telur bebek, Warid (50) menyebut banyak peternak bebek skala rumahan yang menjadikan ternak bebek sebagai usaha sampingan.
Jumlah bebeknya mencapai 50 hingga 100 ekor. Hasil telur yang diperoleh bisa dipergunakan untuk lauk keluarga sebagian bisa dijual dengan harga Rp1.500 hingga Rp2.500 per butir menyesuaikan ukuran. Sebagian peternak bebek membeli bibit bebek dari usaha penetasan telur bebek yang ditekuni Warid sejak sepuluh tahun silam.
Warid memiliki alat penetas dengan kapasitas 50 butir. Cara penetasannya sistem boks karena bibitnya akan dipergunakan sendiri. Sang Isteri Nasmiati juga mempunyai usaha membuat telur asin memberikan penghasilan tambahan bagi rumah tangganya.
Setelah berjalan selama beberapa tahun ia mulai berkreasi membuat mesin penetas dengan bahan baku kayu, kawat, paku serta instalasi listrik di dalamnya dilengkapi pengukur suhu dan alat lain.
“Awalnya saya membuat alat penetas telur sebanyak satu pintu dan berhasil kemudian membuat alat penetas dua pintu hingga sekarang dipergunakan sendiri dan sebagian dijual atas pesanan peternak lain,” ujar Warid.
Alat penetas buatannya dengan kapasitas mencapai 300 butir telur bebek untuk ditetaskan diakui dijual dengan harga Rp1.100.000 untuk satu pintu dan harga Rp2.200.000 untuk ukuran dua pintu. Alat buatannya banyak dipesan peternak bebek sekaligus penyedia bibit bebek dari Kecamatan Kalianda, Sragi hingga Penengahan.
Alat penetas bebek yang diatur suhunya dengan alat thermostat dan lampu tersebut diakuinya bisa menetaskan telur selama masa inkubasi selama 25-28 hari, lalu bibit dipisahkan dalam tempat khusus setelah menetas.
Setelah bibit bebek dipisahkan pada kandang khusus ketika memasuki masa remaja dari umur 0-8 minggu, 9-16 minggu. sPada usia itu sebagian pembeli sudah mulai memesan dengan harga bibit Rp7.000, Rp10.000,Rp15.000 per ekor sesuai usia. Pada bebek usia 6 bulan yang disediakan kandang khusus dijualnya per ekor dengan harga Rp60.000, yang banyak dibeli oleh peternak yang ingin cepat memelihara bebek produktif.
Permintaan akan bibit untuk ternak bebek tersebut bahkan memberinya omzet sebulan mencapai Rp3 juta hingga Rp4 juta belum termasuk saat ada pesanan pembuatan alat penetas. Saat ini Warid memiliki sebanyak lima alat penetasan telur bebek hasil modifikasi sendiri.
Dia mampu memproduksi anakan bebek 300-600 ekor per bulan dan saat ini menyediakan sebanyak 4000 ekor anak bebek berbagai usia dari 2 bulan hingga 6 bulan siap jual kepada peternak bebek.
Rendy, salah satu peternak bebek di Desa Sukaraja, Kecamatan Palas mengaku sengaja membeli bibit bebek usia 6 bulan untuk diternak, setelah dirinya memiliki lahan persawahan dan kolam ikan yang berpotensi bisa dipergunakan sebagai kandang bebek dan bisa digembalakan. Sebanyak 100 ekor bebek yang diternak tersebut mampu menghasilkan 90 butir telur setiap hari setelah dipeliharanya dalam usia 7 bulan.
“Potensi lahan pertanian terutama saat musim hama keong mas pada lahan sawah sebagai sumber pakan alami membuat saya memutuskan untuk beternak bebek sekaligus menghasilkan telur,” papar Rendi.
Rendi tidka saja beternak bebej yang memiliki nilai ekonomis tinggi, ia bisa memaksimalkan fungsi alat pembuat pelet yang dimilikinya dengan menggiling dedak gabah, keong mas dan nutrisi lain. selain untuk pembuatan pakan ikan sekaligus bisa dipergunakan untuk membuat pakan bebek sebagai pakan tambahan selain pakan alami saat digembalakan.
Beternak bebek diakui Rendi selain menguntungkan bisa menghasilkan telur hingga bebek maksimal berusia 3 tahun dengan hasil ratusan ribu per pekan bebek tak produktif pun bisa dijual sebagai bebek pedaging dengan harga Rp30.000 per ekor.
