Merlin Bahas Kekerasan terhadap Anak ke Asia Pasifik

MAUMERE – Kekerasan terhadap anak di negeri ini semakin hari semakin meningkat. Pelecehan seksual terhadap anak juga selalu terjadi dan meningkat hingga berdampak pada trauma yang mendalam dan mengancam masa depan anak itu sendiri.

Guna memerangi hal ini, Fransiska Merlina Sareng, seorang anak di desa Wolomotong kecamatan Doreng kabupaten Sikka, berkat pendampingan dari lembaga swadaya masyarakat Wahana Visi Indonesia (WVI) melakukan perjuangan mulai dari desa hingga kabupaten untuk mengkampanyekan gerakan anti kekerasan terhadap anak.

“Di desa dilakukan kampanye terkait anti kekerasan terhadap anak dengan membuat poster, video hingga menyuarakan dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) di tingkat desa hingga kabupaten. Banyak anak yang terlibat, dimana saya bertugas untuk mengarahkan serta terlibat langsung memotivasi dan menyukseskan program ini di desa hingga ke kabupaten,” ungkap Merlin, sapaannya, Kamis (9/11/2017).

Saat ditemui Cendana News di sekolahnya SMAN1 Maumere, Merlin terlihat bersemangat menceritakan pengalamannya bergabung dalam kelompok Forum Anak Desa Wolomotong menyiapkan apa-apa saja yang disampaikan dalam Musrembang dari apa yang disukai, apa yang tdiak disukai dan apa yang diinginkan anak-anak.

“Usulan dari Fourm Anak Desa biasanya didengar dan juga sudah ada alokasi dana dari desa untuk kegiatan anak-anak misalnya dari awalnya 2 juta rupiah saat ini sudah 15 juta rupiah yang dipergunakan untuk membiayai kegiatan positif seperti latihan bela diri serta kampanye antikekerasan terhadap anak dengan membuat poster dan lainnya,” ungkapnya.

Tampil di Forum Internasional
Kegigihan pelajar kelahiran Magetlegar 13 November 2001 memperjuangkan hak anak akhirnya tercapai dimana dirinya terpilih dalam seleksi mulai dari tingkat kabupaten, provinsi hingga nasional dan dipercaya mewakili anak-anak Indonesia dalam Forum Anak Asia Pasifik dalam acara launching kampanye Penghapusan Kekerasan Terhadap Anak.

“Dalam seleksi yang dilihat adalah keaktifan kita dalam kegiatan kampanye kekerasan terhadap anak dan public speaking. Sementara di tingkat nasional kita mempresentasikan apa yang sudah dilakukan di desa Wolomotong lalu ada tanya jawab,” terangnya.

Dalam pertemuan di Colombo Srilanka 14 sampai 17 Oktober 2017 tersebut, murid kelas X MIA 3 SMAN1 Maumere ini mengaku, berbicara tentang kekerasan terhadap anak yang sering terjadi di Indonesia dan berdiskusi dengan utusan dari negara lain serta mengumpulkan informasi kekerasan apa yang terbanyak dan dicarikan jalan keluar.

“Saya mempresentasikan tentang kekerasan terhadap anak di Indonesia dan kami berbagi pengalaman dengan utusan dari negara lain serta mencari jalan keluar, apa yang harus dilakukan untuk mengantisipasi sekaligus bisa sharing pengalaman,” tuturnya.

Sepulang dari Srilanka, terang Merlin, di sekolah dirinya sudah melakukan pendataan teman-teman lainnya untuk membentuk kelompok anak menjadi duta antikekeraasan dan menjadikan sekolahnya sebagai sekolah ramah anak. Serta di desa Wolomotong melakukan sosialisasi ke masyarakat tentang kekerasan terhadap anak dan membuat kegiatan antikekerasan terhadap anak.

“Saya senang bisa membawa nama Indonesia. Adanya kegiatan ini saya menjadi semakin tahu hak anak dan juga mempelajari apa-apa saja kekerasan terhadap anak, apa sanksi yang diberikan bagi pelakunya serta berharap agar sekolah-sekolah di Indonesia bisa menjadi sekolah yang ramah anak dan lingkungan. Masyarakat juga bisa menerapkan ini,” tegasnya.

Petrus Yokobus Sorowea wakil kepala sekolah urusan kesiswaan SMAN 1 Maumere. Foto: Ebed de Rosary

Petrus Yokobus Sorowea, wakil kepala sekolah urusan kesiswaan SMAN1 Maumere kepada Cendana News menyebutkan, pihaknya juga sudah merencanakan untuk membentuk kelompok forum anak dan akan menjadikan sekolahnya sebagai sekolah ramah anak dengan menerapkan apa-apa saja yang harus dilakukan.

“Saat ini kami sudah membuat banner-banner untuk ditempatkan di sekolah dan kami juga selalu memberikan dukungan bagi anak-anak kami seperti Merlin yang mewakili Indonesia di luar negeri dan selalu berkonsultasi dengan WVI terkait kegiatan yang harus dilakukan,” tuturnya.

Bila ada kegiatan yang akan dilakukan Merlin dan teman-temannya, pihak sekolah selalu memberikan kesempatan dan waktu bagi anak didik untuk bisa berprestasi baik di dalam negeri maupun di luar negeri dan menekuni apa yang dilakukan.

“Merlin merupakan anak yang sangat sederhana sekali, ulet dan tulus melakukan berbagai hal yang berguna bagi anak-anak lainnya bahkan dia tidak memiliki telepon genggam dan tidak memiliki akun media sosial sebelumnya,” ungkapnya.

Petrus berpesan kepada para pelajar lainnya, bila memiliki bakat harus bisa mendalami bidang—bidang yang mereka geluti sehingga dari bakat ini bisa berprestasi dan pihak sekolah selalu memberikan kesempatan luas serta penghargaan.

 

Lihat juga...