Siasati Harga, Petani Kulonprogo Tanam Melon Masa Peralihan
YOGYAKARTA —Sejumlah petani melon Kulonprogo sengaja menanam melon di masa peralihan musim kemarau ke musim penghujan untuk mensiasati rendahnya harga jual melon. Mereka pun berani mengambil resiko gagal panen karena melon merupakan tanaman yang rawan busuk apabila lahan tergenang air.
Untuk meminimalisir resiko tergenangnya lahan akibat air hujan, para petani pun rela menyewa lahan hingga ke daerah Pandak, Bantul, meski dengan harga sewa cukup mahal. Salah satunya dilakukan petani melon asal Bugel, Kulonprogo, Basio (47).
Sudah beberapa tahun terakhir ia mengaku menanam melon di wilayah Pandak, Bantul, karena memiliki topografi tanah yang tinggi, sehingga tidak beresiko tergenang apabila turun hujan. Kondisi lahan semancam itu menurutnya sangat cocok ditanami melon, meskipun memasuki musim penghujan.
Ia sendiri mengaku sengaja menundurkan waktu tanam melon 1 bulan lebih lambat, agar harga jual melon tidak jatuh. Pasalnya harga jual melon saat akhir musim kemarau selalu jatuh akibat banyak petani melon di Kulonprogo memasuki masa panen raya.
“Memang sengaja mundur 1 bulan agar bisa panen pada akhir November. Karena jika panen saat masa panen raya yakni Oktober-September, harga melon pasti jatuh. Hanya dihargai Rp3.000-4.000 per kilo. Jika sudah melewati masa panen raya harganya keangkat lagi. Terakhir sudah Rp7.000 per kilo,” katanya.
Basio mengaku menyewa lahan pertanian seluas 6000 meter persegi, dengan harga sewa Rp1.600 per meter. Harga itu diakui jauh lebih tinggi dibanding harga sewa lahan pertanian di tempat asalnya yang hanya lima ratus rupiah per meter.
“Tapi di Kulonprogo itu, kan rawan banjir (tergenang), apalagi jika sudah memasuki musim penghujan. Makanya saya memilih menyewa di sini. Walaupun lebih mahal, namun relatif lebih aman dari banjir. Secara hitung-hitungan juga lebih untung,” katanya.
Basio sendiri hanya bisa berharap agar intensitas hujan di awal musim penghujan ini tidak terlalu sering. Pasalnya ia khawatir jika hal itu terjadi, maka akan berdampak pada kualitas melon yang dihasilkan.
“Ya, semoga hujannya tidak terus-menerus. Karena jika terlalu banyak air, melon sulit berbuah. Hanya daunnya saja yang tumbuh subur,” katanya.