Populasi Penyu di Sumbar Capai 30.000 Ekor

PADANG – Dosen Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Bung Hatta, Padang, Sumatera Barat, Harfianfri Damandhuri menyebutkan, saat ini diperkirakan populasi penyu yang berada di kawasan Sumatera Barat mencapai 30.000 ekor.

Menurutnya, dari 30.000 ekor penyu itu, yang paling banyak berada di kawasan Kabupaten Kepulauan Mentawai. Hitungan populasi itu, terlihat dari banyaknya penyu yang hendak naik ke daratan untuk bertelur.

“Jadi yang di Mentawai memang banyak penyu yang naik untuk bertelur. Sedikitnya ada sekira 8.000 ekor penyu yang bertelur di Mentawai dalam rentang waktu selama satu tahun,” katanya, Senin (20/11/2017).

Ia menjelaskan, dari pendataan yang dilakukannya beberapa waktu lalu, ada 60 titik tempat bertelurnya penyu di kawasan pantai di Sumatera Barat. Di antara 60 titik itu, seperti di beberapa pulau di Kabupaten Pesisir Selatan, Kota Padang, Pariaman, dan Kabupaten Pasaman.

Harfianfri mengaku, posisi pantai di Kepulauan Mentawai yang berada di lautan lepas Samudera Pasifik, membuat penyu memilih mendatangi beberapa titik pantai di Mentawai.

Selain jumlah populasi penyu yang tergolong cukup banyak, terus bertambahnya keberadaan penyu di Sumbar, karena adanya peran konservasi penyu yang dilakukan oleh sekelompok masyarakat. Melalui konservasi penyu, turut membuat telur-telur bisa diselamatkan dari orang-orang yang memburu telur penyu.

“Konservasi penyu di Sumbar ini diantaranya di Kabupaten Pesisir Selatan, Kota Padang, Pariaman, dan Kabupaten Pasaman. Di sana, hampir setiap bulan, melakukan pelepasan tukik (anak penyu) ke laut,” ungkapnya.

Harfianfri juga mengatakan, dengan adanya tempat konservasi-konservasi penyu itu, tidak hanya turut melestarikan hewan yang dilindungi tersebut, tapi juga telah menciptakan sebuah wisata edukasi seputar penyu.

Buktinya, hampir di setiap tempat konservasi penyu di Sumbar, ramai dikunjungi oleh masyarakat yang membawa anak-anaknya, sembari mengajarkan kepada anak-anak, seputar penyu. Hal tersebut dinilai sebuah langkah yang bagus, karena untuk membuat populasi penyu tetap ada, perlu disampaikan kepada generasi muda, pentingnya menjaga hewan yang dilindungi tersebut.

Akan tetapi, di sisi lain, Harfianfri merasa khawatir, adanya masyarakat yang menangkap penyu untuk dimakan. Hal itu terdapat di Kabupaten Kepulauan Mentawai yang merupakan daerah yang paling banyak dinaiki penyu untuk bertelur.

“Yang saya lihat, di Mentawai itu memburu penyu sudah sering dilakukan, di saat penyu-penyu hendak naik ke daratan pantai,” ucapnya.

Sementara itu, salah seorang pegiat konservasi penyu di Nagari Ampiang Parak, Kecamatan Sutera, Kabupaten Pesisir Selatan, Haridman, mengatakan, awal mula adanya konservasi penyu itu, karena khawatir melihat adanya masyarakat yang memburu telur penyu di kawasan pantai Ampiang Parak.

“Tempat saya konservasi itu, merupakan tempat yang sering dinaikkan penyu untuk bertelur. Jadi, nanti kita akan pantau apabila lagi musimnya penyu bertelur. Setelah itu telur kita ambil untuk dipindahkan ke tempat lain, dan menjaganya hingga telur-telur menetas,” jelasnya.

Ia menyebutkan, kini ada sekira ratusan penyu yang ada di konservasi itu. Mulai dari ukuran kecil hingga ukuran besar. Penyu-penyu itu, tidak akan diletakkan di dalam kolam, tetapi akan dilepaskan ke lautan.

Haridman mengaku, semenjak adanya konservasi penyu itu, telah menjadi tempat wisata edukasi baru bagi masyarakat setempat. Buktinya, cukup ramai masyarakat yang datang bersama keluarga, untuk melihat langsung penyu yang ada di dalam kolam.

“Kita harus melakukan langkah untuk keberlangsungan hidup penyu itu. Karena penyu merupakan salah hewan yang dilindungi, karena populasinya bisa punah, jika telur-telur terus diburu masyarakat,” tegasnya.

 

Lihat juga...