ROMA – Puluhan ribu orang turun ke jalanan di Ibu Kota Italia, Roma, Minggu (26/11/2017) dalam sebuah aksi untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).
Dalam pawai untuk memperingati Hari Internasional bagi Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan tersebut, sebanyak 150.000 orang berkumpul di stasiun kereta sentral di Roma untuk memulai pawai melalui kota tersebut. Tercatat pawai serupa digelar di seluruh Italia untuk memperingati Hari Penghapusan Kekerasan Terhadap Perempuan yang diperingati di seluruh dunia pada 25 November sejak pengesahannya pada 1999 lalu.
Kekerasan terhadap perempuan telah menjadi wabah di Italia dan negara lain Eropa. Sementara berbagai upaya pencegahan telah ditingkatkan oleh lembaga masyarakat dan kelompok perempuan guna mendorong kesadaran dan pencegahan.
“Sebanyak 114 perempuan meninggal dalam 10 bulan di 2017 atau satu perempuan meninggal setiap 2,6 hari,” kata laporan terakhir yang disiarkan oleh Lembaga Penelitian Sosial dan Ekonomi Italia (EURES), Senin (27/11/2017).
Jumlah femicide, istilah yang digunakan untuk menyebut seorang perempuan korban pelecehan oleh pasangan pria atau kerabat pria, telah naik sebanyak 5,6 persen. Peningkatan tersebut dilaporkan EURES jika dibandingkan dengan perhitngan antara 2015 hingga 2016.
Data statistik dari Kepolisian Italia juga memperlihatkan bahwa sebanyak 71,9 persen dari semua pembunuhan yang ditujukan kepada seorang perempuan dilakukan oleh ayah, saudara laki-laki, suami atau kerabat lain berjenis kelamin pria. Angka tersebut berasal dari data yang ada di 10 tahun terakhir.
Pada Sabtu (25/11/2017), Presiden Italia Sergio Mattarella juga berbicara untuk menentang kekerasan dalam rumah tangga dan gender. “Kekerasan seksual tak hanya berkaitan dengan perempuan. Tapi juga kita semua, sebab itu adalah pelanggaran hak asasi manusia yang paling serius,” tandasnya.
Mattarella mengeluarkan pernyataannya setelah pertemuan dengan satu delegasi perempuan yang dipimpin oleh Ketua Majelis Perwakilan Italia Laura Boldrini di Istana Presiden Quirinale. “Mencela masalah ini tidak cukup. Kita perlu mengusir semua sumber masalah, dan menghilangkan keadaan yang menciptakan penaklukan diri dan kekerasan (terhadap perempuan),” tandas Mattarella. (Ant)