MATARAM — Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat mendorong para petani untuk melakukan pengolahan cabai untuk bisa mendapatkan nilai ekonomi lebih tinggi ketika harga komoditas tersebut anjlok saat panen raya.
“Kami mendorong peningkatan ekonomi melalui usaha pengolahan. Bisa dalam bentuk cabai kering yang dibuat jadi abon atau sambal cabai dalam kemasan higienis,” kata Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Nusa Tenggara Barat (NTB) Husnul Fauzi, di Mataram, Jumat (3/11).
Sebagai langkah awal, pihaknya sudah mendistribusikan bantuan alat pengolahan cabai kepada tiga kelompok wanita tani di Kabupaten Lombok Barat, Lombok Tengah, dan Lombok Timur.
Alat pengolahan cabai menjadi sambal dan produk lainnya tersebut merupakan bantuan dari Kementerian Pertanian pada tahun 2017.
Husnul mengatakan pembinaan kepada tiga kelompok wanita tani di tiga kabupaten tersebut sebagai embrio untuk memunculkan kelompok pengolahan cabai lainnya.
“Kami tetap mengusulkan agar Kementerian Pertanian memberikan lagi bantuan alat tahun depan. Itu upaya kami untuk memperbanyak kelompok pengolah cabai,” ujarnya.
Terkait harga cabai saat ini, Husnul menyebutkan satu kilogram cabai rawit segar di tingkat petani Rp4.000 per kilogram (kg). Hal itu disebabkan panen terjadi serentak sejak Oktober 2017, sehingga stok di pasaran melimpah, sedangkan permintaan relatif stabil.
Luas tanam cabai di NTB mencapai 15.000 hektare, yang tersebar di 10 kabupaten/kota, namun sentra produksi terbesar ada di Kabupaten Lombok Timur, dan Lombok Tengah.
Rata-rata produksi cabai dalam satu hektare lahan rata-rata lima ton, namun total produksi diperkirakan bisa mencapai 95.000 ton pada musim tanam tahun 2017, sedangkan konsumsi di dalam daerah rata-rata 15.000 ton/tahun.
“Jadi NTB kelebihan produksi cabai sebanyak 80 ribu ton. Dan produksinya melimpah pada saat musim panen raya, tapi ketika di luar musim produksi relatif terbatas, itu yang menyebabkan harga bisa mencapai Rp100 ribu/kg,” kata Husnul menyebutkan.
Sementara itu, Kepala Perwakilan Bank Indonesia NTB Prijono, mengatakan deflasi atau rendahnya harga cabai akibat melimpahnya produksi saat panen raya perlu diatasi dengan mengembangkan industri olahan sehingga petani tidak merugi.
“Perlu dilakukan hilirisasi agar nilai ekonomi cabai yang melimpah bisa ditingkatkan,” katanya (Ant).