PONOROGO – Sejumlah warga di Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, mengungsi ke masjid-masjid karena rumah mereka mulai terendam banjir akibat hujan yang mengguyur kawasan setempat, Selasa (28/11/2017).
Kepala Bidang Rehabilitasi dan Rekonstruksi BPBD Kabupaten Ponorogo Setyo Budiono menyebut, tim BPBD bersama sukarelawan telah mengevakuasi sekitar 10 kepala keluarga ke masjid terdekat. “Sampai malam ini (28/11/2017), sudah ada 10 kepala keluarga yang dievakuasi dan diungsikan ke masjid karena permukaan sungai masih terus naik dan dikhawatirkan membahayakan warga,” kata Budiono.
Warga yang sudah diungsikan yakni warga Desa Pengkol dan Kelurahan Paju Kecamatan Ponorogo diungsikan ke Masjid Agung. Sementara warga Desa Kalimalang, Kecamatan Kauman di ungsikan ke masjid Kauman. Kedua masjid tersebut menurut Budiono cukup luas untuk menampung warga yang terdampak banjir dan perlu mengungsi.
Menurut Budiono, petugas BPBD Ponorogo bersama sukarelawan hingga tengah malam masih terus melakukan pemantauan di sejumlah titik rawan banjir, yakni di Sungai Tempuran, Tatung, dan Sungai Keyang di Kelurahan Paju. “Kami belum merasa perlu mendirikan tenda bagi pengungsi korban banjir tersebut,” ucapnya.
Sementara itu BPBD DIY mencatat 579 kepala keluarga di daerah itu terdampak bencana tanah longsor, banjir, dan angin kencang akibat cuaca ekstrem yang dipicu fenomena siklon tropis cempaka.
Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DIY Krido Suprayitno saat ditemui di Kantor Pusdalop BPBD DIY, Selasa (28/11/2017) malam mengatakan, ratusan kepala keluarga (KK) terdampak bencana tersebut telah melakukan evakuasi secara mandiri di lokasi yang aman.
“Selain dibantu tim gabungan, mereka melakukan evakuasi secara mandiri di rumah-rumah tetangga yang lokasinya lebih aman,” kata Krido.
Dari 579 KK terdampak bencana yang tercatat di Pusdalop BPBD DIY, sebagian besar ada di Kabupaten Gunung Kidul mencapai 513 KK. Mereka mengungsi akibat bencana banjir. Kemudian disusul Kabupaten Bantul dengan 34 KK, dan Kota Yogyakarta dengan 32 KK.
Di Kota Yogyakarta, menurut dia, sebagian besar warga terdampak tinggal di bantaran sungai. Seperti di bantaran Sungai Winongo Yogyakarta, tepatnya di Kampung Jlagran, Pringgokusuman, Gedongtengen, Kota Yogyakarta, Selasa (28/11) siang, telah terjadi bencana longsor yang menimpa rumah warga. Dalam peristiwa itu dua korban ditemukan meninggal dunia dan satu korban masih dalam proses pencarian.
BPBD DIY, telah menyiapkan berbagai logistik yang diperlukan, di antaranya 144 paket buferstok, 120 paket makanan siap saji, 180 lauk pauk, dan 140 paket untuk pemenuhan gizi. “Sebanyak 70 paket makanan, 20 paket deklit, dan 20 paket seng sudah kami dorong sudah terdistribusi di kabupaten,” katanya.
Berdasarkan data BPBD DIY, cuaca ekstrem yang dipicu siklon tropis cempaka selama 2 hari mengakibatkan 114 titik bencana di lima kabupaten/kota di DIY. Dari 114 titik bencana itu, yang paling mendominasi adalah bencana angin kencang sebanyak 68 titik yang tersebar di Kabupaten Bantul yang teridentifikasi di 32 titik, Kulon Progo 12 titik, Gunung Kidul 28 titik, dan Kabupaten Sleman 12 titik.
Bencana banjir terdapat di 29 titik dengan jumlah dominan di Kabupaten Gunung Kidul yang mencapai 20 titik dan 9 titik lainnya tersebar merata di kabupaten lainnya. Selanjutnya, untuk bencana tanah longsor, Krido menyebutkan berdasarkan data terakhir terdapat di 44 titik, yakni di Bantul 20 titik, Kulon Progo 10 titik, Gunung Kidul 6 titik, Sleman 3 titik, dan Kota Yogyakarta 4 titik.
Akibat luasnya cakupan lokasi bencana tersebut, untuk mekanisme penanganannya, menurut Krido, telah dinaikkan ke Level II yang berarti akan melibatkan SKPD di lima kabupaten/kota. “Mengapa dari Level I kami naikkan ke Level II? Karena ini tidak bisa ditangani BPBD DIY sendiri,” pungkasnya. (Ant)