Sosialisasikan Bahaya HIV dalam Kegiatan Gereja

MAUMERE – Tokoh agama Katolik dan Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) sepakat, melakukan sosialisasi HIV dan AIDS dalam kegiatan gerejani seperti di komunitas basis dan paroki-paroki guna memerangi HIV dan AIDS di Kabupaten Sikka yang terus meningkat.

“Dalam kegiatan workshop dan sosialisasi HIV dan AIDS bagi tokoh dan pemimpin agama Katolik di Keuskupan Maumere selama dua hari, telah ditandatangani kesepakatan bersama untuk memerangi HIV dan AIDS,” ujar Yuyun Darti Baetal kepada Cendana News, Kamis (16/11/2017) sore.

Yuyun Darti Baetal, staf program KPA Kabupaten Sikka. Foto: Ebed de Rosary

Dikatakan Yuyun, staf program KPA Kabupaten Sikka, dalam kesepakatan disebutkan, sosialisasi HIV dan AIDS dilakukan di tingkat paroki dan pengintegrasian isu HIV pada kegiatan-kegiatan kelompok kategorial seperti orang tua dan orang muda, KPP dan Santa Ana.

Pihak gereja Katolik, kata Yuyun, juga akan membangun jaringan kerjasama dengan desa dan kelurahan serta warga peduli AIDS dalam pelaksanaan kegiatan sosialisasi H1V dan AIDS serta memanfaatkan kegiatan katekese dengan tema HIV dan AIDS di komunitas basis baik oleh paroki maupun matridis.

“Dilakukan pula pembekalan pemahaman tentang H1V dan AIDS untuk para pastor dalam wilayah keuskupan dan untuk frater, bruder dan suster di rumah-rumah formasi serta melibatkan mereka dalam kegiatan katekese-katekese di komunitas-komunitas,” terangnya.

Selain itu, lanjut Yuyun, gereja Katolik keuskupan Maumere juga berkomitmen menganjurkan para imam dan suster untuk melakukan VCT sebagai contoh atau teladan bagi umat serta menganjurkan para calon pasutri rnengikuti kursus perkawinan untuk melakukakan tes kesehatan.

“Kami di KPA juga berkewajiban memberikan pelatihan bagi para pendamping rohani, populasi kunci serta tim Kespro yang disiapkan oleh gereja yang akan turun memberikan pendidikan di paroki-paroki,” sebutnya.

Dr. Husein Pankratius, Sekretaris KPA Provinsi NTT menyebutkan, gereja Katolik dalam hal ini paroki, merupakan satu lini dalam penanggulangan HIV AIDS di negeri ini. Jadi peran total semua bermain di ranahnya masing-masing. Ujung penanggulangan HIV AIDS jika berhasil membuat tidak ada lagi orang yang terinfeksi HIV baru.

“Kalau tokoh agama yang berada di depan, saya yakin semua orang pasti tidak akan takut. Kalau semua orang memiliki prinsip siapa takut, sebenarnya mudah untuk kita jangkau, kita ajak dia untuk periksa dan berobat. Kita ajak untuk bertahan dalam pengobatan,” tuturnya.

Peran tokoh agama untuk bisa mendorong masyarakat agar stigma dan diskriminasi bagi penderita HIV juga bisa berkurang. Husein yakin, HIV dan AIDS akan berkurang bila semua tokoh agama berperan, apalagi bapa uskup turun tangan langsung.

Lihat juga...