DEPOK — Sesekali api membesar dan menimbulkan kepulan asap membumbung ke atas melewati tungku pembakaran panganan khas tradisional, serabi. Sepasang suami istri tampak kompak di sisi tungku yang terbuat dari tanah liat yang menyatu dengan gerobak, bergantian membuat serabi.
Pasutri itu adalah Syekh Muhammad Zajuri (33) dan Sari. Kedua penjual serabi itu, tiap pagi sekira pukul 06.00 WIB berjibaku membuat serabi untuk para pelanggannya atau pembeli yang lewat di tempat mereka berjualan di titik jalan menikung pertemuan Jalan Asmawi dan Jalan Nusantara Raya, Beji, Kota Depok. Tepatnya di depan Kios Annisa dan Toko Bangunan Cahaya Abadi Mart, sebelah d’Besto. Dekat swalayan Gama Sera.
Zajuri menamai usaha kuliner panganan tradisionalnya Serabi Gondrong. Pria berambut cepak dan bertopi itu, mengatakan dirinya dulu berambut gondrong. Potongan rambut gondrongnya itu, menjadi sebuah jejak tentang asal-muasal nama usahanya, Serabi Gondrong.
Sudah lima tahun ini, usaha kuliner panganan tradisional serabi yang ditekuni Zajuli bersama sang istri tercinta berjalan di tempat tersebut. Sebelumnya, Zajuri berjualan di stasiun selama kurang lebih tahun.
“Saya buka usaha di sini kurang lebih sudah lima tahunan ini, usaha ini saya dapat (ilmunya) dari istri asal Kuningan yang usaha Serabi Kuningan,” kata Zajuri, kepada Cendana News, Sabtu (4/11/2017).
Bahan-bahan untuk serabi, dikatakan Zajuri terdiri dari tepung beras, kelapa parut, dan garam. Untuk cara pembuatannya, bahan-bahan tersebut lalu disatukan. Saat membuat adonan serabi dibutuhkan waktu sekitar satu jam untuk 8 bungkus tepung beras, agar kelapa bisa menggelembung. Setelah itu didinginkan sebentar.
“Tepung beras, garam, kelapa parut, kita adon. Kalau ukuran bikin 8 bungkus, paling tidak kita ngadonnya, ngulennya sekitar 1 jam, biar kelapanya bisa nglembung gitu seperti soda,” jelas Zajuri.
Ia menambahkan, satu kantong tepung beras itu 500 gram atau setengah kilogram. Seumpama membuat 8 bungkus tepung beras, dibutuhkan 10 atau 11 kelapa. Dari 11 kelapa itu, 9,5 kelapa untuk adonan serabi, sisanya 1,5 untuk membuat santan.
“Di adonan serabi juga dikasih garam secukupnya saja. Jadi, tidak boleh asin, tidak boleh kelebihan, tidak kekurangan,” imbuhnya.
Serabi Gondrong semakin nikmat rasanya saat dicampur air gula merah dan santan yang memang dipersiapkan Zajuri sebagai pendamping serabi saat disantap. Santan dan gula yang telah disatupadukan itu menjadi pendamping serabi agar seger.
“Paduan santan gula ini supaya seger. Kalau gula saja, rasanya manis-manis gimana, gitu. Kalau ada santannya jadi gurih. Dan, santannya dikasih garam secukupnya,” kata Zajuri.
Prasetyo, salah satu pelanggan Serabi Gondrong, mengaku menyukai panganan tradisional serabi bikinan Zajuri. “Saya bisa dibilang langganan hampir tiap hari,” imbuhnya.
Serabi Gondrong, dikatakan Prasetyo rasanya enak, karena masak matengnya rata, terus tebal, gulanya juga gula murni. “Jadi, untuk rasa masih kayak kue serabi yang dulu, karena pake tungku tanah liat dan kayu pati,” tuturnya.
Ia juga mengaku, karena Serabi Gondrong sudah cocok di lidah, membuatnya lebih suka menikmati Serabi Gondrong, kendatipun, akunya, di sekitar sini ada tiga penjual serabi, di dekat Pancoran Mas dan dekat Kukusan.
Harga Serabi Gondrong boleh dibilang ramah di kantong. Per biji Rp2.500, setangkepnya Rp5.000. Pilihan varian rasa ada dua, original dan oncom. Dua varian ini, kata Zajuri yang paling laris. Sementara varian lainnya kurang diminati.

“Saya juga sediakan varian rasa coklat, pandan, telor, pisang, segala macamlah, itu kurang diminati. Yang paling laris original ama oncom itu aja. Makanya, ndak sediakan yang lain,” imbuhnya.
Namun, lanjut Zajuli, kalau ada pelanggan yang pesan varian rasa telor, misalnya, ia bikinkan juga dengan harga yang sama.
Sementara itu, dalam proses pembakaran tungku memasak serabi, Zajuli sengaja menggunakan cara tradisional dan enggan untuk menggunakan kompor gas. Menurutnya, memakai kayu jauh lebih enak dan khas. Selain itu, gosong-gosongnya juga bisa pas.
“Kalau kita mau menggunakan kompor gas itu kan sebenernya lebih enak ya, tidak perlu nyari kayu. Tapi, pakai kayu lebih enak, ada khasnya. Gosong-ngosongnya bisa pas. Itu yang bikin lebih enak orang yang bikin,” kata Zajuli yang sempat buka usaha di stasiun itu.
Ditambahkan Zajuli, kalau pakai kompor, kebanyakan orang bilang kayak roti, bukan serabi. “Kebanyakan pelanggan bilang begitu, kurang enak kalau tidak pakai kayu. Karena pake kayu ada khasnya,” ujarnya.
Untuk jenis kayu, dikatakan Zajuli, apa saja bisa, namun kebanyakan dirinya mendapat peti di pasar yang dipenuhi oleh tukang kelapa. Dari tukang kelapa itulah Zajuli mendapat stok kayu untuk pembakaran tungku memasak serabi.
“Harga kelapa berapa, saya berani yang penting dapat kayu. Kalau saya nyari kayu sendiri, ya kita juga repot kan. Karena belum tentu dapat juga. Makanya kita ngomong ma tukang kelapa, kerjasama dengan dia,” imbuhnya.
Ketika ditanya soal proses pembakaran serabi, dikatakan Zajuli untuk satu serabi membutuhkan waktu sekitar 1,5 menit. “Tidak lamalah. Tadi ada yang pesan 25 biji, paling lama-lamanya 15 menit, bisa selesai 10 menit,” jelasnya.
Sebelum menuangkan ke enam tungku yang tersedia, bahan adonan serabi dimasukkan ke teko plastik kecil dan dicampurkan dengan sedikit air mineral, setelah bahan adonan itu diambil dari toples plastik berukuran besar. “Kita encerin sedikit dengan air mineral agar tidak terlalu kental,” kata Zajuli.
Kepada Cendana News, Zajuli berkisah, awal usaha jualan serabi. Pada awalnya ia berjualan di stasiun, namun dua tahun kemudian mengharuskan dirinya pindah tempat usaha lantaran ada perombakan tata ruang di stasiun.
Tempat yang semula ditempati para pedagang diubah menjadi areal tempat parkir dan fasilitas lain yang terintegrasi dengan stasiun. Walhasil, para pedagang di areal stasiun mau tak mau mesti pindah tempat usaha, termasuk Zajuli.
“Sebelumnya, saya jualan di stasiun sekitar dua tahun, karena stasiun dirombak lalu pindah usaha ke sini. Alhamdulillah, di sini ramai, kalau sebelumnya di sana (stasiun) sepi,” cerita Zajuli.
Hanya saja, di tempat jualan yang baru ini, waktunya tidak bisa lama, karena sejumlah counter dan toko di sisi belakang Zajuli berjualan pada pukul 09.00 WIB. Ia mendapat kesempatan untuk berjualan di bawah pukul 09.00 WIB.
Zajuli berupaya untuk selalu konsisten agar bisa selesai berjualan di bawah pukul 09.00 WIB. Beruntung, hampir setiap harinya, sekitar pukul 07.30 hingga pukul 08.00 WIB serabi Zajuli ludes dibeli para pelangggannya.
Dari usaha jualan serabi tersebut, dikatakan Zajuli pemasukan sehari tidak tentu. Hanya hari Sabtu dan Minggu saja yang lebih besar omsetnya. Kalau hari biasa, akunya, standar Rp300 ribu.
Rupanya pada sore hari, Zajuli juga berjualan serabi, tak jauh dari lokasi ia berjualan pada pagi hari. Zajuli buka sore hari pada pukul 15.30 hingga pukul 17.30 WIB.
Dikatakan Zajuli, pelanggan atau pembeli pada sore hari kebanyakan orang pulang kerja. Ia mengaku, nominalnya lebih besar saat ia berjualan sore hari, yang kecil sekitar Rp15.000. Sementara pelanggan pagi, disebutkan Zajuli, sepertinya hampir setiap hari datang. Pada hari Sabtu dan Minggu, kebanyakan orang beli untuk keluarga.
Untuk mengembangkan usahanya, Zajuli mengaku punya sebuah keinginan besar sejak lama mempunyai tempat atau kios sendiri. Hanya saja, katanya, belum mendapat tempat yang pas.
“Ke depan ingin punya kios, cuma belum dapat tempat yang pas. Sudah lama pengen banget. Kalau pas lagi tidak dagang sore, saya cari-cari tempat yang stategis,” pungkasnya.