TMII Gelar Karnaval Keprajuritan Nusantara 2017
JAKARTA — Hujan deras tak meruntuhkan semangat para prajurit peserta Karnaval Keprajuritan Nusantara Taman Mini Indonesia Indah (TMII) 2017, yang digelar Minggu (19/11/2017).
Karnaval Keprajuritan Nusantara di mulai dari Tugu Api Pancasila TMII menuju danau miniatur kepulauan dan berakhir di Sasono Langgen Bodoyo.
Karnaval ini berjalan dengan menempuh jarak 2 km dengan menampilkan visulisasi pahlawan dan prajurit dari seluruh nusantara.

“Karnaval Keprajuritan Nusantara TMII ini untuk menyemarakkan Hari Pahlawan dan semangat kewiraan untuk membangkitkan daya juang yang rela berkorban bagi bangsa dan negara,” kata Direktur Budaya TMII, Sulistyo Tirtokusumo.
Disampaikan dia, karnaval ini digelar setiap tahun. Ini untuk mengingatkan perjuangan Indonesia agar menjadi suri tauladan dalam meneruskan cita-cita pejuang, penguatan jati diri, dan pembangunan karakter bangsa, khususnya bagi generasi muda.
TMII sebagai pelestari budaya Indonesia, terus berupaya menampilkan dan mengembangkan kegiatan ini sehingga mampu mengharumkan nama Indonesia.
Kepala Dinas Penulisan dan Penyajian TNI, Kolonel Laut Arief Sulistiyo mengatakan, kegiatan merupakan upaya melestarikan nilai-nilai keprajuritan dan cinta tanah, yang bersifat evaluatif, apresiatif, antraktif, dan kompotitif.
“Karnaval Keprajuritan Nusantara ini memiliki arti penting sebagai refleksi bagi bangsa Indonesia untuk mengingat sejarahnya dan membangun kewiraan karakter bangsa,” tegas Arief.
Apalagi, kata dia, Indonesia dalam sejarahnya pernah memimpin kerajaan besar yang berpengaruh di kawasan Asia pada masanya, seperti Sriwijaya, Majapahit, dan Mataram. “Generasi muda wajib mengenal sejarah bangsa,” ujarnya.
Peserta karnaval ini diikuti oleh 9 provinsi diantaranya Bali, Bengkulu, Jawa Tengah, Jawa Barat, Jambi, DKI Jakarta, Banten, D.I. Yogyakarta, dan Sulawesi Tengah.
Masing-masing provinsi penyertakan 30-100 orang yang energi beraktrasi mengambarkan perjuangan kepahlawanan bangsa Indonesia.

Adapun kriteria penilaian adalah keserasian antara gagasan dan perwujudan dalam tampilan karnaval. Sehingga pesan yang ada dalam pagelaran ini bisa sampai kepada masyarakat penonton.