Terkendala Anggaran, Sekolah di PPU Kekurangan Mebel

PENAJAM – Terkendala persoalan anggaran, hingga kini sejumlah sekolah di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), Provinsi Kalimantan Timur masih kekurangan sarana pendukung belajar siswa seperti mebel.

Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Kabupaten PPU mencatat tahun 2017 jumlah mebeler untuk memenuhi kebutuhan sekolah dari tingkat SD hingga SMP sebabanyak 4.500 pasang.

Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Kabupaten PPU, Marjani. Foto: Ferry Cahyanti

Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Kabupaten PPU, Marjani menerangkan, kurangnya mebeler itu karena adanya penambahan ruang kelas baru dan faktor kerusakan bangku sekolah. Tahun ini Pemerintah Kabupaten belum mengalokasikan, namun Pemerintah Provinsi Kaltim memberikan bantuan dana sebesar Rp2 miliar.

“Bantuan anggaran dari pemerintah provinsi itu hanya untuk memenuhi kebutuhan mebeler sebanyak dua ribu pasang atau kurang dari setengah kebutuhan. Kekurangan mebeler itu juga karena adanya penambahan ruang kelas baru dan kerusakan bangku,” paparnya saat ditemui, Kamis (9/11/2017).

Dia menjelaskan tahun ini pihak Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga telah mengusulkan anggaran ke Pemkab PPU untuk memenuhi seluruh sarana belajar siswa di sekolah. Namun hingga kini belum terakomodir akibat defisitnya anggaran daerah.

“Usulan pengadaan mebeler itu sebesar Rp10 miliar, tapi hingga kini belum terakomodir. Akibat terbatasnya anggaran pemerintah daerah Kabupaten PPU,” ucap Marjani.

Bantuan fasilitas sarana pendukung belajar siswa dari Pemprov sebanyak 2 ribu unit mebeler itu, lanjutnya, diperkirakan akan tersedia pada awal Desember 2017. Karena proses pengadaan harus melalui sistem e-katalog yang mekanismenya diatur oleh pemerintah pusat.

Kendati demikian, pihaknya menegaskan, belum terpenuhinya seluruh kebutuhan mebeler tidak mengganggu proses belajar siswa di sekolah.

Untuk diketahui, puluhan siswa SD Negeri 02 di Kecamatan Waru terpaksa menjalani proses belajar mengajar tanpa menggunakan kursi. Kondisi yang sudah terjadi selama tiga tahun tersebut akibat tidak adanya mebeler dalam satu ruang kelas.

“Kekurangan mebeler untuk satu rombongan belajar itu sudah terjadi sejak tahun 2015 lalu. Kekosongan sarana belajar siswa itu tidak hanya satu kelas, tapi mebeler juga banyak terjadi di beberapa ruang kelas,” kata Kepala Sekolah SDN 002 Waru, Poniyah.

Menurutnya, dari 13 ruang belajar terdapat satu kelas tidak memiliki mebeler dan empat kelas mengalami rusak berat. Selama ini, untuk tetap memberikan layanan belajar ke siswa pihaknya menyiasati dengan melakukan tambal sulam perbaikan bangku dan kursi belajar yang telah mengalami kerusakan parah.

“Hanya butuh sebanyak delapan unit bangku belajar untuk memenuhi kekosongan mebeler satu kelas,” tukasnya.

Terkait sarana belajar itu, pihaknya telah mengajukan pengadaan fasilitas belajar kepada pemerintah daerah. Namun karena disebabkan defisit pembiayaan, terpaksa puluhan siswa menjalani proses belajar tanpa menggunakan meja dan kursi.

Lihat juga...