Pasca Cuaca Buruk Nelayan Lampung Selatan Kembali Melaut
LAMPUNG – Pasca kondisi cuaca perairan Selat Sunda yang tak bersahabat untuk aktivitas nelayan tangkap melaut, sejumlah nelayan tradisional mulai melakukan kegiatan mencari ikan dengan cara memancing teknik rawe menggunakan perahu ketinting dan jenis perahu lainnya.
Bajuri, salah satu nelayan di Dusun Pegantungan Desa Bakauheni mengakui selama hampir satu bulan terakhir kondisi cuaca ekstrim angin kencang, gelombang tinggi membuat nelayan enggan melaut namun pada awal November dirinya dan nelayan lain mulai kembali beraktivitas.
Kondisi cuaca yang membaik tersebut diakuinya sekaligus menjadi sumber mata pencaharian bagi sejumlah nelayan tangkap tradisional yang menjadikan aktivitas melaut sebagai sumber ekonomi. Sekali melaut dalam kondisi cuaca yang baik Bajuri berhasil menangkap beberapa jenis ikan yang kerap ada di perairan Pulau Kandang Balak, Pulau Penjurit di antaranya jenis ikan kakap, talang talang dan ikan simba.

Sebagian besar nelayan tangkap di wilayah tersebut diakui Bajuri menggunakan teknik memancing dasar dengan sistem menggunakan umpan yang ditenggelamkan dengan hasil ikan jenis kakap merah, kerapu, bambangan, kurisi, dan cablak. Sementara rekan lain melakukan sistem pemancingan umpan alami yang dibiarkan terbawa arus dengan sistem koncer dengan hasil jenis ikan predator diantaranya tenggiri, barakuda, simba serta ikan talang talang.
Teknik memancing ikan tersebut diakuinya dilakukan oleh nelayan tradisional yang tidak memiliki perahu ukuran besar bahkan rata-rata nelayan di wilayah tersebut hanya memiliki perahu berukuran kecil tak lebih dari 8 GT. Ditambah dengan peralatan yang belum memadai seperti pemilik perahu bagan congkel dan bagan mini.
Beruntung Bajuri dan beberapa pemancing lain yang kerap memancing secara rombongan berhasil memperoleh hasil tangkapan rata rata per hari mendapatkan 100 kilogram jenis ikan simba dan beragam jenis ikan lain yang langsung dibeli oleh masyarakat.
“Kami selalu sudah ditunggu pemilik warung setelah mendarat karena sebagian ikan merupakan jenis ikan yang akan diolah untuk dijual di warung bukan untuk dikonsumsi sendiri,” beber Bajuri.
Harga ikan simba yang saat ini dijual harga Rp35.000 untuk pembeli pemilik usaha kuliner diakuinya cukup menguntungkan karena dirinya bisa mendapatkan ikan simba berbagai ukuran dengan berat mencapai 10 kilogram dengan hasil sekitar Rp350.000 belum termasuk ikan jenis lain yang juga dibeli pemilik usaha kuliner.
Suwarni, salah satu ibu rumah tangga yang sekaligus pemilik usaha kuliner warung serba seribu (Serbu) mengungkapkan kebutuhan akan ikan simba termasuk cukup tinggi karena masyarakat yang bekerja di sektor informal di Bakauheni lebih memilih membeli makanan di warung serbu dibandingkan dengan di restoran.
Ia menyebut telah mencari ikan di tempat pendaratan ikan namun nelayan tangkap dengan jaring justru banyak memperoleh teri sehingga dirinya membeli ikan simba pada nelayan tangkap yang biasanya telah menelpon dirinya sesaat setelah mendarat. Selain lebih segar ia menyebut hasil tangkapan nelayan tradisional ikut membantu nelayan kecil cepat memperoleh uang tanpa harus menjajakan keliling.
Pasca cuaca membaik ia juga menyebut lebih mudah memperoleh ikan untuk dijual dengan cara dibakar, pindang atau digoreng dengan menu asam pade. Beberapa ikan selain Simba pada saat kondisi membaik diakuinya harga cukup stabil di antaranya ikan selar seharga Rp25.000 per kilogram, ikan tongkol Rp20.000 per kilogram, ikan kerisi Rp30.000 per kilogram. Ikan-ikan tersebut diakuinya disukai pelanggan yang membeli untuk dimakan di warung atau dibungkus untuk dibawa pulang.