Wayang Beber yang Kian Langka dan Kisah ‘Ki Brayut’ (2)
BANTUL — Pagelaran wayang beber di Desa Branjan, Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul, di titik bantaran Sungai Bedog, pada malam itu menyedot antusiasme para penonton. Tontonan wayang beber yang keberadaanya kian langka ini, menjadi bagian penting dalam melestarikan produk budaya bangsa.
Banyak anak-anak kecil dan remaja turut menyaksikan pagelaran wayang beber mengambil lakon “Ki Brayut” dengan dalang Ki Tejo Bagus Sunaryo. Pementasan berlangsung kurang lebih selama satu setengah jam, dimulai sekira pukul 21.00 hingga 22.40 WIB, pada Jumat pekan lalu.
Ki Tejo Bagus Sunaryo mengatakan, dengan dihidupkannya lagi wayang “Ki Brayut” melalui media wayang beber sangat bagus. Apalagi penikmatnya tak hanya orang dewasa tetapi juga anak-anak kecil dan remaja. Mereka juga sangat antusias dengan pagelaran wayang tersebut.
Ia berharap dengan digelarnya wayang beber, dapat tertanam nilai moral dalam benak warga sekitar terutama para remaja sebagai pewaris dan penerus budaya bangsa yang adiluhung tersebut.
“Pagelaran wayang juga bisa dijadikan sarana penyebar kebaikan tanpa adanya rasa menggurui,” kata Ki Tejo, Senin (20/11/2017) pagi.
Bagi Ki Tejo, wayang merupakan sebuah sajian seni budaya yang begitu lengkap. Dalam pagelaran wayang ada nilai sastra (cerita), tembang, suluk, teater, gending, seni rupa, seni musik, karakterisasi sifat manusia (baik dan buruk).
Seperti dirumuskan oleh Sunan Kalijaga, wayang merupakan sarana “tanpa menggurui” masyarakat Jawa dan sekitarnya untuk melihat “diri” mereka sendiri.
Untuk mempelajari wayang, lanjutnya, seperti tak akan bosan karena memang wayang tak cukup hanya dipelajari dalam sekali dua kali khatam, selalu ada hal baru untuk dipelajari.
“Sebagai orang Jawa, saya tentu juga merasa bertanggungjawab untuk melestarikan budaya Jawa. Saya kira banyak sekali literatur kesusteraan Jawa yang tak kalah menarik dari kesusteraan barat seperti Beowulf dan Inferno,” imbuh dosen karawitan dari Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta ini.
Kesusteraan Jawa, sebut Ki Tejo, bahkan memilik nilai yang sangat dalam terhadap kehidupan, baik secara moril maupun rohani. Karena memang wayang merupakan warisan non bendawi (intagible).
Wayang beber dengan lakon “Ki Brayut” ini, kata dalang Ki Tejo mengandung arti kesuburan dan kelestarian lingkungan. Kesuburan di sini diartikan dengan karunia keturunan yang banyak yang dengan adanya keturunan ini kita harus memberi bekal keterampilan agar dapat tercukupi hidupnya.
“Adanya bahaya bahi hutan melambangkan keseimbangan alam yang terancam dan untuk mengatasinya kita harus berikhtiar dengan simbol mengucapkan japamantra atau doa agar terhindar dari bencana,” kata Ki Tejo.
Ki Tejo Bagus Sunaryo mengatakan, wayang beber sudah sangat langka. Menurutnya, dengan dihidupkannya lagi “Ki Brayut” melalui media wayang beber sangat bagus.
Sementara itu, sang pencetus acara yang juga tuan rumah, Edi Sarwono, di mana ia juga tinggal di bantaran Sungai Bedog, menyebutkan pada mulanya ia ingin lingkungannya asri dan lestari. Untuk membangun kesadaran pentingnya keasrian sungai dan alam sekitar, itu maka Edi memilih menggunakan media seni dan budaya.
Salah satunya, dengan menggelar wayang beber. Menurut Edi, wayang beber ini sudah termasuk langka. “Saya ingin menggelar wayang, tapi wayang apa kira-kira masih bertanya-tanya. Kemudian saya memutuskan untuk menggelar wayang beber,” kata Edi.
Edi terus berupaya untuk menghidupkan suasana spiritual masyarakat setempat dengan menggelar budaya terutama yang berkaitan dengan lingkungan. Edi menyebutkan, kegiatan gelar budaya tersebut berdampak positif terhadap kesadaran masyarakat sekitar.
“Masyarakat sadar bahwa mereka hidup itu berdampingan dengan alam dan harus melestarikan keasrian sungai,” kata Edi.
Rahayu Nur Hayati, seorang pengunjung yang menonton pertunjukkan wayang beber lakon “Ki Brayut” menyebutkan, lakon “Ki Brayut” menceritakan tentang seoran tokoh dari suatu kerajaan di Kediri atau di Kerajaan Kahuripan yang berasal dari keturunan Lembu Amijaya. Ki Brayut dan Nyi Brayut diceritakan sebagai sepasang suami istri yang belum juga dikaruniai keturunan.
Keduanya memutuskan untuk menemui pemimpin di daerahnya untuk mendapat keturunan, percakapan pun terjadi. Kemudian pemimpin tersebut memberi syarat kalau Ki Brayut dan Nyi Brayut sanggup untuk prihatin dan bertapa di sungai. Dan mereka kemudian menyetujuinya.
Syarat selanjutnya adalah setelah mereka diberi keturunan di kemudian hari mereka harus sanggup untuk mengurusi dan memberikan nafkah yang layak untuk keturunan mereka, dan menyetujuinya.
Tak lama setelah permohonan itu, Ki Brayut dan Nyi Brayut menjalani tapa dan kemudian dikaruniai banyak keturunan, 12 laki-laki dan 12 perempuan.
Mereka kemudian membekali anak-anak tersebut dengan beberapa macam keterampilan dalam kehidupan. Hidup mereka makmur di sebuah perkampungan, namun kemudian ada sebuah masalah melanda kampung mereka.
Babi hutan menyerang dengan ganasnya, Ki Brayut dan Nyi Brayut bersama segenap anaknya melawan babi hutan tersebut namun belum berhasil. Ki Brayut kemudian menemui pemimpin di daerahnya lagi dan kemudian diberi japa mantra untuk menolak bala berupa babi hutan tersebut.
Mantra itu dirapalkannya dengan penuh kesungguhan dan penghayatan yang akhirnya dapat mengusir mara bahaya tersebut dari kampungnya. kehidupan mereka pun akhirnya aman tentram kembali.
Cerita Rahayu, gadis berusia 24 tahun yang lahir di kota kecil Sidareja, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, tentang kisah “Ki Brayut”. Rahayu mengaku tidak hanya menonton, tetapi juga berusaha melengkapi pengetahuannya tentang wayang, mengobrol dengan beberapa ahli wayang dan mengunjungi sanggar wayang.
Lulusan S1 Pendidikan Bahasa Inggris STKIP Siliwangi Bandung 2016, itu mengatakan semenjak berada di Yogyakarta dari bulan Juli lalu, hampir setiap minggunya menyempatkan untuk menonton pagelaran wayang kulit yang masih ditemui di Daerah Istimewa Yogyakarta.
Kecintaan pada budaya berawal dari didikan bapaknya dulu, yang suka menembangkan macapat dan mengajak nonton wayang setiap malam Minggu. Di kota pendidikan dan budaya itu, Rahayu juga memberi les privat anak SD/SMP dan juga berlatih menari tari klasik di Kota Yogyakarta.