JAKARTA — Berbicara tentang makanan tentunya tidak akan pernah ada habisnya, terlebih di kota Jakarta yang menjadi gudangnya. Beragam kuliner dapat kita temui mulai dari yang terbaru hingga yang sudah jarang ada, salah satunya Uli Bakar.
Nana Karmana (40) salah satu penjual menyebutkan, pembuatan Uli menggunakan bahan-bahan seperti ketan dengan kualitas yang bagus, ditambah dengan kelapa muda, direndam terlebih dahulu kisaran 2 sampai 3 jam yang kemudian dikukus.
Untuk menambahkan lebih gurih dan lentur/lemes Uli, ketika dikukus diguyurkan air kelapa. Setelah selesa, barulah dilepehkan dan kemudian di potong-potong persegi panjang.
Ia pun menerangkan cara menyantapnya, Uli yang sudah dibakar dengan menggunakan arang batok kelapa kurang lebih sekitar 5 menit, kemudian dicocolkan ke serundeng (kelapa gongseng) yang sudah dicampur dengan gula pasir. Pemilihan arang batok selain tidak mengeluarkan debu dan asapnya pun wangi.
“Mau dicocol ke serundeng ataupun langsung tanpa serundeng sama enaknya, yang jelas semakin di cocol ke serundeng, kelegitan Uli bakar bakalan makin terasa banget, kalo kata orang betawi bilang, “udah ngocol makin ngocol” maksudnya sudah tahu enak, malah ditambahin enak (dicocolin serundeng),” sebutnya saat berbincang dengan Cendana News, Sabtu (25/11/2017).
Setiap hari dari pukul 03.00 pagi dirinya membawa 100 potong Uli yang dia jajakan ke daerah Kalibata menuju Pasar Minggu dan sekitarnya. Dari hasil berjualan itu dirinya mendapatkan keuntungan bersih untuk dibawa pulang sebesar Rp 70.000 setelah setoran ke bos. Keuntungan bersih itu sudah dipotong dengan ongkos dan makannya.
“Alhamdulillah dari hasil berjualan, saya sudah bisa beli tanah dan membangun rumah di kampung walaupun kecil-kecilan yang penting punya rumah sendiri, biaya menikahpun dari hasil berjualan tanpa meminta dari orangtua, dan tiap bulan selalu pulang kampung untuk bertemu anak istri dan tentunya bertemu orangtua,” kata warga asli Tasikmalaya ini.
Selama berjualan dirinya tidak memiliki pelanggan tetap karena memang dirinya tidak ada tempat atau lapak khusus untuk berjualan, dirinya setiap hari berkeliling masuk ke perkampungan, dan jika lelah, ia akan beristirahat di lokasi dimana banyak orang yang lalu-lalang.
Terkadang di pasar hanya sebentar lalu pergi berkeliling lagi. Ia tidak pernah mengikuti acara atau event dikarenakan tidak mampu membayar sewa tempat dengan uang hasil keuntungan yang diterimanya.
“Kalau hajatan nikahan saya pernah diminta untuk mengisi dan bawa Uli-nya sekitar 150 sampai 200 potong, tinggal si punya hajat membayar ke saya. Hitung-hitungannya, saya bawa berapa banyak Uli, selesai acara, Uli yang sisa ada berapa, barulah ketahuan berapa yang harus dibayarkan si punya hajat tersebut. untuk acara nikahan harga saya kenakan Rp3.000,” pungkasnya. (Jurnalis: M. Fahrizal)